Ketika Pamanmu Menjadi Pengantin Pengganti

Ketika Pamanmu Menjadi Pengantin Pengganti
Pengumuman


__ADS_3

Pengumuman!!


Assalamualaikum warahmatullahi wabarakaatuh


Hay, semuanya. Sengaja othor datang lagi untuk nawarin kalian semua, nih. Othor bikin novel baru, loh. Kali ini gak kalah seru juga, masih tentang om-om duda. Ah, pokoknya duda terdepan, deh. Hehehe.


 


Judul: 30 Hari Bersama Om Duda


Kisah ini menceritakan tentang seorang gadis SMA, dirinya harus menuruti semua keinginan kedua orang tuanya. Sekolah di tempat elit, bertemu teman baru, dan bergaul dengan gaya orang kaya. Namun, semua justru tidak membuat Jerina bahagia. Tekanan serta desakan ayah dan ibunya, membuat gadis itu menderita. Menjadi pintar untuk mengendalikan perusahaan, Jerina menolak keras permintaan ayahnya. Dia hanya gadis bodoh yang lemot, tidak akan mungkin sanggup.


Di saat hari kelulusannya tiba, gadis itu memilih pergi dari rumah. Dia sangat takut dengan apa yang akan ayahnya lakukan, maka dengan itu Jerina membawa baju-baju dan kabur. Namun, pada akhirnya dia bingung harus kemana, sedangkan uang saja dia tak punya. Sampai akhirnya Jerina bertemu seseorang yang tidak asing—teman pamannya—Galen Ray Surendra.


 


Cuplikan bab 1


Matahari tak lagi tinggi, bias sinarnya mulai meredup. Seorang gadis berseragam SMA baru tiba di halaman rumah megah nan mewah. Genggaman pada tali tas semakin mengerat, bersamaan dengan helaan napas yang terdengar kasar.


 


Seharusnya jam pulang sekolah adalah hal paling membahagiakan bagi semua siswa dan siswi. Mereka akan bebas melakukan apa pun, tanpa harus berpikir keras untuk mengerjakan soal dari guru. Namun, itu tidak berlaku bagi seorang Jerina Kaise Jurda, gadis cantik nan anggun yang sering dipanggil Jerina.


 


Jam pulang sekolah adalah hal menakutkan baginya, sebab dia harus kembali ke rumah, dan menyerahkan hasil tugas di sekolah. Yang tentu saja nilainya membuat dia harus mendapat hukuman membersihkan kolam renang.


 


Dia tidak termasuk dalam daftar siswi pintar di sekolahnya itu. Bahkan dulu saat mendaftar sekolah, orang tuanya menyogok guru agar dia dapat masuk di sekolah terkenal itu. Apakah Jerina senang? Tentu saja tidak. Tempat asing, teman baru, dan orang-orang pintar yang sombong. Hidupnya terlalu tertekan karena itu.


 


Seperti sekarang, dia harus menguatkan hati agar tetap kokoh ketika Mamah mengomelinya nanti, pun siap raga untuk menerima hukuman baru setelah kemarin menyelesaikan hukuman dari Mamah.


 


“Kenapa lama sekali?” Mamah sudah menyambut kepulangan Jerina. Matanya terus menelisik gadis SMA itu, membuat sang empu langsung menundukkan kepala.


 


“Aku mencium aroma tidak sedap. Kau sengaja kembali lama, agar terhindar dari omelanku, ‘kan? Katakan, berapa nilai yang diberikan guru pada tugasmu?” cerca Mamah membuat Jerina semakin takut.


 


“Jerina Kaise Jurda!”


 


“Tiga puluh nilai Matematika, lima puluh nilai sosiologi,” jawab Jerina. Suaranya sangat pelan, bahkan nyaris tidak terdengar.

__ADS_1


 


Mata Jerina melotot saat ponsel kesayangannya hancur berlebur di lantai. Mamah menatap nyalang, napasnya menggebu-gebu dengan tangan saling terkepal.


 


“Gara-gara benda bodoh itu, kau jadi tidak fokus belajar!” tekan Mamah.


 


“Dengarkan aku baik-baik, Jerina. Sebentar lagi kau lulus, tapi nilaimu tetap saja sama seperti dulu. Apa kau tahu Papahmu sangat marah? Bagaimana bisa kau mengambil alih perusahaan kalau begini!” bentak Mamah. Kedua tangannya tidak henti-henti menggoyang bahu Jerina.


 


“Kau harus jadi pengusaha Jerina!”


 


“Tapi Jerin nggak suka, Mah. Jerin pengen jadi desainer,” jawab Jerina pelan.


 


“Yang menyekolahkanmu siapa? Tidak usah bermimpi jadi desainer, karena kau akan jadi pengusaha.”


 


“Kenapa nggak Miya saja, Mah? Bukannya dia sangat pintar,” usul Jerina. Berusaha bernegosiasi dengan Mamah, meskipun dia tahu hasilnya akan zonk.


 


 


Kenapa semua orang selalu saja begini? Tidak Papah, Mamah, kakek, semuanya sama. Yang ada diotak mereka hanya harta, harta, dan harta. Tidakkah mereka memikirkan perasaan Jerina, yang terus dipaksa hingga akhirnya membuat gadis itu sakit.


 


“Jerina tetap nggak bisa, Mah,” lirih Jerina. Dia menunduk dalam dengan mata terpejam, menanti kemurkaan Mamahnya.


 


“Iyem!” Teriakan Mamah menggema ke seluruh ruangan.


 


Wanita paruh baya yang dipanggil dengan sebutan Iyem, datang menghadap sang nyonya. Iyem sudah bisa menebak, perintah apa yang akan nyonyanya beri.


 


“Kurung Jerina di gudang. Jangan kasih makan atau minum. Cepat!”


 

__ADS_1


“Baik, Nya.”


 


Iyem memegang lengan Jerina, berusaha menarik agar gadis itu segera mengikuti langkahnya. Jerina terus memohon pada sang Mamah agar tidak dikurung di gudang yang banyak tikusnya.


 


“Mah, Jerina mohon jangan kurung Jerina!” teriak Jerina tetapi tidak dipedulikan.


 


Sungguh malang nasib Jerina, harus bermalam dengan tikus-tikus kecil. Gadis itu duduk memeluk lutut di sudut ruangan, menangis tersedu-sedu seraya memohon pertolongan pada Tuhan. Namun, dia sadar tidak akan ada yang menolongnya kecuali nenek. Sedangkan nenek sudah pergi dan tidak akan kembali.


 


Jerina sangat takut, hidupnya sungguh menyedihkan. Menjadi anak orang kaya tidak selamanya akan bahagia, karena semua juga tergantung bagaimana orang tuanya mendidik dia.


 


Sejak kecil Jerina diabaikan, kedua orang tuanya sibuk bekerja. Apalagi setelah adiknya lahir, kasih sayang mereka ter curahkan sempurna hanya untuk Miya. Tetapi semenjak kakek membuat keputusan akan menambah warisan jika anak pertama menjadi pengusaha, Papah dan Mamah jadi terus memaksa Jerina.


 


Jerina tahu, kakeknya sengaja seperti itu karena ingin mempermalukan dia, karena selalu kalah dengan cucu-cucunya yang lain.


 


“Jerina sakit, Mah, Pah,” lirih Jerina. Air matanya tidak mau berhenti mengalir.


**


Mampir, yuk, guys. Dijamin nggak kalah seru ceritanya, loh.


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2