
Hari pernikahan Vera dan Pandu tiba. Akad dan resepsi dilaksanakan di ballroom hotel ternama di Jakarta.
Dera bersama kedua anaknya menemani Vera di dalam kamar sampai ijab kabul selesai. Gadis itu banyak diam, Dera tahu pasti Vera sangat gugup.
“Main-main sama si kembar, gih. Biar nggak gugup lagi,” ucap Dera.
“Jantungku berdebar-debar, Der,” celetuk Vera yang langsung mengundang tawa Dera dan kedua baby sitter-nya.
Vera sudah dirias secantik mungkin. Gaun berwarna putih tulang dengan aksen mewah, sangat indah melekat ditubuhnya. Pun, dengan rambut Vera yang sudah ditata sedemikian rupa. Semakin menambah kecantikan gadis itu.
“Masih lama, Der?” tanya Vera yang sejak tadi tidak tenang.
“Sabar, sebentar lagi juga bakalan berubah statusnya,” jawab Dera.
“Ish, Dera! Malah meledek lagi. Nih, juga dua bocil. Seneng banget ngeledekin tantenya, ya.” Vera menggelitiki perut Zakira dan Zanira hingga membuat dua bocil itu tertawa.
Ketukan mengalihkan fokus semua orang yang berada di dalam kamar. Wajah Vera mendadak menegang, dia berpindah pegang pada lengan Dera.
“Bentar.” Dera berteriak. Melepaskan tangan Vera, lalu membuka pintu.
Ibunya berdiri di ambang pintu, wanita paruh baya itu tampak menahan tangis. Langsung menghampiri Vera dan memeluknya.
__ADS_1
“Akhirnya, Nak. Akhirnya kamu menjadi seorang istri,” seloroh ibu Hamidah disertai tangis bahagia.
Vera ikut menitikkan air mata, semakin mengeratkan pelukannya pada Hamidah. Melihat itu, Dera juga mendekat dan memeluk keduanya. Mereka menangis bersama.
“Anak-anak Ibu, dengarlah. Sekarang kalian adalah tanggung jawab suami kalian masing-masing. Ibu mohon, jadilah istri yang baik dan bijak. Hormati mereka, jangan membuat suami-suami kalian kecewa. Ibu percaya pada putri-putri Ibu,” pesan ibu Hamidah.
Keduanya mengangguk. “Paham, Bu.”
Lalu ibu dan Dera mengapit lengan Vera untuk dibawa ke ruangan yang sudah diubah menjadi tempat ijab kabul. Jantung Vera semakin berdebar hebat saat sudah memasuki ruangan. Seluruh pasang mata menatapnya dengan kagum.
MC meminta Pandu untuk menjemput istrinya. Pria itu mengangguk dan menghampiri Vera, mengulurkan tangannya pada gadis bak bidadari surga.
“Terima uluran tangannya, Vera,” bisik Dera gemas.
Dera semakin gemas melihat tingkah Vera. Akhirnya dengan senyum menggoda, Dera meletakkan tangan Vera di atas tangan Pandu. Pria itu langsung menggenggamnya, dan mengajak Vera untuk berjalan bersama.
“Kamu cantik, sangat cantik. Selamat datang istriku,” bisik Pandu dengan suara begitu lembut, membuat Vera semakin gugup parah.
Setelah acara sungkeman selesai, Vera dan Pandu naik ke atas pelaminan. Mereka menyambut tamu dan menyalami semua tamu yang naik ke atas pelaminan. Sedangkan Dera beserta suaminya disibukkan dengan memilih makanan.
“Mas mau nambah lagi, nggak?” tawar Dera pada Daren.
__ADS_1
“Ya ampun, Sayang. Tadi itu udah banyak banget, lho,” jawab Daren. Pria itu dengan gemas mencubit pipi istrinya.
“Hehehe. Kalau gitu aku aja, deh, yang nambah.” Dera kembali memilih makanan yang dia suka, dan menaruh ke piring yang dia pegang.
Lagi lagi Daren tertawa, merasa gemas sekali pada sosok Dera. Dia mendekat, menatap lama wajah cantik itu. Tiba-tiba Daren melabuhkan ciuman di pipi Dera, membuat sang empu menghentikan kegiatannya.
“Aku cinta kamu, Sayang,” ucap Daren.
“Ih, jangan gombalin aku terus, dong. Nanti aku nggak jadi makan,” kilah Dera. Padahal dia senang dan senyum-senyum.
“Iya, deh. Nggak lagi. Ya, sudah, kamu makan gih.”
“Makan berdua, mau?” tawar Dera sambil mengedipkan sebelah matanya.
“Dengan senang hati!”
Daren langsung mengatur duduknya agar bisa berdekatan dengan Dera. Wanita itu tertawa melihat tingkah sang suami, balik mencium Daren dengan gemas.
**
Boncapnya udah, ya. Dua bab aja. Soalnya othor nggak ada ide lagi.
__ADS_1