Ketika Pamanmu Menjadi Pengantin Pengganti

Ketika Pamanmu Menjadi Pengantin Pengganti
Season 2: 14


__ADS_3

Bolak balik di depan pintu kamar mandi, Zanira bingung dengan sikap Arfan. Pria itu tadi membentaknya. Selama mereka berteman dan menjadi sepasang suami-istri, baru kali ini Arfan membentaknya.


“Apa aku salah?” tanya Zanira pada dirinya sendiri.


Sudah mau satu jam Arfan berada di dalam kamar mandi, tetapi belum ada tanda-tanda akan keluar dari sana. Zanira semakin khawatir, dia takut terjadi sesuatu dengan Arfan di dalam sana.


Zanira mendekati pintu mandi, berniat untuk mengetuknya. Sekali, belum ada tanggapan dari dalam. Zanira mencoba mengetuknya kembali, benar-benar tidak ada tanggapan, dia pun semakin cemas.


“Arfan! Kamu di dalam?” teriak Zanira sambil menggedor pintu.


“Arfan!”


“Arfan, buka pintunya!” Terus dan terus Zanira berteriak.


Ceklek


Pintu kamar mandi terbuka, Arfan keluar dengan wajah yang lebih segar. Pria itu tidak menoleh ke arah Zanira, langsung berlalu memasuki ruang ganti.


Zanira menghela napas, hatinya sakit diperlakukan seperti itu. Tadi pagi hubungannya dengan Arfan baik-baik saja, tetapi sejak pria itu kembali sore tadi, semua jadi kacau seperti ini.


“Kamu kenapa, sih?”


“Arfan! Jawab aku!”


“Aku ganti, Nir. Kamu bisa menunggu kalau memang ingin bicara denganku,” sentak Arfan.


“Nggak bisa. Masalah ini harus kita selesaikan dengan cepat.” Zanira tidak mau kalah.


“Masalah apa? Aku merasa tidak punya masalah denganmu.”


Zanira memutar bola matanya, malas. Gadis itu beralih ke meja kecil di sebelah ranjang. Tanpa ba bi bu, dia langsung mengambil ponsel Arfan yang tergeletak di sana.


“Apa karena ada perempuan lain, makanya kamu gini ke aku?” Zanira memperlihatkan ponsel Arfan pada pria itu.


“Kamu apa-apaan, sih. Kembalikan ponselku,” pinta Arfan.

__ADS_1


“Nggak. Aku akan simpan ponsel kamu.”


“Zanira! Jangan kekanak-kanakan!” tegas Arfan.


Tidak peduli, Zanira memilih keluar dari kamar dengan membawa ponsel Arfan. Gadis itu memilih masuk ke dalam kamar tamu rumah orang tuanya, mengunci dan berniat memeriksa ponsel Arfan.


Dia tahu kunci pria itu, karena pernah melihat saat Arfan membukanya.


Baru saja akan mencari aplikasi WhatsApp, sebuah pesan masuk lebih dulu. Zanira menyentuh dadanya, berdenyut nyeri.


Zakira❤️


[Jangan pernah temui aku lagi. Aku tidak mau, perbuatanmu menyakiti adikku.]


“Apa maksud Kakak? Ada hubungan apa mereka?”


🌾🌾🌾


Huff...


“Semoga kamu segera sadar.”


Zanira pergi ke dapur untuk membantu nenek. Sekalian nanti dia ingin jalan-jalan keliling kompleks.


“Nenek udah selesai?” tanya Zakira saat melihat banyak makanan di meja.


“Udah, sayang,” balas nenek seraya melebarkan senyumannya.


“Padahal Zakira berniat ingin membantu.”


“Ya, sudah, sih. Mending kamu istirahat saja sana, kan, baru pulang juga,” ucap nenek.


“Zakira mau jalan-jalan aja, Nek.”


“Ya, sudah, hati-hati.”

__ADS_1


Baru sampai di halaman rumah, Zakira sudah dibuat malas dengan wajah datar nan dingin milik Alden. Pria itu menatapnya, dengan sorot mata seperti biasa. Zakira langsung buang muka, seolah tidak melihat pria itu.


“Pagi, siang, sore, dan malam. Gitu-gitu mulu ekspresi dia. Nggak bosan apa,” gerutu Zakira sambil mempercepat langkahnya.


🌾🌾🌾


Sejak kembali dari jalan-jalan sore tadi, perasaan Zakira mendadak tidak karuan. Gadis itu berguling ke samping, menatap pintu balkon dengan dada berdebar-debar. Ada apa sebenarnya?


Tring


Zakira segera bangun ketika mendengar dering ponsel, gadis itu membuka pesan yang masuk. Dari ayahnya ternyata.


Ayah❤️


[Nak, segera lah datang ke rumah. Sekalian bawa nenek.]


Zakira semakin merasa ada yang tidak beres. Dengan cepat dia keluar dari kamar, mencari keberadaan neneknya.


“Kenapa pesan Ayah seperti ada sesuatu? Kumohon ya Tuhan, lindungilah keluargaku.”


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2