
“Sayang, seharusnya kamu beritahu mereka, bahwa kamu calon istriku,” kata Alden sambil menatap Zakira.
Sedangkan yang ditatap, mendadak linglung. Zanira langsung tersadar dan kembali menunduk, membuat Alden semakin gemas.
“Selamat malam, Pak Daren,” sapa Alden ramah.
“Malam, Alden,” balas Daren.
Meski masih bingung, Daren tetap membalas dengan ramah dan sopan. Dia sungguh tidak tahu bahwa sopirnya adalah seorang direktur terkenal. Memang selama ini Alden tidak menunjukkan wajahnya di media, hanya orang-orang tertentu yang tahu dirinya.
Mamah dan papah Arfan tidak bisa berkata-kata lagi, mereka bungkam dengan kepala tertunduk. Ada rasa takut, apalagi mengingat perusahaan mereka bekerja sama dengan perusahaan milik Alden.
“Jadi, apa masalah ini akan dilanjut? Saya akan memberikan bukti, bahwa calon istri saya tidak bersalah.” Alden kembali buka suara.
“Tidak, Tuan. Semua sudah jelas, memang bukan Nak Zakira yang salah, tetapi Arfan.”
“Baiklah. Dan Anda tidak perlu lagi menuduh Zakira.”
Mamah Arfan mengangguk patuh. “Iya, Tuan.”
Zanira meremas kedua tangannya, merasa bersalah karena telah menuduh kakaknya. Sekarang dia bingung harus berbuat apa, dirinya benar-benar malu.
Kedua orang tua Arfan pamit pulang, kini tinggal keluarga Zakira saja. Ayah Daren meminta Alden untuk duduk, mereka perlu bicara serius.
“Kak ....” Zanira menghentikan ucapannya, kepalanya kembali tertunduk.
“Kakak sudah memaafkan kamu, Dek. Kakak mengerti perasaan kamu,” ucap Zakira seraya mengembangkan senyumnya.
“Aku ... aku malu,” cicit Zanira.
Zakira menggeleng, berpindah duduk di dekat Zanira. Dia mengusap punggung adiknya itu, sambil tersenyum.
“Apa yang kamu lakukan sudah benar. Kamu hanya ingin mempertahankan rumah tangga kamu, Kakak mengerti itu.” Zakira menjeda ucapannya. “Sejatinya Kakak tidak ada niatan untuk merebut Arfan. Jujur, Kakak memang mencintainya, tapi itu dulu. Sekarang, Kakak sudah melupakan itu semua. Jadi, berbahagialah.”
__ADS_1
Zanira segera memeluk Zakira erat, air matanya tumpah karena rasa bersalah yang terus bersemayam di dada. Dia merasa terlalu gegabah, padahal dia bisa bertanya baik-baik tanpa harus melibatkan orang lain.
“Maafkan Bunda juga, Kak. Sudah diam saja tanpa mau membelamu.” Dera ikut memeluk Zakira.
“Bunda tetap yang terbaik.”
Setelah puas berpelukan, mereka kembali duduk di tempat masing-masing. Daren berdehem, pandangannya jadi beralih pada Alden.
“Ayah tidak tahu, kalau kalian ternyata memiliki hubungan yang serius. Ayah pikir Zakira tidak mengenalmu, ternyata malah sudah menjadi kekasih,” ucap Daren.
Zakira ingin buka suara, tapi keduluan Alden.
“Belum lama, Pak. Tapi saya benar-benar ingin serius dengan Zanira,” jawab Alden.
“Saya merasa senang. Tidak baik menjalin hubungan terlalu lama, ada baiknya langsung dihalalin saja.”
“Semua keputusan ada di Zakira. Saya akan segera melamarnya, jika dia menginginkan,” kata Alden.
Sampai di teras, Zakira melepaskan tangannya pada Alden. Gadis itu melotot, membuat sang empu tertawa kecil.
“Tidak ada yang lucu!” protes Zakira.
“Wajahmu lucu.”
“Alden!”
“Kenapa?”
“Jangan ngeledek,” cicit Zakira.
Alden tersenyum, sebelah tangannya terangkat mengusap puncak kepala Zakira.
“Kamu tidak cocok menjadi gadis yang jutek. Tersenyumlah, wajahmu terlalu kalem,” ujar Alden dengan senyum mengejek.
__ADS_1
Sabar, sabar. Zakira terus mengucap kata itu dalam hati. Alden memang tidak bisa ditebak, sikapnya berubah-ubah.
“Maksud kamu apa?” tanya Zakira.
“Maksud yang mana?” Alden balik bertanya.
“Melamarku?”
“Tidak ada maksud lain, selain memang ingin melamarmu. Kedua orang tuamu tampaknya juga setuju,” jawab Alden santai.
“Tapi kita tidak kenal, Alden. Kita hanya sebatas majikan dan sopir.”
“Ya sudah ayo kenalan. Namaku Alden.”
Astaga. Kenapa harus ada spesies macam Alden ini? Zakira memijat kepalanya pelan, dengkusan napas gadis itu terdengar jelas.
“Sebaiknya jujur saja dengan kedua orang tuaku, bahwa kita tidak ada hubungan apa pun,” pinta Zakira.
“Tidak mau.”
“Alden, aku mohon. Aku tidak ingin membohongi Ayah dan Bunda.”
“Aku bukan tipe pria yang mengambil keputusan tanpa memikirkannya dulu. Aku benar-benar ingin melamarmu,” tegas Alden.
Zakira bungkam. Dia berusaha mengabaikan Alden, dengan niat ingin pergi dari sana. Namun, langkahnya tertahan karena Alden mencengkal pergelangan tangannya.
“Kamu berhutang padaku.”
“Katakan apa maumu, aku akan memberikannya sebagai balas budi,” kata Zakira.
“Menikah denganku. Hanya itu, dan kamu tidak boleh menolaknya.”
__ADS_1