
“Aku sudah sampai di lobi hotel. Kamu di kamar nomor berapa, aku ke sana.”
“Aku yang akan turun, Mas.”
Pandu mendesah kasar saat panggilan diputuskan secara sepihak oleh Vera. Dia sudah sangat khawatir bahkan sangat-sangat takut terjadi sesuatu dengan gadis itu. Pandu berdiri di lobi dengan tak tenang, mondar-mandir demi menunggu Vera turun.
Satu menit
Dua menit
Lima menit
Gadis itu belum terlihat juga. Pandu ingin menyusul tetapi tidak tahu di kamar mana Vera berada. Dia hanya bisa berdoa, semoga Vera sampai dengan wujud yang baik-baik saja.
“Maaf, aku lama, ya.”
Pandu langsung berbalik, menatap Vera yang kini berdiri di depannya. Gadis itu memegang satu koper, bibirnya tersungging, tetapi Pandu tetap bisa melihat mata bengap dan hidung merah. Tanpa mau bertanya lebih dulu, Pandu meraih koper Vera dan mengajak gadis itu untuk pergi.
“Kita langsung pulang atau kamu mau ke mana dulu gitu?” tanya Pandu.
“Pulang aja,” jawab Vera.
Keduanya berjalan beriringan menuju mobil yang terparkir. Pandu langsung membukakan pintu ketika sampai, meminta Vera untuk masuk. Lalu dirinya juga masuk di balik kemudi dan melajukan roda empat itu.
__ADS_1
Tidak ada obrolan yang tercipta, keduanya saling bungkam dengan pikiran masing-masing. Vera terus menatap luar jendela, matanya kembali panas dan air mata mulai menerobos keluar. Sesenggukan kecil yang keluar dari bibir Vera, mengalihkan pandangan Pandu sejenak. Pria itu terkejut saat melihat bahu Vera naik turun.
Niatnya Pandu ingin menepikan mobil, tetapi malam semakin larut. Akhirnya dia memilih membiarkan Vera yang masih menangis, dan tetap mengemudi mobil agar segera sampai di Jakarta.
“Jangan sungkan, aku tidak akan mengganggumu. Keluarkan segala beban yang sedang kamu pikul, Ver.”
**
Pagi yang cerah ini, Dera bersama Daren membawa baby kembar untuk berjemur. Keduanya sangat bahagia ketika melihat anak-anak mereka menggeliat kecil. Baby Zakira dalam dekapan sang ayah, merengek dan berakhir menangis.
“Hayo ... Ayah apain, tuh, Kakak sampai nangis begitu,” tuding Dera.
“Nggak diapa-apain, Bunda. Kakak aja nih lagi manja sama Ayah,” jawab Daren.
“Haus nih kaya’nya, Bun,” ujar Daren.
“Masa sih? Atau Ayah nggak bisa nenangin dia kali,” celetuk Dera.
“Astaga! Bunda suuzan terus sama Ayah, Nak.”
Dera tertawa. Lalu dia meminta Zakira dan memberikan Zanira pada Daren. Keduanya saling bekerja sama, mengurus baby-baby mereka agar tumbuh dengan baik. Daren tidak mau membuat Dera merasakan kesulitan sendiri, dia harus siap siaga untuk membantu istrinya. Meskipun kadang pekerjaan menyita waktu bersama keluarga.
**
__ADS_1
“Laki-laki yang baik, tidak akan pernah mempermainkan hati wanita. Begitu pun sebaliknya.”
Vera sudah menceritakan semua pada Hamidah. Dirinya tetap menangis saat mengingat kejadian kemarin, di mana dia melihat dengan mata kepala sendiri, bahwa Befan memang telah memiliki tunangan.
“Bangkit, Sayang. Tante hanya bisa mendukung kamu. Pokoknya yang terbaik buat kamu,” sambung Hamidah. Vera mengangguk.
“Tidak adakah sosok pria yang datang ke rumah ini, lalu memintaku pada Tante? Aku sudah lelah sakit hati melulu, pengen yang pasti aja,” celetuk Vera.
“Serius, tuh? Entar diajak menikah, malah nggak mau dan berakhir sakit hati lagi.”
“Idih, Tante. Apaan, sih. Orang aku cuma sedih aja, lagian Pak Befan juga bukan siapa-siapaku. Jadi nggak akan lama sedihnya.”
“Iya, deh. Sebenarnya sudah ada loh laki-laki yang datang ke sini dan meminta kamu pada Tante. Cuma karena waktu itu kamu lagi sibuk kuliah, jadi Tante belum cerita,” papar Hamidah.
“Serius, Tante? Kok, berani banget laki-laki itu padahal kami belum kenal,” ujar Vera. “Tapi Tante terima nggak?”
“Nggak. Malah Tante suruh pulang.”
“Kok, gitu?”
Hamidah menghembuskan napasnya kasar. “Meskipun Tante sudah menjadi pengganti orang tua kamu, Tante tetap tidak bisa mengambil keputusan tanpa adanya persetujuan kamu. Diri kamu adalah milik kamu, dan hidup kamu juga kamu yang menjalani. Jadi kamu lebih tau mana yang baik dan tidak untuk kamu sendiri.”
**
__ADS_1
Detik-detik menuju ending. Pokoknya bab ending jangan ditunggu, muncul gitu aja.