
Daren datang menjemput Dera. Pria itu terus mengembangkan senyumnya ketika melihat sang istri menghampiri. Tidak lupa memberikan kecupan singkat, setelah itu mengajak Dera untuk masuk ke dalam mobil.
Sang empu berusaha untuk baik-baik saja, meski pada dasarnya dia sangat lemas, moodnya hancur karena masalah tadi siang. Namun, Dera tidak ingin membuat Daren curiga.
“Kamu lapar?” tanya Daren. Melirik sekilas lalu kembali fokus pada kemudi.
“Tidak. Sebaiknya langsung pulang saja, Mas. Aku sangat lelah dan ingin segera mandi,” pinta Dera.
“Baiklah.”
Sehebat apa pun Dera menyembunyikan semuanya, Daren bisa mencium kejanggalan di sini. Wajah Dera memang selalu tersenyum saat menjawab, tetapi mata wanitanya tidak bisa berbohong. Daren melihat kekecewaan di sana.
Sesampainya di rumah, Dera langsung masuk ke kamar dan menaruh semua barang yang dia bawa ke tempat semula. Setelah itu, barulah Dera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri sekali berendam sebentar.
Daren sendiri memilih menemui sang mertua di dapur, melihat ibu tengah membuat makanan untuk makan malam. Daren duduk di kursi makan, mengambil gelas dan menuang minum. Dia menghabiskan air mineral dalam sekali tenggak.
“Sudah lapar, Nak?” tanya Hamidah ketika melihat Daren di sana.
“Tidak, Bu. Saya hanya haus, makanya ke dapur,” jawab Daren. Senyumnya yang manis tidak pernah luntur ketika membalas jawaban orang terdekatnya.
“Di mana Dera? Kenapa belum menemui Ibu? Biasanya dia selalu menemui Ibu lebih dulu,” cerca Hamidah.
“Katanya dia lelah, Bu. Makanya masuk kamar lebih dulu untuk istirahat,” sahut Daren.
“Baiklah. Dia pasti memang sangat lelah.”
Lalu, tidak ada percakapan lagi antara Hamidah dan Daren. Keduanya sibuk dengan isi kepala masing-masing. Setelah puas membasahi kerongkongan, Daren beranjak untuk menyusul Dera.
“Sudah tidur ternyata. Kaya’nya kamu memang sangat kelelahan.” Daren duduk di tepi ranjang, memerhatikan wajah damai Dera saat tidur.
__ADS_1
Entah apa yang di sembunyikan gadis itu, Daren tidak tahu. Tapi yang jelas, dia tidak akan bertanya pada Dera karena pasti sang istri tak mau memberi tahu. Daren tersenyum, saat mendapat ide yang dia tunggu-tunggu.
**
“Huek.”
Tergesa-gesa Dera masuk ke kamar mandi. Dia berdiri di depan westafel dengan mulut terus berusaha memuntahkan isi perutnya. Kepala Dera pusing, tubuhnya lemas dan perutnya seperti diaduk-aduk.
“Huek.”
Tenaganya hampir habis untuk memuntahkan isi perutnya itu, tetapi yang keluar hanya cairan berwarna putih.
“Kamu sakit?” Daren datang dan langsung memijat tengkuk istrinya.
Awalnya dia sedang tidur, tetapi langsung bangun saat mendengar suara orang muntah. Melihat ke sisinya, Dera tidak ada, makanya Daren berpikir bahwa yang muntah adalah Dera.
“Ayo ke rumah sakit,” ajak Daren yang langsung mendapat gelengan dari Dera.
“Kalau lebih dari itu? Aku sangat khawatir padamu, Der.” Daren membelai lembut rambut Dera, membuat sang empu memejamkan matanya.
“Nggak akan, Mas. Mungkin hanya masuk angin karena aku melupakan makan siang dan malam.” Dera berusaha meyakinkan Daren, agar suaminya tak meminta dia ke rumah sakit.
“Kamu berbohong? Ketika ditelepon kamu bilang sudah makan, ternyata belum.”
Nada suara Daren penuh kekecewaan, membuat Dera merasa bersalah. Mulutnya memang tidak bisa diajak kompromi, malah memberitahu pria itu tentang makan siang.
“Bukan begitu, Mas. Hanya saja aku ....”
“Cepat keluar jika sudah selesai. Aku akan membuatkanmu minuman hangat,” ucap Daren yang malah seperti perintah.
__ADS_1
Dera mengangguk lemah. Ikut keluar setelah Daren keluar. Dia tahu suaminya pasti kecewa dengannya, tetapi Dera tak bisa berbuat apa-apa sekarang. Tubuhnya ini terlalu lemah dan kepalanya semakin pusing.
Dia menarik selimut agar menutupi tubuhnya sebatas dada. Mata Dera terasa berat, dia mengantuk padahal kemarin malam tidur cepat.
“Minum dulu teh hangatnya, setelah itu baru makan bubur ini,” pinta Daren yang datang membawa nampan berisi semangkuk bubur dan segelas teh hangat.
“Mulutku pahit, Mas. Tidak selera menelan sesuatu,” keluh Dera.
“Setidaknya minum teh ini sedikit saja, agar perutmu hangat.”
“Baiklah.” Dera menurut, meminum teh hangat itu sedikit demi sedikit.
“Sekarang coba makan buburnya.”
Sepertinya percuma saja Dera menolak, Daren terus menekan dia untuk membuka mulut dan menerima suapan bubur. Rasanya ikutan pahit, akibat mulut Dera yang pahit.
“Udah, Mas. Rasanya aku ingin muntah.”
“Ya, sudah. Minum tehnya lagi, setelah itu baru istirahat.”
Seharian penuh Daren menjaga Dera, membantu istrinya ketika ingin muntah. Dia tidak masuk kerja hari ini, rasa khawatir pada Dera lebih mendominasi, membuat Daren ingin terus berada di sisinya.
Sungguh Dera bersyukur, memiliki Daren yang baik dan sangat perhatian padanya. Pria itu tidak jijik ketika dia muntah di lantai, malah dengan cekatan membersihkannya.
Saat Dera bertanya kenapa tidak jijik, Daren hanya menjawab sekenanya, “Istriku sedang sakit. Perutnya seperti diaduk-aduk makanya ingin terus muntah. Dan kenapa aku harus jijik ketika istriku memuntahkan isi perutnya? Sangat aneh jika jijik dengan orang sakit.”
Dan Dera langsung memeluk Daren karena terharu.
**
__ADS_1
Othor mau minta bantuan sama kalian ya baik. Bantu like chatstory othor ya. Soalnya othor lagi ikut lomba. Terima kasih orang baik.