Ketika Pamanmu Menjadi Pengantin Pengganti

Ketika Pamanmu Menjadi Pengantin Pengganti
Bab 33. Tidak ada Alasan untuk tak Mencintainya


__ADS_3

Ibu sudah bangun dari tidur, wanita paruh baya itu meminta Dera untuk memanggil Daren. Mengangguk patuh, Dera berjalan keluar dari kamar ibu menuju kamarnya.


Sesampainya di kamar, Dera melihat Daren sudah siap dengan pakaian kantor. Pria itu mengulas senyum melihat istrinya masuk, lalu berjalan mendekati.


“Ibu minta Om buat datang ke kamar Ibu,” ucap Dera. Daren mengangguk patuh.


“Baiklah. Sebentar lagi aku bakalan ke sana,” jawab Daren.


Dera berniat ingin kembali keluar, tetapi Daren mencengkram pergelangan tangan sang istri. Membuat Dera menghentikan langkah, menatap Daren dengan bingung.


“Bukan seharusnya panggil Om, diganti dengan yang lain?”


“Maksudnya?” tanya Dera bingung.


“Saya tahu kalau saya ini lebih tua dari kamu, tetapi bisa tidak kamu merubah panggilan. Saya tahu, mungkin panggilan ‘om’ memang lebih cocok untuk saya,” ujar Daren. Menatap dalam manik mata istrinya.


Dera bungkam. Merasa bersalah melihat tatapan Daren, dengan senyum terpaksa, Dera memegang lengan Daren.


“A-aku akan panggil Om dengan sebutan ‘Mas’,” cicit Dera, menunduk sambil memilin kedua tangan yang sudah terlepas dari lengan Daren.


“Lumayan. Terima kasih, ya?”


Jantung berdebar kencang, darah Dera mendadak berdesir saat bibir hangat menempel sebentar di kening Dera. Matanya mengerjap berulang kali, menatap tak percaya pada tubuh Daren yang sudah menjauh.


Perasaan apa ini?

__ADS_1


**


“Ibu bahagia melihat kamu ada di sini. Oh, ya, kamu udah sarapan belum, Nak?” tanya ibu sambil memegang tangan Daren.


“Sudah, Bu. Ibu sudah makan?” Daren balik bertanya. Tak sedetik pun dia mengalihkan pandangan dari ibu Hamidah.


“Sudah. Dera yang menyuapi Ibu tadi.”


Ibu Hamidah terus menatap wajah Daren, beberapa kali dia mengusap rahang yang ditumbuhi bulu halus itu dengan lembut. Hamidah bahagia, prasangka buruk tentang Daren sudah terbuang jauh. Sekarang dia sangat bersyukur, karena putrinya berada dalam dekapan seorang Daren.


“Ibu sudah, Mas Daren mau berangkat kerja.” Dera yang sejak tadi hanya diam, membuka suara.


“Nggak apa, Der. Saya ... emm, aku berangkat sepuluh menit lagi,” potong Daren.


“Kamu ini tidak rela, ya, kalau Ibu berduaan sama Daren?” goda ibu. Dera melotot mendengarnya.


“Hayo ... ngaku saja cemburu.”


Dera membuang wajahnya, wajahnya terasa panas mendengar godaan ibunya itu. Daren yang melihat, tersenyum geli. Sedangkan ibu masih terus menoel-noel tangan Dera, berusaha menggoda kembali.


“Ibu, sudah ...,” lirih Dera dengan kepala tertunduk.


“Hahaha.”


Mendengar tawa ibu, Dera merasa sangat bahagia. Tidak pernah ibu tertawa lepas seperti ini, dan hanya karena seorang ‘Daren’ ibu tertawa bahagia. Mungkin tak ada alasan buat Dera membenci Daren. Seperti kata ibu, dia harus berusaha membuka hati untuk suami dadakannya itu. Apalagi mengingat malam panas mereka, Dera merasa amat malu.

__ADS_1


“Kamu kenapa senyum-senyum, Der?” Teguran ibu membuat Dera kaget. Sontak matanya mengerjap pelan.


“Emm, Dera izin ke dapur mau beres-beres,” pamit Dera. Secepat kilat dia sudah berlari meninggalkan Daren dan ibu.


Di dalam kamar, Daren masih tertawa lepas mendengar cerita tentang Dera kecil. Ibu sangat ceria ketika berucap, apalagi melihat tanggapan Daren.


“Berarti waktu kecil, Dera bandel banget, ya, Bu?” tanya Daren sambil menahan senyumnya.


“Cerewet juga. Sampai-sampai temannya tidak mau lagi bermain dengan Dera,” jawab ibu.


“Astaga. Kasihan sekali Dera. Pasti dia sedih.”


“Benar, Nak. Dera sampai menangis guling-guling karena tidak memiliki teman.” Daren dan ibu tertawa bersamaan.


Daren melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangan, dia mengerjap sebelum bangkit dari duduk.


“Daren berangkat kerja dulu, ya, Bu. Daren janji, langsung ke sini nanti sepulang kerja,” ucap Daren sambil mengecup punggung tangan ibu.


“Kamu hati-hati di jalan, Nak. Jangan mengebut!” ingati ibu. Daren mengangguk patuh.


Keduanya tidak tahu, kalau ada sepasang mata yang tengah memperhatikan mereka. Sudut mata Dera berair, segera dia mengusap dengan ujung baju yang dia pakai.


Tidak ada alasan untuk aku menolak mencintai Om Daren sekarang. Kalau semua hal kecil yang dia lakukan, bisa membuat ibu bahagia.


 **

__ADS_1


Terima kasih dukungannya. Saya akan balas komen kalau sudah ada waktu luang. Terima kasih sekali lagi ☺️


 


__ADS_2