
Merasa mantap baik-baik saja, Dera meminta pulang ke rumah ibu. Sejak di perjalanan, Dera begitu manja pada Daren. Tidak ingin jauh dari pria itu, bahkan selalu memegang lengan Daren meski sang empu menyetir.
“Bu, mau tambah bening bayamnya,” pinta Dera sambil mengangkat piring persis anak kecil.
“Baik, Nak. Agak lebih dekatkan lagi piringmu.”
Nafsu makan Dera mulai membaik dan Daren bahagia melihatnya. Dia yang melihat Dera begitu nafsu pada ayam goreng dan bening bayam, langsung memberikan miliknya pada wanita itu.
“Mas?” tanya Dera seraya menatap wajah sang suami.
“Udah kenyang. Itu buat kamu aja, belum Mas sentuh, kok,” ujar Daren. Dera mengangguk.
Vera ikut tersenyum bahagia melihat sang sepupu, jarang sekali Dera makan sebanyak itu karena sejak dulu selalu menjaga pola makan demi tubuh yang selalu terjaga.
Tentang Pandu, Dera dan Daren belum berniat menceritakan pada ibu. Mereka hanya tidak ingin membuat Hamidah khawatir, makanya Dera sengaja merahasiakannya.
Selesai makan malam bersama, Dera dan Daren pamit ke kamar. Keduanya sangat lelah, memilih untuk langsung tidur.
“Mas, makasih, ya,” ucap Dera sambil menatap dalam manik mata Dera.
Posisi keduanya tidur menyamping saling berhadapan.
“Untuk apa, Sayang? Hmm,” balas Daren seraya mengucap hidung mancung Dera.
“Semuanya. Terutama untuk waktu yang selalu ada untukku.”
__ADS_1
“Sama-sama, Sayangku,” jawab Daren. Tak lupa dia membubuhkan kecupan singkat di kening Dera.
Suasana kembali senyap karena keduanya sama-sama diam, memandang satu sama lain dengan sorot penuh cinta. Bagai bunga mawar yang baru mekar, Dera merasa amat penuh cinta malam ini. Dia merapatkan diri pada Daren, menghirup dalam-dalam aroma tubuh yang menguar.
“Mas juga mau bilang makasih sama kamu.” Daren buka suara.
“Untuk? Perasaan aku tidak pernah baik selama ini, selalu menganggap Mas tidak ada,” tukas Dera dengan kepala tertunduk, sendu.
Dibelai rambut hitam nan lembut, dihirup aroma shampo yang langsung membawanya ke awang-awang penuh dengan kasih sayang. Tanpa muak, Daren terus mengecup puncak kepala istrinya.
“Kamu yang terbaik. Terima kasih sudah mau mengandung anakku, menjadi istri yang begitu istimewa di hidup ini. Dan ... terima kasih untuk pengalaman yang telah kamu beri. Aku mencintaimu, Dera. Sungguh, aku sangat sangat mencintaimu.”
Air mata tak terbendung lagi, keduanya lalu berpelukan tanpa kata, hanya air mata yang bisa mengungkapkan perasaan masing-masing. Mungkin ini bukan pengakuan pertama Daren, tetapi selalu membuat Dera berdebar dan terus ingin mencintai prianya.
“Miss you, Ayah,” ungkap Dera.
**
Empat bulan sudah usia kandungan Dera. Minggu depan mereka akan mengadakan acara syukuran untuk dedek di dalam perut. Daren semakin posesif dengan aktivitas Dera, meminta agar gadis itu melakukan hal-hal yang ringan saja.
Mereka tidak lagi tinggal di rumah ibu, melainkan sudah kembali ke rumah sendiri. Karena kandungan Dera semakin besar, ibu sudah tak mengizinkan putrinya untuk mengurus butik. Beliau yang mengambil alih kembali.
Selesai mengantar Daren, seperti biasa Dera langsung menonton TV di ruang utama. Ditemani salad buah yang baru dibuatkan pelayan, sesuai dengan permintaannya.
**
__ADS_1
Keramaian menjadi objek pertama bagi gadis yang baru saja menginjakkan kaki di lantai mal. Hilir mudik orang sudah seperti mobil di jalanan, begitu pun riuh para anak yang tampak begitu gembira dan senang.
Mengingat pesanan sang bibi, gadis itu kembali melangkah cepat menuju tempat buah-buahan berada. Vera mendesah kecil ketika lelah kembali menyergap, tetapi harus dia tepis demi membeli apa yang bibinya mau.
Karena tergesa-gesa saat berjalan, dia sampai tidak sengaja menabrak seseorang menyebabkan orang itu meringis kecil.
“Maaf, maaf, Mas. Saya tidak sengaja,” kata Vera sambil mengatupkan kedua tangannya.
“Vera?”
Mendengar namanya disebut, Vera langsung mendongakkan kepala. Seketika raut terkejut begitu kentara di wajah, jantung mendadak berdebar kencang.
“Mas Pandu ...?”
“Iya, aku Pandu. Kamu apa kabar?”
“Baik,” cicit Vera. Sejujurnya dia sudah amat takut dengan sosok Pandu.
“Jangan tegang begitu, aku tidak akan menyakiti kamu. Sungguh!”
Entahlah, perasaan Vera sungguh tak menentu. Wajah Pandu membuatnya takut sekaligus benci. Tunggu. Vera baru menyadari bahwa Dera tidak memberi tahunya, jika Pandu kembali?
Apa iya Dera tahu kalau Pandu kembali?
**
__ADS_1
Hadiah dan votenya guys.