Ketika Pamanmu Menjadi Pengantin Pengganti

Ketika Pamanmu Menjadi Pengantin Pengganti
Season 2: 35


__ADS_3

Kedatangan Alden disambut pelukan hangat yang sudah dia rindukan selama dua Minggu ini. Harum yang menguar dari tubuh Zakira, pun masih mampu memabukkan Alden. Dikecupnya berulang kali puncak kepala sang istri, Alden membalas pelukan itu tak kalah erat.


“Rindu?” Alden bertanya sembari mengusap rambut Zakira.


Zakira tersenyum malu-malu, lalu mengangguk kecil.


“Jangan begitu, aku tidak tahan,” ujar Alden.


“Tidak tahan apa?” Zakira menatap bingung Alden.


“Tidak tahan ingin menggigit pipimu dan menciumi seluruh wajahmu,” jawab Alden. Zakira semakin menunduk karena malu.


Melihat itu Alden terkekeh, lalu mengambil alih koper dalam genggaman Zakira. Dia memasukkan koper tersebut ke dalam bagasi mobil.


“Ayo naik,” ajak Alden.


“Nggak pamit sama Ayah dulu?” tanya Zakira sambil melihat ke dalam. Pintu utama rumah Hander memang terbuka, pria itu sengaja membukanya agar bisa melihat interaksi putra dan sang menantu.


“Tidak perlu. Dia juga pasti tahu, bahwa kamu sudah pergi,” kata Alden.


“Tapi—“


“Ayo, Zakira. Mamah juga rindu berat sama kamu.”


Alden menarik tangan Zakira agar perempuan itu mengikuti langkahnya. Dia membuka pintu samping kemudi, lalu meminta Zakira untuk masuk. Setelah itu giliran dia yang masuk di balik kemudi. Zakira memang belum memberi tahu Alden bahwa misinya berhasil, perempuan itu sengaja merahasiakannya dan akan memberi kejutan. Selama dia tinggal di rumah Hander, Alden jarang berkunjung karena harus ke luar kota untuk menyelesaikan pekerjaan. Dan itu keberuntungan untuk Zakira, agar semua rahasianya tidak terbongkar.


“Apa pun yang terjadi, mau kamu kalah atau menang, kamu tetap akan menjadi istriku,” papar Alden. Sebelah tangannya menggenggam erat jemari Zakira.


“Tapi, kan, semua ada konsekuensinya,” imbuh Zakira.


“Jangan bilang kamu kalah, Sayang?” Alden menatap dalam Zakira, tetapi hanya sebentar karena dia harus fokus mengemudi.


“Hehehe.”


“Tapi aku nggak yakin, sih, kalau Rasan yang menang. Soalnya aku tahu banget gimana dia,” celetuk Alden.


“Iya, deh, yang tau banget itu,” sindir Zakira.


“Hahaha, kamu lucu kalau lagi cemburu.”


“Siapa juga yang cemburu, nggak ada, tuh,” cetus Zakira.


Alden segera menepikan mobilnya, dia juga membuka sabuk pengaman agar bisa bergerak dengan nyaman. Tatapannya beralih pada Zakira, perempuan itu terus menatap luar jendela, membuat Alden terkekeh.


“Udah ngambeknya, hadap sini, yuk,” pinta Alden.


“Apaan, sih, kamu. Orang nggak ada yang ngambek, kok,” sahut Zakira.


“Itu buktinya. Kamu jawabnya ketus banget.”

__ADS_1


“Yayayaya.”


Apakah semua perempuan selalu begini? Ngambek hanya karena masalah kecil? Ah, sepertinya Alden harus belajar menjaga kata-kata, agar istrinya itu tidak terus-terusan ngambek.


“Sayang, hadap sini, dong. Aku mau cerita, nih,” pinta Alden lagi.


“Ya udah cerita.”


“Hadap sini dulu.”


Mau tidak mau Zakira membalikkan tubuhnya sampai menghadap Alden sempurna. Perempuan itu memutar bola mata malas saat sang suami tersenyum meledek.


“Kamu sebenarnya mau cerita, atau meledek aku, sih?” cetus Zakira sambil mendorong pelan wajah Alden.


Alden menarik tangan itu, lalu mencium punggung tangannya berulang kali.


“Kamu kalau ngambek ternyata makin cantik,” goda Alden.


“Alden!”


“Apa?” Wajah Alden berubah jadi datar, menghempas tangan Zakira begitu saja.


“Gantian, nih, kamu yang ngambek?”


“Bisa nggak panggilannya ditukar?”


“Bisa, Sayang.”


“Katanya kamu mau cerita.”


“Oh, iya.” Alden memosisikan dirinya, tatapan tidak pernah lepas dari bola mata hitam legam milik Zakira.


Perempuan cantik itu masih menunggu dengan setia, tetapi tidak ada tanda-tanda Alden membuka suara.


“Hey,” tegur Zakira.


“Kamu pasti sudah tahu, kan, kalau Rasan itu mantanku?” tanya Alden.


“Mungkin.”


“Dia memang mantanku. Tapi bukan aku yang mengajak dia pacaran, dianya saja yang langsung mengaku menjadi pacarku. Karena semua keluarga sudah tahu, mau tidak mau aku mengakui juga bahwa dia pacarku,” papar Alden dengan wajah serius.


“Kenapa sekarang kamu tidak mau dijodohkan?”


“Karena aku cintanya sama kamu, bukan dia.”


“Wah, berarti cintanya bertepuk sebelah tangan sejak dulu,” celetuk Zakira.


“Hahaha, iya. Aku memutuskannya ketika menjabat sebagai direktur. Kukatakan, aku akan sangat sibuk dengan pekerjaanku.”

__ADS_1


“Kasihan sekali.”


Alden mencubit gemas hidung Zakira. “Itu sudah menjadi takdir Tuhan.”


**


Restoran Mentari menjadi pilihan Zakira. Dirinya dan Alden sudah tiba di sana. Perempuan itu belum mengaku bahwa pertemuan ini untuk Alden dan ayahnya. Zakira hanya bilang bahwa ini dinner pertama mereka.


Zakira memilih outdoor agar dapat menikmati embusan angin dengan bebas, juga menjadi tempat khusus hanya untuk mereka.


“Kamu mau pesan apa?” tanya Alden seraya membolak-balik buku menu di tangan.


“Sama dengan kamu saja,” jawab Zakira.


Di saat keduanya sibuk menikmati suasana malam hari, ketukan sepatu dengan lantai terdengar begitu jelas ditelinga masing-masing. Zakira tersenyum, sudah dapat menebak siapa yang datang.


“Selamat malam,” sapa Hander.


Alden terdiam, kepala pria itu menunduk dengan mulut kelu.


“Malam juga. Ayah, ayo sini duduk,” pinta Zakira.


Hander mengangguk, lalu duduk di kursi yang sudah Zakira tunjuk. Tidak ada percakapan di antara mereka, Zakira sengaja tidak membuka suara, memberi ruang kepada keduanya.


“Papah—“


“Aku sudah memaafkan Papah,” sela Alden cepat. Kepala yang semula menunduk, kini terangkat dengan tatapan lurus pada sang papah.


“Alden, maafkan Papah yang sudah memintamu untuk menjadi ini dan itu. Papah sadar, semua yang Papah lakukan itu salah. Tanpa persetujuanmu, Papah mengangkatmu menjadi seorang direktur, lalu menjodohkanmu dengan perempuan yang tak kau cintai.” Hander menjeda ucapannya, mengambil napas sejenak seraya mengusap kedua sudut matanya.


“Papah menyesal, Nak. Papah bukan seorang ayah yang baik,” sambung Hander.


Zakira memberi kode pada Alden agar mendekati ayahnya. Pria itu mengangguk, bangkit dan berjalan ke arah Hander.


“Apa Papah tahu, setiap ayah mempunyai posisi spesial di hati anaknya? Dan itu juga terjadi padaku, Papah adalah pahlawanku. Saat aku kecil, Papah selalu melindungiku, bahkan hingga aku dewasa,” tutur Alden.


“Maaf karena sudah melukai hatimu dan hati ibumu.” Hander menunduk, menangis tanpa suara.


“Kami sudah memaafkanmu, Pah. Bahkan sebelum Papah meminta maaf,” ucap Alden. Dia segera memeluk papahnya.


Pemandangan indah yang tidak ingin Zakira lewatkan, dia ikut berdiri dan berhambur ke pelukan kedua orang pria itu.


“Terima kasih istriku, Sayang,” bisik Alden dengan penuh cinta.


Zakira mengangguk saja, tetapi air mata kebahagiaannya tidak mau berhenti merembes.


“Kamu menang, dan sampai kapan pun kamu menang di hatiku.”


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2