
Padatnya kota Jakarta, dan panasnya cahaya matahari membuat seorang gadis terus mengeluh. Motor tetangga yang dia pinjam mogok tiba-tiba. Padahal dirinya belum sampai di tempat tujuan, tetapi harus mendorong motor untuk dibawa ke bengkel.
“Dasar motor butut! Bisa-bisanya mogok di waktu yang tidak tepat!” omel Vera.
“Awas aja, nggak bakalan aku pinjam lagi kamu!”
Entah sudah berapa kali sumpah serapah dia ucapkan dalam hati. Merasa sangat kesal karena motor tua yang tidak bersalah, hanya saja mesinnya yang sudah bermasalah.
Dengan sisa-sisa tenaga, Vera mendorong motor itu agar segera sampai di bengkel terdekat. Dia sudah tidak sanggup bila harus mendorong jauh lagi, ditambah teriknya matahari yang terus membakar kulit. Saat sibuk misuh-misuh, mobil Pajero berhenti tepat di samping dirinya mendorong motor. Semakin kesal Vera ketika mengetahui siapa pemiliknya.
“Mending Bapak pergi aja, deh. Kalau cuma mau ngejekin aku,” cetus Vera.
“Yang mau ngejekin kamu juga siapa.” Befan berdiri sambil bersandar bodi mobil.
Hubungan keduanya memang tidak sedingin dulu, tetapi sikap Befan masih sama. Dingin dan datar. Hanya kadang-kadang saja berubah, itu pun tidak lama dia akan kembali ke tabiat awal.
“Huh ... terserah Bapak, lah!” Vera kembali mendorong motornya. Kali ini sambil mengentak-entakkan kaki.
Befan terkikik kecil, tingkah Vera sangat lucu dimatanya. Dia memilih mengikuti Vera dengan menggunakan mobil, sambil mengejek gadis itu dengan membunyikan klaksonnya.
“Astaga, Pak! Berisik, tauk!” teriak Vera geram.
“Suka-suka saya. Lagian ini juga mobil saya,” sahut Befan tak mau kalah.
Menanggapi orang egois memang tidak ada gunanya. Sebab kita akan selalu kalah, ya, seperti Vera. Dia pun memilih untuk cuek, meski kesalnya minta ampun.
Melihat seseorang yang tidak asing, Vera langsung memanggil sambil melambaikan tangan. Pandu yang berada di ujung, berlawanan arah dengan Vera, membalas lambaian gadis itu.
“Motornya kenapa?” tanya Pandu ketika sudah sampai di tempat Vera berada.
“Mogok, Mas,” jawab gadis itu.
“Ya udah, aku bantu dorong.”
__ADS_1
Lalu keduanya sama-sama mendorong mobil. Dan aktivitas itu membuat seseorang yang berada di dalam mobil, mengumpat sambil memukul kemudi dengan wajah memerah. Befan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, membuat Vera terkejut dan langsung memandang mobil yang sudah sangat jauh itu.
Apa yang terjadi dengan Pak Befan?
**
Mengingat motor masih lama selesai karena ada banyak yang harus diperbaiki, Vera galau. Dia menopang dagu menggunakan kedua tangan sambil melihat orang-orang bengkel memperbaiki motor tetangganya.
Dari arah belakang Pandu datang membawa dua botol minuman dingin. Dia menempelkan kedua-duanya di pipi Vera, membuat sang empu terkejut.
“Mas, ih!” Vera mencebik kesal.
“Maaf, maaf.”
“Iya udah, nggak apa.”
“Ini untuk kamu.” Pandu menyodorkan salah satu minuman dingin, yang langsung disambut oleh Vera.
Gadis itu langsung menenggak, sebab dia memang sangat haus. Bahkan mengabaikan tatapan Pandu yang terlihat aneh di matanya. Ah, dia lupa, kalau yang aneh mungkin saja dirinya. Atau pria itu menganggapnya rakus.
“Aku mau ke rumah Dera. Tapi motor tua milik tetanggaku itu, tiba-tiba mogok. Sangat menyebalkan!” Pandu terkekeh melihat Vera mencebikkan bibir dengan wajah kesal.
“Jangan tertawa, Mas! Nggak lucu, ya!” sentak Vera.
“Iya-iya, maaf.”
Lalu keadaan kembali hening. Notifikasi pesan dari ponsel Vera, membuat keduanya terkejut dan saling menatap. Cepat-cepat gadis itu mengambil dari dalam tas, lalu melihat pesan dari siapa yang baru saja masuk.
Nomor tanpa nama. Siapa?
[Kutunggu di kafe yang tidak jauh dari tempatmu berada. Lima menit harus sudah sampai di sini!]
Gila! Batin Vera. Cepat-cepat gadis itu menaruh ponselnya dan bangkit dari duduk. Pandu pun ikut bangkit karena terkejut.
__ADS_1
“Mas, titip motor, ya. Aku harus pergi karena ada urusan,” tandas Vera.
“Ke mana?” Wajah Pandu ikutan panik.
“Pokoknya ada urusan. Nanti aku balik ke sini lagi. Oke.”
Belum sempat Pandu menjawab, Vera sudah pergi. Gadis itu berlari menuju tempat yang baru saja seseorang sebutkan dalam pesan. Sebenarnya hatinya menolak untuk datang, tetapi logikanya berbeda. Seolah-olah seseorang itu adalah orang penting yang harus dia temui.
Tepat waktu. Vera membungkuk dengan napas ngos-ngosan. Dia baru mendongak ketika mendengar suara seseorang yang tak asing menyapanya.
“Pak Befan?” Vera terkejut. Otaknya jadi berpikir, apakah Befan yang mengirimnya pesan.
“Kamu tepat waktu. Maka aku akan memberimu satu botol air mineral,” ujar Befan, Vera melotot.
“Miskin sekali, Bapak! Aku sudah lari-larian demi sampai tepat waktu, tetapi hanya diberi air mineral,” protes Vera.
“Diamlah gadis bawel.”
“Bapak—“
“Ayo kuantar ke tempat tujuanmu tadi,” potong Befan.
“Maksud Bapak?”
“Bukankah kamu ingin pergi ke suatu tempat? Tetapi motormu mogok dan membuatmu harus menunggu sampai selesai perbaikan. Aku hanya ingin memberi tumpangan, tapi jika kamu mau. Tidak juga nggak masalah,” ucap Befan panjang lebar.
Vera melongo tidak percaya. Harusnya pria ini sejak tadi menawarkan bantuan saat dia masih mendorong mobil. Dasar manusia kulkas!
**
Maafkan othor🤣
__ADS_1