Ketika Pamanmu Menjadi Pengantin Pengganti

Ketika Pamanmu Menjadi Pengantin Pengganti
Bab 52. Ingin Berbicara Sesuatu?


__ADS_3

Siang itu Pandu berniat mengajak Vera untuk makan siang bersama, tetapi sayangnya sang empu menolak. Gurat takut bercampur benci, masih terpancar sempurna di manik indah milik Vera. Meski perangai Pandu sekarang sangat ramah, tetapi tidak pernah bisa melepas benci ketika mengingat perbuatannya pada Dera.


“Kamu sungguh tidak ingin makan siang lebih dulu?” tanya Pandu sekali lagi. Dan jawaban tetap sama, Vera menggelengkan kepala dengan cepat.


“Maaf, aku harus segera kembali. Bibi sudah menunggu buah-buahan ini,” jawab Vera.


“Hmm. Sebenarnya ada yang ingin aku sampaikan, tetapi agaknya kamu memang buru-buru. Baiklah, kita bisa mengobrol lagi lain waktu. Iya, kan?”


Andai Vera penyihir, dia pasti langsung mengutuk Pandu menjadi batu. Entah rencana apa yang pria itu buat, sehingga sangat ingin berbicara lebih dengannya. Dan sayangnya, Vera juga berdoa dalam hati, supaya tak diketemukan kembali oleh sosok Pandu.


“Kalau begitu aku permisi.” Tanpa menjawab pertanyaan Pandu, Vera langsung pamit pergi.


Langkahnya sama dengan saat masuk tadi, terburu-buru. Dia ingin cepat sampai ke mobil lalu pergi. Bayang-bayang wajah tanpa dosa Pandu, terus memenuhi pikirannya. Dan hal itu lagi-lagi membuatnya tak fokus hingga menabrak orang kembali.


“Apa matamu tidak bisa melihat?” Teguran bernada datar dan dingin, membuat wajah Vera berubah jadi pias.


“Ah, maaf, Pak. Aku tidak fokus pada jalan,” cicit Vera.


“Kau pikir saya bapakmu!” tekan pria itu.


Tunggu. Mengapa suaranya seperti tak asing lagi ditelinga Vera? Sepertinya dia tidak salah tebak. Ya, suara itu mirip suara seorang pria yang datang ke rumahnya beberapa bulan lalu bersama sang kakak ipar.


Dan saat dia mendongak, maka wajah tampan Befan yang terlihat datar menjadi objek pertama. Tatapan keduanya terkunci, saling menyelami untuk mencari sesuatu di sana. Yang mereka pun tidak tahu, sesuatu apa itu.


“Kau?” tunjuk Befan.

__ADS_1


“Ya, aku adik ipar Om Daren. Eh, maksudku Mas Daren,” jelas Vera.


“Oh.”


“Iya, Pak.”


“Sudah kukatakan, saya bukan bapakmu. Sopanlah pada orang yang tak kau kenal,” sungut Befan.


Vera mengusap dadanya, sabar. Dasar pria berwajah kulkas! Waktu itu saja, pas ada Dera, pria ini berbicara begitu lembut. Nyatanya, tak ada bedanya dengan jalan tol. Lempeng.


“Baiklah, Mas. Sekali lagi aku minta maaf karena sudah menabrak tadi,” ucap Vera dengan tulus.


“Ya. Lain kali kau bisa berjalan dengan pelan. Karena tempat ini bukan milik nenek moyangmu!”


Sabar, Vera, sabar. Gadis berambut sebahu itu hanya bisa terus bersabar. Meski dia sangat ingin melempar Befan dengan benda apa pun yang ada di sekitarnya. Apa dia bilang tadi, Vera tidak sopan? Sungguh, Vera ingin mencekik leher Befan sampai tewas.


**


“Acara syukurannya nanti sederhana aja, Mas. Kita undang warga kompleks sini sekalian anak-anak yatim piatu,” kata Dera ketika mereka sedang berada di meja makan.


“Mas nurut aja apa yang kamu bilang,” jawab Daren.


“Dih. Sesekali kasih masukan, dong. Gimana, sih, Ayah ini!”


“Ayah tidak punya masukan, tetapi kalau memasuki, jelas bisa.” Daren tertawa kencang saat melihat wajah kesal Dera.

__ADS_1


“Dasar mesum!” teriak Dera.


“Hahaha. Ampun, Sayang.”


Daren mengusap lembut wajah Dera, setelah itu mengecup singkat bibir sang istri. Karena masih kesal dengan Daren, Dera langsung mengusap bibirnya cepat. Sontak membuat Daren semakin tertawa pingkal.


Puas tertawa, Daren membenarkan posisi duduknya. “Sayang, kamu tidak ada niatan buat USG. Lihat jenis kelamin dedek, gitu?” tanya Daren.


“Nggak,” cetus Dera.


“Memangnya nggak penasaran?”


“Malah aku ingin ini jadi surprise, Mas!”


“Baiklah, baiklah. Tapi aku sudah tidak sabar ingin melihatnya,” ucap Daren sambil mengusap perut Dera.


“Sabar. Dikira hamil seminggu lahir apa!”


“Hehehe.”


 **


Gak bisa othor panjangin lagi, karena memang idenya mentok. Plis likenya, ya, guys.


 

__ADS_1


 


__ADS_2