Ketika Pamanmu Menjadi Pengantin Pengganti

Ketika Pamanmu Menjadi Pengantin Pengganti
Season 2: 29


__ADS_3

Selalu mampir di kafe setelah pulang bekerja adalah hobi Mina. Dia tidak segan-segan menghabiskan empat sampai lima jam lebih di sana. Gadis berambut sebahu itu memang suka mendinginkan otaknya di tempat yang nyaman, contohnya kafe. Mendengar alunan musik dari band-band yang tampil di sana, lalu menikmati suasana malam di kota lewat jendela kafe.


Sudah jam delapan lewat, tetapi Mina masih setia di tempatnya. Dia sudah menghabiskan lima gelas jus alpukat kesukaannya, tapi belum ada tanda-tanda untuk beranjak pulang. Mina sungguh menikmati hidup yang sesungguhnya, bekerja lalu bersantai di tempat kesukaan gadis itu. Meski sudah berulang kali ditelepon sang mama, Mina tetap bertahan dengan dalih ingin menikmati sisa-sisa waktu. Hingga akhirnya dia beranjak juga, meninggalkan kafe yang mulai ramai.


Karena terburu-buru, Mina sampai tidak sengaja menabrak orang yang akan masuk ke dalam kafe.


“Maaf,” ucap Mina.


“Ya,” balas orang itu. Berlalu begitu saja meninggalkan Mina.


“Dih, sok, cool banget tuh cowok,” gerutu Mina. Dia mengedikkan bahu sambil memutar bola mata, malas.


Saat akan melangkah, matanya tak sengaja menangkap sesuatu. Gadis imut itu menunduk, mengambil sebuah dompet yang tergeletak.


“Punya siapa ini?” Mina celingak-celinguk, mencari-cari orang di sekitarnya. Saat melihat hanya ada banyaknya mobil, Mina memilih membawa dompet itu ke mobilnya.


Karena penasaran yang menggebu-gebu, akhirnya Mina memberanikan diri membuka dompet itu. Dapat dia lihat foto dalam KTP yang terpampang nyata, dan seketika dia mengingat sesuatu.

__ADS_1


“Astaga, punya cowok tadi!” pekik Mina.


“Haduh ... ngerepotin aja, tuh, orang. Males banget mau balik lagi,” gerutu Mina sambil membuka pintu mobilnya.


Sebelum benar-benar turun, gadis itu kembali membuka dompet tersebut. Dilihat-lihat dengan baik, Mina membaca semua tulisan yang ada di sana.


“Algrey Keofan Brain.” Mina mengeja nama yang tercantum di KTP.


Lalu dia kembali mengedikkan bahu, merasa tidak kenal dengan nama tersebut. Tanpa pikir panjang, dia kembali masuk ke dalam kafe demi mengembalikan dompet itu. Namun, sudah lelah berkeliling, Mina tak kunjung menemukan pemiliknya. Sedangkan jarum jam terus bergerak, jadwal pulang yang telah disetujui mama, akan segera tiba.


“Lebih baik aku bawa pulang dulu aja, siapa tahu besok orang itu balik ke sini lagi,” ucap Mina.


“Aku hanya tidak ingin kamu terlibat dalam masalah ini, Zakira. Aku ingin kamu selalu aman, tanpa tersakiti.”


Zakira belum tidur sepenuhnya, dia masih bisa mendengar ucapan Alden yang membuat hatinya semakin resah. Perempuan cantik itu langsung duduk, menatap Alden tanpa mau mengalihkannya.


“Maksud kamu?” tanya Zakira bingung. Dia hanya ingin tahu tentang masalah perjodohan, tapi mengapa Alden bawa-bawa tentang takutnya terlibat masalah.

__ADS_1


“Sudah sejak lama Papah memaksa aku untuk menerima perjodohan yang dia buat. Meski aku menolak, Papah terus memaksa,” lirih Alden. Dia menjeda kalimatnya sebentar.


“Jadi kamu menjadikan aku pelarian, agar tidak dijodohkan kembali?” Zakira menyela dengan cepat, sampai Alden tidak bisa kembali menyambung ceritanya.


“Dengerin dulu, Sayang. Jangan langsung menebak,” pinta Alden.


“Maaf.”


Alden menghembuskan napas kasar, berusaha meloloskan sesak yang kembali memenuhi rongga dadanya.


“Papah dan Mamah sudah bercerai. Sejak kecil aku ikut Mamah, tetapi setelah dewasa Papah datang dan memintaku menjadi apa yang dia mau. Hidupku terlalu menyakitkan, apa yang aku lakukan harus sesuai dengan keinginannya.


Aku terluka, Kir. Aku bosan dengan hidupku sendiri. Aku tidak ingin menjadi seperti ini, rasanya aku terlalu rapuh sekarang. Papah terus mendesak, meski aku sudah berbicara bahwa aku telah menikah. Aku cuma cinta sama kamu, nggak wanita lain.” Alden menunduk, menyembunyikan air mata yang sudah merembes keluar dari kedua sudut matanya.


Zakira merasa bersalah, dia segera mendekati Alden, memeluk pria itu dengan sangat erat.


“Kamu jangan takut, aku tidak akan membiarkan ada perempuan lain di antara kita.”

__ADS_1


 


 


__ADS_2