Ketika Pamanmu Menjadi Pengantin Pengganti

Ketika Pamanmu Menjadi Pengantin Pengganti
Bab 53. Tamu tak Diundang


__ADS_3

Acara syukuran empat bulanan telah tiba, sejak pukul 14.00 WIB rumah Daren sudah ramai dengan para tetangga dan anak-anak yatim piatu yang sudah diundang. Rona kebahagiaan terus terpancar di wajah Dera, Daren, ibu beserta Vera.


Semuanya berjalan lancar, Daren semakin bahagia saat melihat orang tua Pandu datang. Walaupun kedatangan Pandu beberapa hari lalu sempat menggoyahkan rumah tangganya, tetapi Daren tidak ingin mempermasalahkan pada kakak iparnya.


“Semoga dedenya yang di dalam perut, sehat selalu, ya,” ucap Fina sambil mengusap perut Dera yang sudah membuncit.


“Amin. Terima kasih, Kak,” balas Dera sambil mengembangkan senyumnya.


Sore itu acara selesai tepat jam lima. Para pelayan yang memang bekerja di rumah Daren, sibuk membersihkan ruangan yang tadi digunakan. Sedangkan si pemilik rumah beserta tamunya, bersama-sama pindah tempat ke ruang tamu paling dalam, terkhusus.


Sejak tadi ibu tidak pernah jauh dari Dera, selalu mengusap perut putrinya dengan gurat bahagia yang begitu kentara.


“Ibu bahagia banget, akhirnya sebentar lagi akan menjadi seorang nenek,” kata Hamidah.


“Entar kita culik ke rumah ya, kan, Tan. Biar kita nggak kesepian lagi,” celetuk Vera yang langsung mendapat tatapan tajam dari Dera.


“Enak banget! Kalau mau, bikin sendiri, dong!” cetus Dera.


“Ya kali bikin sendiri. Aku, kan, belum nikah, Der. Aneh, deh, kamu.”


Semua orang yang ada di sana, tertawa mendengar perdebatan antara Dera dan Vera. Lalu mereka kembali mengobrol tentang keseharian dan pekerjaan.


Suasana riuh berubah senyap saat sapaan seseorang terdengar jelas dari pintu masuk ruang tamu. Semua mata tertuju pada seseorang yang berdiri tak jauh dari mereka.


“Pandu? Kamu datang, Nak?” Fina membuka suara.


“Maaf. Aku terlambat, ya?” ucap Pandu. Berjalan menghampiri ibunya dan duduk di sana.

__ADS_1


Orang pertama yang terkejut adalah Hamidah. Dia menggeleng demi menghalau rasa kaget yang luar biasa, mencoba menyadarkan bahwa Pandu benaran ada di sana.


Tanpa rasa bersalah Pandu duduk, terus tersenyum meski tatapan tajam dari Dera menyorot sempurna. Benarkan urat malunya telah putus? Sungguh, Dera benci Pandu yang sebelas dua belas dengan Jilia.


“Untuk semuanya, maaf. Sebenarnya saya datang ke sini juga ingin menyampaikan sesuatu,” ujar Pandu. Dia mengerti dengan tatapan menuntut Hamidah dan Daren.


“Omong kosong! Lebih baik kamu pergi dari sini!” bentak Dera.


“Sayang, sabar, Sayang.”


“Aku udah muak lihat wajah dia, Mas. Aku mau dia pergi, sekarang!” tekan Dera sambil memegang lengan Daren.


Daren bingung. Dia memang sangat ingin mengusir Pandu, tetapi tidak enak dengan Fani dan suami. Namun, melihat istrinya tak nyaman, dia pun menjadi tidak nyaman juga.


“Sebaiknya kamu pergi dulu, Nak. Semua orang di sini tidak ingin melihat wajah tak berdosamu,” kata Fina. Dengan tegas dia mengusir Pandu.


“Plis, jangan buat Dera tersiksa lagi.”


“Baiklah, aku akan pergi. Tapi, satu yang harus kalian tahu. Bahwa yang terjadi denganku, semua murni karena jebakan seseorang.” Pandu langsung pergi setelah berbicara.


Vera yang sejak tadi hanya diam, beranjak mengejar Pandu dengan tergesa.


“Mas! Tunggu!” teriak Vera, sukses menghentikan langkah Pandu.


“Ya, Vera? Apa kamu ingin mengajakku makan malam?” tanya Pandu dengan pedenya. Vera mendecih, menyesal telah mengejar pria ini.


“Anda terlalu percaya diri!” cibir Vera.

__ADS_1


“Sebab aku tampan. Sejak SMP aku selalu menjadi primadona sekolah.”


“Sayangnya Anda bodoh, sampai bisa terjebak oleh seseorang!” sinis Vera.


“Hahaha, kamu benar. Aku memang pria bodoh. Seharusnya aku tidak datang ke sini demi mendapat maaf, karena semua sia-sia. Iya, bukan?”


Lawan bicara Pandu bungkam. Sejujurnya Vera ingin membalas lagi, tetapi mulutnya terasa keluh. Pun, dadanya nyeri ketika mendengar kalimat terakhir Pandu.


“Sudah, kamu anak kecil tidak usah terlalu dipikirin ucapan aku tadi. Anggap aja angin lalu,” tegur Pandu seraya ingin pergi. Namun, lengannya ditahan oleh Vera.


“Aku bingung. Kamu itu sebenarnya orang jahat atau pura-pura jahat?”


“Aku orang baik. Tampan pula.”


“Bisakah Anda serius? Jadi, benar Anda telah merusak seorang gadis?” tanya Vera.


“Mungkin sudah jadi anak. Kenapa? Kau ingin juga?”


Gila! Manusia di depanku memang tidak pernah berubah dari dulu. Selalu bercanda meski masalah ini serius. Dasar Pandu sialan! Lihat saja kau!


 


**


Vera ibarat othor, kepoan😂🤞


 

__ADS_1


__ADS_2