
Ketika semua orang sibuk dengan kebahagiaannya, ada gadis yang sibuk menata hatinya.
-----------------------
Semua persiapan sudah rampung. Pernikahan akan dilakukan di kediaman Daren. Zanira yang memintanya, katanya biar ada kenangan yang tertinggal di rumah itu.
Malam ini, Zanira meminta agar sang kakak—Zakira menemaninya tidur. Jujur, Zanira sangat gugup. Matanya sulit terpejam karena terus memikirkan hari esok, di mana pernikahannya akan dilangsungkan.
Ada bahagia, takut, dan resah. Namun, Zakira cepat menggenggam jemari adiknya itu. Mencoba memberikan kekuatan, sekaligus menangkan sang empu.
“Ciee... udah nggak sabar, ya?” ledek Zakira setelah Zanira tenang.
Tentu saja sang adik mencebikkan bibir, kesal melihat tingkah kakaknya yang selalu menggodanya itu.
“Kakak nggak ngerasain gimana jadi aku. Lihat aja besok, kalau Kakak menikah, pasti ngalamin, kaya’, gini,” ketus Zanira.
Zanira hanya tersenyum, lalu mengangguk singkat. Selanjutnya dia menarik selimut untuk menutupi tubuh keduanya, membaringkan diri di sana.
“Tidur, Dek. Uda larut banget, besok kamu harus bangun pagi buat make up,” suruh Zakira.
“Tapi aku nggak bisa tidur, Kak. Ke pikiran besok terus,” keluh Zanira.
Untuk sesaat suasana berubah sunyi. Dua gadis yang berada di ruangan itu, sama-sama menatap langit kamar. Embusan napas saling terdengar, seperti bersahut-sahutan. Sampai Zanira buka suara kembali.
“Aku bahagia banget, Kak. Akhirnya angan-anganku sejak dulu, tercapai juga,” ucap Zanira.
“Angan-angan?”
__ADS_1
“Ya. Sejak SMP, aku sudah suka sama Arfan. Karena perhatian dan kebaikannya, membuat aku jadi ingin memiliki dia. Dan, besok, semua akan berubah sesuai keinginanku.” Zanira menjeda ucapannya. “Aku berharap kami bisa sama-sama membangun rumah tangga, terjauh dari orang-orang yang ingin menghancurkan, dan sama-sama saling mencintai.”
Dan sekarang, tidak ada kata takut untuk move on, karena Zakira tidak ingin menjadi salah satu dari tiga yang Zanira sebutkan.
🍁🍁
Suasana di rumah sudah cukup ramai, para tamu yang diundang menjadi saksi, pada berdatangan. Mempelai pria bersama keluarganya pun, baru saja sampai dan disambut hangat oleh pihak mempelai perempuan.
Di dalam kamar, Zanira sudah selesai dihias. Gadis itu duduk di tepi kasur bersama Zakira. Dia meminta sang kakak untuk menemaninya, sampai dia dibawa turun nanti.
“Tarik napas ... hembuskan.”
Zakira terus mengucapkan kalimat itu, guna menangkan sang adik yang terus bergerak gelisah. Sebenarnya bukan hanya Zanira, tetapi Zakira juga. Bukan hanya tubuhnya, melainkan hatinya juga bergerak gelisah.
“Kak. Aku takut ...,” lirih Zanira sambil meremas kedua tangannya.
Zakira mengusap punggung adiknya lembut, terus menenangkan gadis itu. Meski Zakira tahu, semua tidak akan mempan karena setiap mempelai pasti akan merasakan apa yang Zanira rasakan.
‘Bagaimana? Sah?’
‘Sah!’
Suara tegas Arfan yang disusul oleh suara lainnya, terdengar begitu jelas dari tv kecil yang berada di kamar Zanira. Memang sengaja dipasang agar gadis itu bisa melihat prosesi ijab kabul di bawah.
Ketika itu juga, air mata Zanira luruh. Dia menangis terharu, akhirnya sah menjadi istri dari seorang Arfan.
Tok tok tok
“Masuk.”
__ADS_1
“Zanira, ayo turun ke bawah sama Tante. Suami kamu sudah menunggu di bawah,” ucap tante Vera dengan senyuman bahagia.
“Iya, Tante.”
Vera menuntun Zanira untuk keluar, tetapi langkah keduanya terhenti dan sama-sama menoleh ke belakang.
Mengerti tatapan itu, Zakira langsung tersenyum. “Duluan aja, Tan, Dek. Kakak nanti nyusul, mau ke kamar mandi dulu.”
“Oke, kalau begitu, Tante bawa adekmu ke bawah dulu,” balas tante Vera.
“Iya, Tante.”
Kini, hanya Zakira sendiri yang ada di kamar itu. Dia menatap sekeliling, sangat terkesan romantis. Kamar Zanira sudah didekorasi seperti kamar pengantin pada umumnya. Zakira menghela napas kasar, memejamkan mata sesaat.
Dan sekarang, tidak ada lagi harapan. Kamu bisa, Kira. Kamu pasti bisa. Tuhan sedang mempersiapkan yang lebih baik untuk kamu.
🍁🍁
Sesakit ini, tapi othor suka. Hehehe. Tenang, ya, sebentar lagi Zakira ngerasain bahagia juga, kok. Othor lagi ngobrol sama calon pawangnya nih. Hihihi.
Budayakan like dan komen setelah membaca. Jangan lupa kasih vote juga, kalau ada ehem berlebih.
__ADS_1