Ketika Pamanmu Menjadi Pengantin Pengganti

Ketika Pamanmu Menjadi Pengantin Pengganti
Bab 27. Ngidam?


__ADS_3

Pukul 17.00 WIB, Daren dan Dera sampai di rumah. Keduanya langsung menuju kamar, bergantian untuk membersihkan diri. Selesai mandi lebih dulu, Dera memilih untuk membuat makanan di dapur.


Ketika sampai di tempat tempur itu, sudah ada dua orang pelayan yang bersiap untuk menata makanan di meja. Dera mendesah kecewa, dia selalu kalah cepat dengan pelayan Daren. Memang seharusnya, Dera meminta pada Daren untuk memberhentikan mereka semua. Masalahnya, dia tidak bisa mengerjakan apa pun jika masih ada banyak pelayan di sini.


“Apakah Nyonya ingin makan?” Pertanyaan pelayan membuyarkan lamunan Dera.


“Emm, nggak, kok. Tadi niatnya cuma ingin memasak, ternyata sudah selesai semua,” kata Dera dengan nada lirih.


Pelayan itu tersenyum, bangga dengan Dera. Jarang sekali seorang nyonya mau berjibaku di dapur, tetapi nyonya-nya yang satu ini, berbeda.


“Tuan melarang Nyonya untuk memasak. Makanya kami diperkerjakan di sini,” ucap pelayan itu. Dera mengangguk paham saja.


Karena memang belum waktunya makan, Dera memilih untuk keluar. Dia berkeliling di halaman rumah, melihat pohon mangga. Ternyata pohon yang lumayan besar itu, tengah berbuah mangga muda. Dera tersenyum senang, dia pasti akan menunggu sampai buahnya matang.


“Sedang apa Nyonya di sini?” tanya Reva yang baru datang dari belakang.


“Aku melihat buah mangga. Ternyata banyak, ya? Aku sudah sangat tidak sabar menunggu sampai matang,” ucap Dera antusias.


“Wah, kalau begitu, biar aku bungkus dengan plastik mangganya.”


“Untuk apa, Rev?” tanya Dera bingung.


“Biar nggak ada yang ambil.” Reva tertawa kecil, disusul dengan tawa Dera.


“Kamu ini bisa saja.”


Kini Dera beralih melihat taman bunga, dengan ditemani Reva, dia melihat bibit yang tempo Minggu ditanamnya. Lalu, Dera melihat-lihat bunga yang lainnya. Semua tampak terawat, Dera akan mengacungkan jempol karena pekerjaan pelayan sangat bagus.

__ADS_1


“Kamu, ya, yang ngerawat taman?” Dera mengalihkan pandangannya pada Reva. Gadis muda itu mengangguk.


“Hebat kamu, Rev. Aku puas dengan kerja kamu,” sambung Dera sambil mengacungkan kedua jempol tangannya.


“Terima kasih, Nyonya.” Reva tersenyum bahagia. Dera mengusap bahunya lembut, tak lupa membubuhkan senyumannya yang indah itu.


**


“Om, tolong ambilkan ayam goreng,” pinta Dera. Daren mengangguk, mengambil satu ayam goreng untuk Dera.


Dera makan dengan begitu lahap, dia sudah dua kali menambah nasi. Melihat itu, Daren merasa heran, tetapi dia tetap bahagia. Sebab, dirinya merasa sudah menjadi suami yang sesungguhnya.


“Om,” panggil Dera lagi.


Daren yang baru ingin menyuapkan nasi, terpaksa menundanya lebih dulu. Dia menatap Dera yang juga menatapnya dengan mata berbinar.


“Minta ayam goreng lagi, dong,” ucap Dera sambil menunjuk ayam goreng yang tinggal dua itu. Sebab, tiga lagi sudah dia habiskan.


“Hah?!”


Daren terkejut dengan permintaan Dera. Ini sudah keempat kalinya, apa istrinya itu belum kenyang juga?


“Nggak boleh, ya?” Menyadari raut wajah Dera berubah sendu, membuat Daren menggeleng.


“Siapa bilang? Kamu boleh menghabiskan semuanya.”


Dengan penuh senyuman Daren mengambilkan ayam goreng kembali. Dia terus memperhatikan Dera yang sedang makan, menelan ludah susah payah, Daren merasa semakin aneh.

__ADS_1


“Mbak. Minta tolong nanti gorengin sosis sama nuget, ya?” pinta Dera pada salah satu pelayan yang setia berdiri di dekat meja makan.


“Baik, Nyonya. Ada lagi?”


“Emm. Kaya’nya, sama buatin jus jeruk, deh.”


“Akan segera saya buat, Nyonya.” Pelayan tadi pergi dari sana menuju dapur. Mulai membuat apa yang Dera minta.


Daren semakin bingung dibuatnya. Berulang kali dia menatap Dera dan piring makan wanita itu. Tumben sekali Dera memakan sangat banyak nasi, biasanya selalu menjaga porsi karena sedang diet.


“Kamu kenapa tiba-tiba suka makan gini? Apa jangan-jangan kamu lagi ngidam?” tebak Daren.


“Apa? Yang benar saja, Om! Ngidam dari mananya coba? Berhubungan aja baru sekali,” tukas Dera dengan bibir mencebik kesal.


“Aku hanya menebak, soalnya kamu begitu aneh. Biasanya selalu makan sedikit, tetapi malam ini seperti melebihi batas,” ujar Daren.


Dera mendesah kesal, bibirnya sudah mengerucut. Beranjak dengan kasar, Dera mengentakkan kakinya di lantai. “Kalau nggak ikhlas, bilang! Nanti aku muntahin lagi!” teriak Dera kesal.


Daren melongo, serba salah. “Memang pria selalu salah.”


 **


Besok lagi, ya. Soalnya othor lagi gak enak badan.



 

__ADS_1


 


__ADS_2