Ketika Pamanmu Menjadi Pengantin Pengganti

Ketika Pamanmu Menjadi Pengantin Pengganti
Bab 32. Daren Frustrasi


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Dera sudah berada di dapur. Dia berniat membuat makanan untuk sarapan mereka dan ibunya. Sedangkan Vera, gadis itu sudah berangkat ke kampus. Dengan lihai Dera mengolah sayuran menjadi masakan yang sehat.


Sesekali dia melonggokkan kepalanya ke arah ruang tamu, memastikan keberadaan Daren. Ternyata, sang suami belum kembali dari lari pagi. Melihat keadaan ibu mertua yang masih lemas, Daren berniat pergi ke kantor siang hari nanti. Lagian dia sudah memastikan bahwa tak ada rapat bersama klien.


“Akhirnya selesai!” Dera bernapas lega. Menyusun semua menu di meja, lalu membuka celemek dan menaruhnya di gantungan.


Dera kembali mengecek suhu badan sang ibu, sudah turun. Dia sempat khawatir karena tadi malam suhu badan ibunya kembali panas, membuat Dera tidak tidur semalaman demi menunggu Hamidah.


“Syukurlah. Setelah bangun nanti, Ibu harus segera makan dan minum obat,” ucap Dera sambil mengusap lembut tangan ibu. Wanita paruh baya itu masih pulas dengan wajah teduh.


Derap langkah kaki membuat Dera menoleh segera. Daren berdiri di ambang pintu masih dengan pakaian olahraga. Bulir-bulir keringat memenuhi pelipis, bahkan leher pun juga. Dera menggeleng, menepis pikiran kotornya itu.


“Ada selang khusus mencuci mobil tidak?” tanya Daren. Mengusap keringat dengan punggung tangan.


“Ada, Om. Cari aja di samping rumah, ada kran juga di sana,” jawab Dera. Daren mengangguk dan langsung melesat pergi.

__ADS_1


Daren langsung menuju samping rumah, mencari kran dan selang untuk mencuci mobilnya. Dengan segera Daren menghidupkan kran air, memasang selang di sana.


Selama mencuci mobil, Daren tidak memperhatikan sekitar. Dia hanya fokus pada kegiatannya saja. Krasak-krusuk tetangga, membuat Dera yang tengah mengelap kaca otomatis menoleh ke arah mereka. Ibu-ibu tetangga berdiri di dekat pagar rumah, menatap Daren dengan tatapan menggoda. Sebal melihat itu, Dera langsung berjalan ke arah Daren. Berdiri di dekat pria itu.


“Lihat ototnya. Uh, keren banget!” celetuk salah satu ibu, yang dandanannya melebihi ondel-ondel.


Dera melihat Daren, memperhatikan otot pria itu. Benar saja, karena baju Daren basah jadi memperlihatkan otot tangannya.


“Pasti perutnya juga kotak-kotak,” sambung salah satu ibu-ibu.


Mengepalkan kedua tangan, Dera geram mendengar ucapan para ibu-ibu. Padahal ada dia di sana, tetapi tetangga-tetangga itu seperti tak melihatnya. Dera segera menarik selang dari tangan Daren membuat sang empu kaget.


“Sebenarnya Om itu lagi cuci mobil apa mandi, sih? Kok, bisa sampai basah gini bajunya!” decak Dera, menahan kesal.


“Oh, ini.” Daren menunjuk bajunya yang basah. “Nggak sengaja, kena, tadi.”

__ADS_1


“Gara-gara itu, para ibu-ibu jadi ngumpul di dekat pagar,” ucap Dera. Otomatis Daren langsung menoleh, kaget. Apalagi semua ibu-ibu menatapnya genit sambil mengedipkan mata.


Ah, Daren jadi bingung dengan situasinya. Dia menggaruk kepala yang tak gatal, menatap Dera sambil menyengir. Sayangnya, wajah Dera masih sangat jutek.


“Kamu jangan cemburu, ya. Aku janji, mereka gak bakalan bisa lihat perut kotak-kotak ini. Karena semuanya punya kamu,” ujar Daren sambil memegang kedua tangan Dera. Semua ibu-ibu menjerit histeris.


“Apaan, sih, Om!” Dera langsung melepaskan karena malu dilihat banyak orang. Sambil menggerutu kesal, Dera berjalan masuk ke dalam rumah sambil mengentak-entakkan kakinya.


“Der!” panggil Daren.


“Mas Daren! Tampan banget, sih!”


Daren semakin frustrasi mendengar teriakan para ibu-ibu. Ah, kalau tahu begini, dia tidak perlu mencuci mobil tadi. Sudah basah, mobilnya belum selesai, istrinya merajuk pula. Namun, seketika Daren tersenyum.


“Kamu aneh, Der. Tidak cinta tapi cemburu lihat aku digodain orang.”

__ADS_1


 **


Hadiah dan votenya jangan lupa😉


__ADS_2