Ketika Pamanmu Menjadi Pengantin Pengganti

Ketika Pamanmu Menjadi Pengantin Pengganti
Pengumuman


__ADS_3

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakaatuh guys.


Bae mau kasih pengumuman buat kalian semua. InsyaAllah othor akan kasih boncap (bonus chapter). Tapi untuk sekarang othor belum bisa karena masih ngurusin dua novel sekaligus, plus sekolah.


Nah, sambil menunggu boncap hadir. Kalian bisa baca novel othor yang baru. Kalian bisa tekan akun othor, maka akan temukan novel-novel terbaru dari Bae Lla.



Novel roman-religi.



Menuju Jannah Bersamamu


“Kamu nggak pengin kaya’ kita, Sha?”


Gadis yang masih mengunyah kentang goreng, menghentikan kegiatan mulut. Ia langsung menoleh, menatap dengan dahi yang berkerut, bingung.


“Pengin apa?” Gadis itu balik bertanya, tanpa membebaskan kerutan di dahi seputih pualam.


“Nikah,” ucap temannya. Justru si gadis langsung tertawa dengan terbahak-bahak.


Kelima wanita yang sibuk memangku anak masing-masing, menatap bingung temannya yang sedang tertawa terbahak-bahak itu. Sedangkan yang ditatap, segera menghentikan tawanya.


“Oke, oke, maaf,” ucap Esha sambil mengatupkan kedua tangan.


Eshal Mumtaza Syarifah, gadis yang terkenal akan kecantikan dan kebobrokan. Gadis keturunan Jawa-Arab, langsung meraih gelas berisi jus miliknya, menyesap secara perlahan sebelum berbicara kembali.


“’Kan, aku udah bilang. Kalau aku masih ingin bebas,” kata Esha.


“Bebas kamu bikin takut, Sha. Masa, iya, dalam dua bulan bisa putusin tiga cowok sekaligus,” celetuk salah satu dari kelima teman Esha.


“Namanya juga bosan, Nin. Santai aja, entar aku cari yang baru.” Esha kembali tertawa, tetapi kali ini tawa kecil.


Esha memang tidak pernah berpikiran untuk menikah, selama ini dia hanya sibuk bergonta-ganti pacar. Menurut Esha, menikah adalah suatu hal yang akan memutus keinginan untuk bebas. Sebab, nanti dia akan disibukkan dengan mengurus suami dan rumah, itu semua sangat tidak Esha inginkan. Sungguh.


Memacari tiga cowok sekaligus, memang kerap Esha lakukan setiap bulannya. Dia yang sangat menyukai cowok tampan, selalu menerima setiap cowok yang datang menyatakan cinta padanya. Tercatat, hanya orang tampan! Selain itu, Esha pasti akan selalu mengabaikan.


“Kamu nggak iri, lihat kita gendong bayi?” Wanita dengan hijab Lilac, yang duduk di pojok, melempar pertanyaan pada Esha.


“Arinda, cintaku sayangku. Sudah, ya, kamu nggak muak apa, tanya itu terus?”


“Aku cuma pengen kamu berhenti main-main terus, Sha. Umurmu sudah dua puluh empat tahun, sangat pas untuk segera menikah dan menjadi seorang istri,” jelas Arinda. Sedangkan teman Esha yang lainnya, memilih bungkam. Bukan karena apa, mereka sudah sangat muak mendengar jawaban Esha yang terus berulang.


Esha hanya menanggapi dengan anggukan kecil, lantas dia mengambil ponsel dalam tas yang sudah berdering-dering. Tentunya dengan malas Esha mengangkat telepon dari sang mamah, yang ternyata memintanya untuk pulang.


“Aku balik duluan. Tenang, semua makanan sudah aku bayar,” pamit Esha sembari berlalu dari sana.


**


Ketika Esha baru masuk ke dalam rumah, dia sudah disambut dengan kedua orang tua yang menatapnya seperti ingin mengintrogasi. Cepat-cepat Esha memasang senyum mengembang, lalu menghampiri dua orang paruh baya itu.


“Kenapa Mamah nyuruh Esha buat pulang cepat?” tanya Esha sambil menjatuhkan bokongnya di samping sang mamah.


“Dari pada kamu berkeliaran di luar, mending duduk di rumah,” sahut mamah tegas.


“Mana enak, Mah.”


“Esha, cobalah pikir dengan diri kamu. Ingat, Nak, usia kamu sudah sangat pantas untuk menikah. Kapan kamu akan memperkenalkan calonmu?”


Papah yang selalu uring-uringan, kini mengeluarkan segala beban yang menghantam dada. Dia pun ingin yang terbaik untuk putri semata wayang, tetapi tampaknya berbeda dengan Esha, gadis itu biasa saja.


“Esha, ‘kan, sudah bilang, Pah. Kalau Esha belum mau menikah,” jawab Esha.


“Sampai kapan?” Sang papah sudah terlihat begitu pasrah.

__ADS_1


“Belum tahu.”


Jawaban Esha membuat kedua orang tuanya menghembuskan napas amat kasar. Sedangkan tersangka hanya tersenyum tipis. Meski Esha begitu bosan mendengar keluh kesah dari orang tua, begitu pun teman, dia harus bisa juga memberi alasan pada mereka. Bahwa dia memang belum mau menikah, hidupnya masih terlalu berharga untuk menikmati masa.


“Kalau begitu, nanti malam ikut Mamah ke masjid. Kita sama-sama ikut pengajian,” putus mamah. Esha mengangguk patuh. Hanya pengajian, kan? Itu tidak masalah untuknya.



 2. Novel romance.


Menikah muda? Dijodohkan? Ah, bukannya itu terlalu zaman Siti Nurbaya. Oza tidak habis pikir dengan kedua orang tuanya, dengan seenak jidat menjodohkan dia dengan anak teman mereka.


Oza menggebrak meja, membuat kedua orang tuanya terkejut. Bodoh amat jika dia dibilang tidak sopan, karena memang Oza sangat kesal. Dia lelah baru kembali dari membantu di rumah nenek, tetapi mamah dan papah dengan tidak berperasaan mengatakan dia akan menikah satu bulan lagi.


Bayangkan! Tanpa konfirmasi dengannya, dan tanpa sepengetahuannya mereka dengan seenak jidatnya ingin menikahkan.


“Aku tidak mau! Pokoknya aku tidak mau menikah, Mah, Pah!” teriak Oza penuh amarah.


“Kamu tidak bisa menolak, Oza. Semua sudah dibicarakan, dan mereka juga sudah setuju,” ucap papah.


“Persetan dengan mereka. Intinya aku tidak mau menikah! Titik.”


“Apa tidak bisa sekali-kali kamu menurut dengan Mamah dan Papah? Selama ini kamu selalu membantah kami!” bentak mamah.


Oza menggeram, mencoba menahan amarah yang sudah meletup-letup dalam dada.


“Aku tidak akan pernah mau menikah karena bisnis! Jika kalian setuju, maka kalian saja yang menikah. Tidak usah menyeret-nyeretku!”


“Oza!”


Dia tidak peduli dengan bentakan sang papah, memilih terus melangkah menaiki anak tangga menuju kamarnya. Oza bosan diatur-atur, dia ingin bebas dan mencari pasangan hidupnya sendiri.


Selama ini dirinya memang bukan gadis penurut, selalu membangkang perintah kedua orang tuanya karena memang dia tidak suka. Mereka terus memaksa agar Oza menjadi gadis seperti ini dan itu, tanpa memikirkan dirinya bahagia atau tidak.


“Sial!” umpat Oza.


**


“Cepat selesaikan sarapanmu. Askar sudah menunggu,” perintah mamah.


Oza menghentikan makannya, menatap bingung sang mamah.


“Askar? Siapa Askar?”


“Calon suamimu.”


Jawaban mamah membuat nafsu makan Oza jadi berantakan. Dengan kasar gadis itu meletakkan sendok, meraih tasnya dan pergi dari ruang makan.


“Kamu berangkat dengan Askar! Jangan pernah menolak!” teriak mamah. Oza semakin menggeram marah.


Ternyata mamah dan papah tetap mempertahankan keputusan mereka untuk menjodohkan Oza. Cepat-cepat gadis itu melangkah, menuju teras rumah. Terlihat seorang pria sedang duduk di salah satu bangku yang ada di teras, sambil menekuni ponsel yang berada di genggaman.


“Pergi lo!” usir Oza, membuat sang empu langsung mengalihkan pandangan dari ponselnya.


Pria itu tersenyum, membuat Oza semakin muak.


“Kamu udah selesai sarapan? Ayo aku antar ke kampus.”


“Heh! Gue bilang pergi ya pergi! Malah nawari tumpangan. Sorry, ya, gue ogah pergi sama cowok culun, kaya’, lo,” caci Oza.


Penampilan pria bernama Askar ini, memang terkesan culun. Sebab, Askar menggunakan kaca mata dan penataan rambutnya sangat persis seperti pria culun.


“Tapi aku harus nganterin kamu,” ucap Askar.


“Gila lo, ya. Berani-beraninya mau nganterin gue,” geram Oza.

__ADS_1


“Maaf Oza, aku harus—“


“Sumpah! Baru pertama kali lihat muka Lo aja udah buat gue benci, apalagi harus nikah sama lo. Lagian, bisa-bisanya orang tua gue jodohin sama cowok culun, kaya’, lo ini,” potong Oza penuh dengan makian.


Askar hanya membuang napas kasar, enggan menimpali semua ucapan yang penuh cemoohan Oza. Dia memilih memasukkan ponsel dalam saku celana, lalu menarik tangan Oza agar mengikutinya.


“Brengsek! Lepaskan tanganku!” berang Oza.


Askar tak peduli, memaksa agar gadis itu masuk ke dalam mobilnya. Lalu dia memutari mobil untuk masuk ke balik kemudi.


“Lo budek, hah? Cepat buka pintunya brengsek! Gue ogah satu mobil sama lo!” Oza terus memukuli lengan Askar.


“Diam atau kita kecelakaan,” ancam Askar.


Pria itu mengemudi mobilnya dengan kecepatan tinggi, membuat Oza mau tidak mau menghentikan pukulan membabi butanya pada Askar. Dia belum ingin mati, belum merasakan warisan dari orang tuanya.


“Kalau diam, kan, cantik,” puji Askar.


“Culun diam! Fokus aja nyetir!” bentak Oza.


Ini adalah hari terapes bagi Oza, harus diantar oleh pria culun yang akan menjadi calon suaminya. Membayangkannya saja, dia sudah ogah, apalagi harus menjalaninya. Ah, Oza harus berbicara lagi pada orang tuanya, bila perlu dia mengancam mamah dan papah.


Sesampainya di kampus, Oza langsung turun tanpa mengucapkan terima kasih pada Askar. Pria itu memaklumi, mengusap dada sambil berucap sabar.


“Untung aku cinta. Meskipun jutek, kamu tetap cantik.”


Askar mengemudi mobilnya meninggalkan kampus Oza. Pria itu akan pergi ke kantor, sekretaris terus mengirim pesan. Karena rapat dengan klien akan segera dimulai.


**


“What? Lo dijodohkan? Yang benar saja!” pekik gadis berambut sebahu.


“Husst... bisa nggak ngomongnya pelan-pelan. Lo bikin gue tambah pusing,” decak Oza.


“Tapi, Za. Ini, tuh, bukan zamannya Siti Nurbaya lagi. Masa iya orang tua lo pake jodoh-jodohan segala.”


“Itu dia, Fa. Gue sebel sama Mamah Papah. Nggak pernah ngertiin gue sedikit pun.” Oza menghela napas kasar.


Bakso yang menjadi makanan favoritnya pun, kini terasa hambar karena nasib hidupnya sangat menyedihkan. Oza menyesap es sirup dengan kesal, lalu meletakkan kembali gelas di meja.


“Tapi kalau calonnya tampan plus kaya, menurut gue nggak ada salahnya juga lo terima,” ujar Zefa—teman Oza.


“Nah, itu dia masalahnya, Fa. Cowok itu culun. Kan, nggak banget.”


Seketika tawa Zefa terdengar nyaring dan memekakkan telinga Oza. Gadis itu segera menyumpal mulut Zefa dengan tahu goreng.


“Pokoknya lo harus bantu gue buat batalin perjodohan ini!”


“Sorry, Za. Kalau udah keputusan bokap nyokap lo, gue angkat tangan.”


Ah, percuma Oza menceritakan pada Zefa. Pada akhirnya gadis itu tidak bisa membantu, malah semakin membuatnya tambah pusing dan kesal.



 


**


Selamat membaca dan jangan lupa mampir.Terima kasih.


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2