Ketika Pamanmu Menjadi Pengantin Pengganti

Ketika Pamanmu Menjadi Pengantin Pengganti
Season 2: 33


__ADS_3

“Kamu sengaja? Jangan main curang, dong, Mbak!”


Zakira menatap tajam Rasan—si biang kerok yang saat ini masih tertawa terpingkal-pingkal. Entah apa yang lucu, Zakira tidak tahu.


Padahal hampir saja tadi dia jatuh, kalau misalnya tidak bisa menyeimbangkan tubuh. Zakira sedang mengepel, tiba-tiba Rasan datang dan menjegalnya dengan kaki wanita itu.


“Kalau jatuh, ya, bagus. Kan, emang itu mau ku,” sahut Rasan dengan senyum mengejeknya.


Zakira tidak mau menanggapi lagi, dia memilih pergi ke belakang untuk menaruh alat-alat pel. Setelah itu dirinya akan pergi ke kamar, mengistirahatkan tubuh yang sudah lelah sekali.


“Dari mana kau?” Tuan Hander menatap Zakira tajam.


“Belakang, Yah. Menyimpan kembali alat pel,” jawab Zakira. Senyum manis tidak pernah lepas dari bibirnya.


“Ayah mau sesuatu?”


“Tidak.”


Tuan Hander berlalu meninggalkan Zakira. Perempuan itu mengedikkan bahunya, lalu kembali melangkah menuju kamar. Saat akan memejamkan mata, ponselnya berdering, mau tidak mau Zakira harus mengangkat lebih dulu.


“Bagaimana kabarmu?” Terdengar suara Alden di seberang sana.


Zakira tersenyum, baru tadi Alden menanyakan kabarnya lewat pesan. “Aku baik, kamu sendiri?”


“Baik juga. Apa pria tua itu merepotkanmu?”


“Tidak sama sekali. Malah Ayah sudah mau memakan masakan buatanku,” ucap Zakira.


“Kamu tidak perlu repot-repot memikirkan hubungan kami. Jika kamu sudah lelah, kembalilah. Kamu bukan pembantunya,” pesan Alden.


“Justru hidupku tidak akan tenang, bila kamu dan Ayah belum baikkan. Kalian itu satu darah, tidak sepatutnya musuhan seperti ini.”


“Kamu memang beda.”


“Bedanya?” Zakira menaikkan satu alisnya karena bingung.


“Kamu baik, sederhana, dan selalu mementingkan orang lain. Dan yang pastinya juga, cuma kamu yang aku cintai.”


“Gombal,” cibir Zakira.

__ADS_1


“Aku serius. Tidak ada gombal-gombal, semua yang aku katakan itu fakta.”


“Iya, deh, iya.”


“Humm.”


“Aku matiin, ya, sambungannya? Ngantuk banget, pengen tidur.”


“Oke. Selamat tidur my queen.”


Zakira pasti akan tidur sangat pulas karena sudah diberi ucapan manis oleh Alden.


**


Sudah hampir dua Minggu Zakira tinggal di rumah Hander. Pria tua itu pun sudah mulai luluh, meskipun kadang masih cuek padanya. Tanpa mau menyerah, Zakira terus mendekati Hander dan memperlakukan dia dengan baik. Bukan karena rencananya juga, tetapi insting dalam diri Zakira, berbicara bahwa ayah mertuanya itu sangat baik.


Seperti siang ini, Zakira menghampiri Hander yang sedang menonton televisi di ruang keluarga. Tidak lupa dia membawakan camilan dan kopi agar menontonnya semakin asik.


“Zakira buatkan kopi untuk Ayah,” ujar Zakira sembari meletakkan gelas berisi kopi itu di meja.


“Terima kasih.”


“Sama-sama.”


“Ayah buruh pijatan, Zakira akan melakukannya.”


Dengan hati-hati dia memijat kedua bahu sang ayah mertua. Zakira merasa amat senang karena akhirnya dia bisa menyentuh bahu ini, memijat dengan perlahan agar lelahnya segera hilang.


“Kau sudah lama kenal Alden?” Pertanyaan Hander menghentikan gerakan tangan Zakira, hanya sebentar, setelah itu tangan kecil Zakira kembali melanjutkan aktivitasnya.


“Tidak juga, Yah. Tapi memang Alden type sat set, dia langsung melamar Zakira,” ucap Zakira.


“Ya, Alden memang seperti itu. Dia selalu berjuang keras, dan cepat melakukan apa yang dia inginkan. Kamu beruntung mendapatkan putraku yang sangat menyayangi seorang wanita.”


“Mengapa Ayah terlihat tidak beruntung?” Zakira melempar tanya, membuat mertuanya bungkam.


“Padahal Alden sangat menyayangi Ayah.”


“Aku malu,” cicit Hander.

__ADS_1


Kedua alis Zakira bertaut, bingung dengan ucapan mertuanya itu. “Malu kenapa, Yah?”


“Aku sudah meninggalkannya sejak kecil, tetapi dia masih menyayangiku dan adiknya dari wanita yang sudah merusak rumah tangga orang tuanya.” Hander menunduk, tanpa sengaja air matanya menetes.


“Sungguh aku bukan Ayah yang baik. Aku sangat malu padanya. Selalu saja memaksa dia untuk melakukan apa yang aku mau, tanpa bertanya dia bahagia atau tidak.”


“Ayah adalah Ayah yang baik. Semua yang Ayah lakukan itu, semata-mata demi kebaikan Alden. Iya, kan?”


“Tapi dia tertekan.”


“Itu karena Alden tidak tahu motif Ayah. Namun, Ayah juga bisa bertanya padanya, apa yang membuatnya senang dan apa yang membuatnya tidak senang,” kata Zakira sembari menggenggam tangan Hander.


Cukup lama Hander terdiam, meresapi setiap kata yang Zakira lontarkan. Selama ini dia memang tidak bertanya apa mau Alden, selalu memaksa pria itu agar melakukan hal-hal yang dia mau. Meski itu demi kebaikan putranya, Hander tidak mau berdiskusi lebih dulu.


“Pulanglah, titipkan maafku pada Alden,” perintah Hander.


“No. Waktu Kira masih ada beberapa hari lagi. Kira juga harus memastikan, bahwa nantinya Kira yang menang,” tandas Zakira.


“Kamu sudah menang, Nak. Kamu sudah membuatku sadar, dan menyesali semuanya. Tentang Rasan, bahkan dia tidak peduli padaku. Dia hanya mementingkan shopping dan ngumpul-ngumpul bersama temannya,” jelas Hander.


“Pokoknya Zakira mau selesain dulu dua minggunya. Dan nantinya, bukan Zakira yang menyampaikan maaf Ayah, tetapi Ayah sendiri.”


“Maksudnya?”


“Ayah harus baikkan dengan Alden. Titik.”


Hander tertawa renyah. “Ah, baiklah, baiklah.”


Sungguh ini suatu apresiasi buat Zakira, atas usaha dan kerja kerasnya selama ini. Ternyata, apa yang dia anggap gampang belum tentu gampang, dan apa yang dia anggap susah, belum tentu juga susah.


Terima kasih Tuhan.


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2