
Seperti biasa, setiap weekend Dera selalu mengajak Daren untuk jalan-jalan. Namun, weekend kali ini mereka memilih untuk bakar-bakar ikan di rumah ibu. Dera sangat antusias ketika menyiapkan baju ganti untuk dirinya dan Daren.
Keduanya pergi setelah semua perlengkapan sudah rampung. Dengan bahagia Dera menyebutkan apa-apa saja yang akan dia bakar nanti, dan pastinya Daren mengangguk setuju saja. Tiba di rumah ibu, mereka disambut hangat oleh pemilik rumah. Ibu Hamidah memeluk Dera erat, lalu meminta keduanya untuk masuk.
“Buk, aku pengen bakar-bakar ikan di sini,” ucap Dera.
“Boleh, dong, Sayang. Mau di taman belakang aja?”
“Iya, Bu. Lagi pula suasananya asri di sana,” jawab Dera.
Ibu mengangguk setuju, lalu wanita paruh baya itu izin ke dapur untuk membuat bumbu ikan bakar. Sedangkan Daren, pria itu pun pergi untuk membeli ikan gurami di pasar yang tak jauh dari rumah ibu.
Dera sendiri memilih menunggu Vera balik dari kampus. Berulang kali Dera mengirim pesan pada sepupunya, agar langsung pulang saja tanpa mampir di rumah teman lebih dulu. Vera membalas ‘oke’, barulah Dera menyimpan ponselnya.
Saat akan bangkit, Dera melupakan sesuatu. Dia lekas mengambil ponsel kembali, menghubungi nomor yang dia beri nama ‘Sekretaris Tampan’.
“Halo Buk Dera,” sapa seorang pria dari seberang sana.
“Halo, Befan ganteng. Aku ganggu kamu, gak?”
“Oh, tentu saja tidak, Buk. Memangnya ada perlu apa, ya?”
“Ini, aku ingin mengundangmu makan-makan sore ini. Kamu bisa datang, kan? Ayolah, aku mengindam kamu ikut makan-makan juga,” pinta Dera dengan suara dibuat-buat.
Lama Befan tidak menjawab, hanya terdengar embusan napas saja.
“Emm, baiklah, Buk. Saya akan segera ke sana. Tapi ngomong-ngomong alamatnya di mana?” tanya Befan.
“Di rumah ibuku. Kamu tahu, kan?”
“Ya, saya tahu. Kalau gitu saya akan segera otw ke sana.”
“Oke. Terima kasih, Befan. Aku tunggu kehadiran kamu.”
__ADS_1
Dera memutuskan sambungan telepon sambil cekikikan. Dia memang merencanakan semua ini, agar Befan bertemu dengan Vera. Bukan karena apa, Dera merasa Vera tertarik dengan sekretaris suaminya itu. Dapat dilihat dari tatapan pertama kali Vera bertemu dengan Befan.
**
Acara bakar-bakar ikan pun terlaksana. Sejak tadi Dera hanya menjadi penonton saja. Daren melarang istrinya itu ikut membantu, takut Dera akan kelelahan dan membahayakan janinnya.
Dera tenang, Vera kesal.
Pasalnya sejak tadi dia terkena asap terus membuat baju yang dia pakai jadi bau. Pun, peluh mulai timbul di pelipis gadis itu, segera dia usap menggunakan ujung baju.
“Mas, gerah banget,” keluh Vera sambil meletakan kipas dengan wajah kesal.
“Dih, ngapain kamu ngeluhnya ke suami aku!” sungut Dera tak suka.
Wanita hamil itu tengah duduk di gazebo yang ada di tengah-tengah taman. Wajahnya kelihatan jutek dengan mata melotot tajam.
“Terus aku harus ngeluh ke siapa, Dera?! Sama rumput yang bergoyang!” cetus Vera.
“Aku lebih sebel sama kamu!” sahut Vera tak mau kalah.
Terjadilah perang tatapan mematikan antara Dera dan Vera. Keduanya sama-sama tidak mau mengalah, membuat Daren geleng-geleng kepala.
“Sudah, sudah. Jangan ribut lagi. Vera mendingan duduk dulu, biar Mas yang lanjutin,” ucap Daren.
“Mas, ih! Belain Vera terus, deh.”
“Astaga, nggak, Sayang.”
“Terus itu?” Dera memicingkan matanya, lalu dia membuang wajah kesal.
Daren terkekeh melihat istrinya cemburu, dia tinggalkan sebentar aktivitas membakar ikan dan langsung menghampiri Dera. Dikecup mesra kening wanita itu.
“Mas cuma kasihan sama Vera, nggak yang lain,” jawab Daren.
__ADS_1
“Dasar Dera! Gitu aja cemburuan!” geram Vera. Dera menjulurkan lidah, mengejek.
Vera tak jadi istirahat, dia memilih kembali mengipasi bara-bara api yang mulai padam. Dari pada membuat Dera marah-marah, lebih baik dia menuruti saja apa kemauan wanita itu.
Saat semuanya tengah sibuk, seseorang datang sambil menyapa dengan sopan.
“Siang menjelang sore, Pak, Buk.”
“Sore juga, Befan!” sahut Dera antusias. Bahkan wanita itu langsung beranjak dan menghampiri Befan.
“Kamu bawa sesuatu? Buat aku, ya?” tanya Dera sambil melirik keresek ditangan Befan.
Befan tertawa kecil sambil mengangguk. Wajah Dera sangat menggemaskan, tetapi dia tidak bisa memandang lama karena ada sorot tajam yang mengancamnya. Jadi, pria itu langsung saja memberikan keresek tadi pada Dera.
“Wahh! Buah. Makasih ya, Befan.”
“Sama-sama, Buk,” balas Befan.
Setelah mendapat keresek buah, Dera langsung pergi begitu saja. Wanita itu lupa mengajak Befan untuk bergabung, hingga pria tampan itu sendiri yang membaur.
“Ada yang bisa saya bantu, Pak?” tanya Befan ramah.
“Ada. Kamu kipasi ikan ini bareng Vera. Saya mau ke istri dulu, kasihan sendiri terus,” ujar Daren sambil memberikan kipas pada Befan.
Keduanya saling menatap. Befan menghembuskan napas kasar sambil menoleh ke arah lain, sedangkan Vera terlihat sangat bahagia dan terus berusaha mendekati Befan.
**
Jangan lupa like dan komennya guys.
__ADS_1