
Tubuh terbalut selimut menggeliat saat merasakan sebuah tangan memeluknya dari belakang. Perlahan, Zakira membuka matanya. Hal pertama yang dia lihat adalah gorden yang menutupi pintu balkon, sudah tampak teras karena cahaya dari luar yang berusaha menerobos masuk.
Zakira merentangkan tangan, tetapi sangat sulit karena pelukan itu semakin erat. Dia melihat ke belakang, wajah damai Alden sangat dekat dengan dirinya.
"Astaga, dia lucu banget," seru Zakira sambil memperhatikan dengan jelas wajah Alden.
Perlahan tapi pasti, jemari lentik itu mulai membelai permukaan lembut wajah suaminya. Dari mulai kening, mata, hidung, hingga ke dagu yang tampak sedikit lancip. Karena kehalusan pada wajah Alden, membuat Zakira tidak jenuh untuk terus mengusapnya.
"Sudah selesai mengagumi wajah tampan suamimu?"
Refleks Zakira langsung menyembunyikan tangannya. Alden terkekeh sambil menarik pelan hidung istrinya, gemas melihat tingkah Zakira yang seperti bocah.
"Selamat pagi," sapa Alden.
Sayangnya, Zakira diam saja. Lebih memilih turun dari ranjang, dan masuk ke dalam kamar mandi.
Alden mengernyitkan keningnya, bingung akan sikap Zakira yang cuek padanya. Segera pria itu beranjak, menarik selimut dan melipatnya dengan rapi. Sambil menunggu Zakira keluar, dia juga membuka gorden jendela dan pintu balkon.
"Masalah ini harus diselesaikan pagi ini juga," monolog Alden.
Hampir setengah jam, barulah Zakira keluar dari dalam kamar mandi. Wanita itu tampan segar karena baru selesai mandi, langsung menuju ruang ganti untuk menukar handuk mandinya dengan pakaian santai.
Alden masih menunggu dengan setia, meski terus dicueki oleh sang istri. Dia pun bingung, dimanakah letak kesalahannya?
"Sayang," panggil Alden saat Zakira sudah keluar dari ruang ganti.
"Ya," sahut Zakira. Masih cuek.
Pria tampan itu langsung berdiri, berjalan menghampiri istirnya yang sedang duduk di depan meja rias. Alden memeluk leher Zakira, mengecup singkat pipinya.
"Kamu marah?" tanya Alden lembut.
"Nggak."
__ADS_1
"Bohong. Kamu cuek sama aku. Katakan, salahku di mana?"
"Kamu nggak ada salah," balas Zakira.
Alden menghembuskan napas dengan kasar, lalu menarik kursi dan duduk di dekat Zakira. Dia terus memperhatikan kegiatan istirnya itu, sambil berusaha mencari ide agar istirnya mau jujur.
"Sayang," panggil Alden lagi.
"Ya."
"Jawab jujur, aku ada salah apa? Kamu jangan cuek begini, aku tahu kamu lagi ngambek. Tapi aku bingung, ngambek karena apa," ucap Alden panjang lebar.
Zakira memalingkan wajah, menatap Alden dengan saksama. Lalu wanita itu berdiri, berjalan ke arah nakas yang berada di samping ranjang. Tangan dengan jemari lentik itu, mengambil bingkai foto.
"Ini siapa? Pacarmu?" tanya Zakira to the point.
Bukannya menjawab, Alden malah tertawa sambil berusaha menutup mulutnya.
"Hahahaha... kamu lucu, Sayang." Alden masih terus tertawa.
Karena kesal, Zakira memukul pelan bahu pria itu, membuat sang empu mengangguk sambil berhenti tertawa.
"Oke, oke. Aku bakalan jelasin sama kamu," kata Alden sambil membenarkan posisi duduknya.
Dia sudah tampak serius, Zakira pun ikut serius. Saat akan membuka mulut, Alden malah mencubit pelan pipi istrinya.
"Itu adik aku. Sekarang dia lagi kuliah di Swiss," ucap Alden.
"Adik kamu?" tanya Zakira. Dari wajahnya kelihatan tidak percaya.
"Iya, Sayang."
"Tapi kelihatan lebih tua," papar Zakira.
__ADS_1
"Humm. Dia memang kelihatan tua, karena yang cantik dan imut hanya kamu," gombal Alden.
Sungguh ini sesuatu yang tidak bisa Zakira percayai. Seorang Alden tiba-tiba berubah jadi bucin, sudah bisa menggombalnya.
"Rupanya ngambek karena foto itu, hahahaha. Kamu sangat lucu."
"Nggak, siapa yang ngambek? Aku biasa aja, kok," alibi Zakira.
"Hahahaha."
Zakira bernapas lega, ternyata dugaannya salah. Perempuan yang ada di dalam foto itu, adalah adik Alden, bukan pacar maupun mantan.
"Sudah, jangan pikirkan yang aneh-aneh. Aku nggak selingkuh," celetuk Alden.
Pria itu menatap Zakira dengan serius kembali. Sebelah tangannya mengambil tangan Zakira, menggenggam dengan erat.
"Nggak papa, kan, kalau kita tinggal di sini? Bareng Mama?" tanya Alden.
"Maksudnya?"
"Kita tidak jadi pindah ke apartemen," jawab Alden.
"Ya sudah, gak papa."
"Aku hanya khawatir dengan Mama, soalnya beliau tinggal sendirian." Zakira mengangguk mengerti, dia harus bisa memikirkan itu juga.
Di balik itu, Alden merasa bersalah karena belum bisa cerita semuanya pada Zakira. Tentang hubungan kedua orang tuanya yang tidak baik-baik saja, dan tentang perjodohan yang papahnya buat.
Maafkan aku, Zakira.
**
Maaf, guys. Othor baru bisa up kembali.
__ADS_1