
Hari ini Alden tidak pergi ke kantor, pria itu berencana mengajak Zakira untuk pergi jalan-jalan. Awalnya si empu menolak, tetapi Alden terus memaksa hingga akhirnya Zakira menurut.
“Sudah siap? Ayo kita pergi,” ujar Alden sembari menggenggam jemari Zakira.
Saat keduanya akan melangkah, dering ponsel menghentikan. Zakira memeriksa tasnya, tetapi bukan dari ponsel miliknya. Lalu wanita itu melihat ke samping, Alden merogoh saku celana, mengambil ponsel yang masih bergetar.
“Aku angkat telepon dulu,” tutur Alden.
“Kenapa harus menjauh?” tanya Zakira menghentikan langkah suaminya.
“Sebentar ya, ini dari kantor,” kata Alden. Tetapi pria itu tetap pergi menjauhi Zakira.
Dahi wanita cantik itu mengernyitkan, bingung akan sikap Alden yang seperti menyembunyikan sesuatu. Jika memang itu dari kantor, tidak mungkin dia akan menghindar, karena biasanya juga begitu.
Zakira ingin menguping, tapi dia takut akan membuat Alden marah. Akhirnya dia memilih menunggu. Namun, sudah hampir delapan menit, Alden belum juga kembali. Zakira sudah tidak bisa menahan, dia berjalan mendekati ruang ganti, di mana Alden sedang berbicara lewat sambungan.
“Sampai kapan pun, aku tidak akan pernah menuruti keinginanmu itu!”
Suara menggelegar penuh penekanan Alden, membuat Zakira kaget. Dia menyandarkan tubuhnya di dekat pintu, sedangkan telinganya terus bekerja.
“Aku sudah punya istri, dan aku menolak perjodohan itu!”
“Kau pikir aku peduli dengan ancamanmu!”
Alden langsung memutuskan sambungan secara sepihak. Pria itu tampak begitu kesal, terlihat dari cara memasukkan ponsel ke dalam saku. Zakira langsung kembali ke kasur, pura-pura tidak tahu sambil bermain ponsel.
“Sudah selesai?” tanya Zakira.
__ADS_1
“Sudah,” jawab Alden singkat.
“Jadi pergi, kan?” Zakira menatap mata Alden, tetapi suaminya itu langsung berpaling.
Alden menghela napas, sebelah tangannya terangkat menggenggam jemari Zakira.
“Maaf, Sayang. Aku harus pergi ke kantor karena ada sedikit masalah di sana,” ucap Alden.
Dengan pasrah Zakira mengangguk, berulang kali dia menghela napas agar kesal yang mulai timbul bisa hilang kembali. Ternyata benar, Alden menyembunyikan sesuatu darinya.
“Gak papa ya, nanti malam kita perginya. Oke.” Alden mengusap rambut hitam pekat milik Zakira. Tidak lupa pria itu juga membubuhkan kecupan singkat sebelum pergi.
Rasa penasaran semakin mengakar, keingintahuan Zakira pun sangat besar. Dia sendiri jadi tidak tenang, berulang kali menebak rahasia yang Alden sembunyikan darinya. Zakira menepuk jidat pelan, dia langsung menyambar tas selempang dan pergi meninggalkan kamar.
Tidak bisa, dia sungguh tidak bisa menunggu sampai Alden sendiri yang cerita. Tadi dia sudah mendengar semuanya, tentang perjodohan. Perjodohan apa maksud Alden?
“Aku tidak tahu apa yang terjadi, Al. Tetapi rasanya sakit sekali, saat kamu berbohong padaku,” lirih Zakira. Matanya tidak lepas memandangi mobil Alden yang mulai masuk ke dalam gerbang sebuah rumah megah.
Dia memilih pergi, Zakira mengemudi mobilnya kembali menuju butik. Sebenarnya dia ingin menyusul Alden, tetapi Zakira ingat dia tidak akan bisa masuk ke dalam rumah megah tadi. Jadi, Zakira memilih menenangkan dirinya di butik.
“Tumben, Zar, datang ke sini,” celetuk Mina.
“Iya,” jawab Zakira.
Zakira memperhatikan penampilannya dari atas sampai bawah. Dress yang dia pakai dengan motif kesukaan Alden, memang sengaja Zakira memakainya agar mendapat pujian dari pria itu. Namun, semua malah berakhir seperti ini.
“Kamu kenapa, sih? Kalau datang pasti selalu murung?” Mina menghentikan pekerjaannya, gadis itu lebih memilih menemani sang sepupu.
__ADS_1
“Bagaimana responsmu, jika orang yang kamu percayai berbohong?” tanya Zakira.
“Pasti kecewa. Tetapi ketahui dulu, bohongnya demi kebaikan atau malah sebaliknya,” ujar Mina.
“Memangnya ada ya, kebohongan demi kebaikan?” Zakira bertanya kembali. Mina mengernyitkan dahi, bingung.
Gadis dengan setelan kerja itu, menatap lamat-lamat sepupunya. Lalu tanpa dikomando, dia menepuk pelan pipi Zakira.
“Kan, kamu dulu yang bilang. Bisa saja seseorang itu berbohong demi kebaikan orang lain. Astaga, kamu sudah pikun, ya?” cibir Mina.
“Ah, iya. Lupa.”
“Kamu kenapa, sih? Lagi ada masalah sama Alden?” Mina mendesak.
“Nggak, kok.”
“Aku kasih tahu ya, Zar. Mending kamu pulang, tenangkan diri kamu di rumah. Jangan kaya’ gini, karena ini bukan sifat Zakira.”
Perkataan Mina benar, Zakira terlalu kalut dan kecewa. Harusnya dia bisa berpikiran jernih, mungkin memang Alden belum bisa cerita. Dan seharusnya dia juga tidak perlu terlalu kepo.
**
Othor benar-benar minta maaf karena jarang up. Othor lebih berusaha untuk up tepat waktu.
__ADS_1