Ketika Pamanmu Menjadi Pengantin Pengganti

Ketika Pamanmu Menjadi Pengantin Pengganti
Bab 42. Bebek


__ADS_3

[MAS! AKU MINTA BEBEK GORENG BUKAN BEBEK YANG MASIH HIDUP!!]


[Sama aja, Sayang. Nanti kamu tinggal minta ibu buat gorengnya. Udah dulu, ya. Mas mau lanjut meeting.]


Benar-benar sialan! Dera terus menggerutu dalam hati karena ulah Daren. Tadi, karena tidak sabar menunggu pria itu kembali. Dia meminta Daren untuk order bebek goreng dan mengirim padanya. Namun, yang datang malah seorang Befan dengan seekor bebek.


“Bos meminta saya mengantar bebek ini pada Nyonya,” ucap Befan saat itu, dan sukses membuat Dera meledak.


Sampai-sampai ibu yang baru kembali dari pasar pun, kena semprot oleh Dera. Dia terus mengomel, wajahnya masih merah padam saat sambungan terputus.


“Dasar Mas Daren gila!!” teriak Dera, frustrasi.


Sekarang apa yang harus dia lakukan dengan bebek ini? Mendengar suaranya saja sudah memekakkan telinga Dera. Alhasil gadis itu kembali berteriak, memanggil Vera.


“Apa, sih, Der?” tanya Vera dengan wajah kusutnya.


“Bantu aku buang bebek ini!” pinta Dera.


“Dih, bebek-bebek kamu, kenapa juga aku yang repot.


“Vera!”


“Ah, baiklah bumil sensitif.”


Dengan kesal Vera mengambil bebek yang diikat kakinya di lantai dan dia bawa ke belakang. Dera sangat membuat dia kesal.


**


Prang


“Astaga, Sayang!” Pekikan Daren membuat seisi rumah terkejut.


“Pergi!” teriak Dera.


Baru saja Daren ingin masuk ke dalam kamar, nampan sudah terlempar ke arahnya dan hampir saja mengenai dia kalau saja Daren tak menutup pintu. Napas pria itu tersengal-sengal karena kaget, jantungnya masih berdegup kencang dengan wajah tegang.

__ADS_1


Ibu datang dengan tergopoh menghampiri Daren. “Ada apa, Nak?”


“Hanya masalah kecil, Bu. Dera sedang merajuk pada saya,” jawab Daren. Mencoba tersenyum meski raut terkejut masih kentara.


“Oh, ya, sudah kalau begitu selesaikan masalah kalian dengan baik.” Ibu kembali ke dapur.


Daren ingin membuka pintu kamar kembali, tetapi masih takut akan Dera. Bisa jadi bukan hanya nampan yang dia lempar, tetapi botol kaca atau pot bunga. Daren sungguh tak bisa membayangkan itu.


“Ehem. Abang sepupu ipar.” Vera sudah berdiri di dekat tembok sambil mengedipkan mata.


“ya?”


“Mau Adek bantu?” tawar Vera.


“Boleh. Tolong buat Dera tidak marah lagi pada saya,” pinta Daren dengan tatapan memohon.


“Baik. Asalkan ....”


“Kamu mau apa? Saya pasti akan turuti semua keinginanmu,” potong Daren cepat.


Daren diminta untuk menyingkir, agar Vera bisa masuk untuk membujuk Dera. Akhirnya pria itu memilih duduk di sofa, sambil menunggu Vera yang keluar dari dalam kamar.


Sedangkan di dalam kamar, Dera menatap tajam Vera yang cengar-cengir sambil mengedipkan matanya.


“Ngapain kamu di sini? Pergi sana!” usir Dera.


“Eits, sabar dulu, Sayang. Aku ada informasi menarik, nih,” ucap Vera sambil mendekat.


“Apa?!”


Vera mendekat, membisikkan sesuatu di telinga Dera yang langsung membuat wanita itu tersenyum. Hati yang tadinya sangat kesal, akhirnya luluh oleh sebuah penawaran dari Vera.


“Asik! Kamu serius, kan?”


“Iya, Dera Sayang.”

__ADS_1


Hahaha. Vera tertawa jahat dalam hati. Sepertinya dia akan mendapat banyak uang karena sudah membuat Dera tersenyum.


“Sudah sana, temui suamimu,” kata Vera sambil mendorong Dera.


“Oke. Tenang aja, nanti kamu aku kasih lima persennya.”


Ah, bahagianya aku bakalan dapat dari dua orang ini.


Dengan riang Vera ikut keluar kamar, dia langsung masuk ke dalam kamarnya dan menyetel musik DJ. Di dalam kamar gadis itu bergoyang penuh keceriaan, meluapkan kebahagiaan.


**


“Mana tiga puluh jutanya, Mas? Aku mau perawatan wajah dan rambut.” Dera mendudukkan dirinya di pangkuan Daren, sambil membelai pipi pria itu.


Sontak mata Daren melotot. Perasaan dia tak ada janji pada istrinya, tetapi mengapa wanita itu menagih.


“Tiga puluh juta apa, Sayang? Mas, kan, nggak ada janji kasih uang,” sahut Daren.


“Dasar pembohong! Kata Vera, kalau aku berhenti ngambek, kamu bakalan kasih uang ke aku!”


Eh. Dasar Vera! Daren hanya bisa menghembuskan napas kasar, lalu mencoba tersenyum manis.


“Ah, Sayang. Jangankan tiga puluh juta, tempat salonnya saja bisa Mas beli untuk kamu,” bujuk Daren.


Dera langsung tersenyum. “Beneran? Kalau gitu aku minta belikan tempat salonnya aja, nggak jadi uang tiga puluh jutanya.”


Mati aku!


 


**


Maaf sedikit, guys. Soalnya othor mentok ide.


 

__ADS_1


 


__ADS_2