Ketika Pamanmu Menjadi Pengantin Pengganti

Ketika Pamanmu Menjadi Pengantin Pengganti
Bab 49. Takkan Pergi


__ADS_3

Daren baru saja selesai membuat bubur dan teh hangat untuk Dera. Sebelum membawa makanan buatannya ke kamar, lebih dulu pria itu membersihkan dapur. Dia tidak ingin, pelayan yang turun tangan karena yang mengacaukan dapur adalah dirinya.


Bukan mengacaukan karena Daren tidak bisa memasak, dia memang tidak terlalu pandai tapi bisa. Mengacaukan dalam artian adalah, bekas-bekas memasak bubur itulah yang harus dia bereskan. Meskipun salah satu pelayan sudah melarang, Daren tetap kukuh mengerjakannya.


Setelah semua bersih dan rapi, barulah Daren pergi ke kamar dengan membawa nampan berisi bubur dan teh hangat. Dera masih berbaring ketika dia masuk, tetapi lekas duduk.


“Kenapa Mas harus repot-repot, sih?” tutur Dera.


“Repot untuk istri. Tidak apa,” jawab Daren.


Mendapati bubur dalam mangkuk, Dera langsung menghirup aromanya. Seketika dia ingin muntah.


“Aku nggak mau makan bubur, Mas!” tandas Dera cepat.


“Kenapa? Ini enak, loh. Tadi Mas udah cobain.”


“Pokoknya aku nggak mau! Lagian, Mas bikinin aku makanan, tanpa bilang lebih dulu.” Bibir Dera sudah maju lima senti. Wanita hamil itu merajuk.


Daren menghela napasnya, membawa mangkuk bubur ke meja yang berada di depan TV. Dia hanya mengisahkan teh hangat saja, agar Dera meminumnya.


“Maaf, ya. Mas nggak tahu kalau kamu nggak mau makan bubur,” ucap Daren sambil mengusap puncak kepala Dera.


Wanita itu mengangguk. “Tapi nanti beli ayam geprek, ya? Soalnya aku kepingin,” pinta Dera dengan suara lembut. Dia mengedipkan-ngedipkan matanya.


“Iya. Ngapain kedip-kedip gitu, kamu sakit mata?”


“Mas, ish!”


“Hahaha. Maaf, Sayang.”


Suasana mendadak senyap. Dera dan Daren sama-sama sibuk dengan pikiran masing-masing. Dera menunduk, kedua tangannya saling memilin di bawah selimut. Dia ingin cerita tentang kiriman Pandu pada Daren, tetapi Dera takut pria itu akan marah.

__ADS_1


“Kalau ada yang mengangguk pikiranmu, bisa kamu bagi denganku. Siapa tahu aku bisa memberi solusi.” Daren buka suara. Pria itu tahu  bahwa Dera sedang banyak pikiran.


Dera bungkam. Dia masih ragu.


“Sayang,” panggil Daren. Jemari besar pria itu, sudah membelai lembut kedua pipi Dera.


“Aku ingin cerita sesuatu sama Mas. Tapi janji, ya, Mas jangan marah,” kata Dera sambil menyodorkan jari kelingkingnya pada sang suami.


Melihat tingkah Dera, Daren tergelak.


“Mas!”


“Iya, Sayang. Mas janji.” Akhirnya Daren menautkan kelingkingnya dengan Dera.


Menghirup, lalu dihembuskan. Dera melakukan itu sebanyak tiga kali sebelum dia bercerita. Daren tetap setia menunggu sang istri, tatapannya pun tidak pernah beralih pada wajah yang selalu menjadi candunya.


“Sebenarnya, tadi pas mau pergi makan siang dengan Yana. Aku mendapatkan paketan dari seseorang. Awalnya aku nggak tahu siapa pengirimnya, tetapi ketika aku membukanya ....” Dera sengaja menghentikan ucapannya dengan tubuh bergetar.


“Kamu tahu siapa si pengirim?”


“Aku bisa tahu bahwa itu Pandu, karena yang tahu aku suka karangan bunga hanya dia. Dan lagi, dia menuliskan kata-kata itu menggunakan kertas yang aku sukai juga. Tapi, aku tidak pernah berpikir akan bertemu dengannya di taman.” Dera menunduk, menahan gejolak yang terus berkobar dalam dada.


“Apa yang kamu rasakan, setelah bertemu dengan dia?” tanya Daren datar.


“Tentu saja sakit, Mas. Dia seperti mempermainkan aku,” jawab Dera.


Melihat istrinya kembali menangis, Daren segera membawa ke dalam rengkuhannya. Dipeluknya erat, mencoba memberikan ketenangan lewat tubuhnya.


“Aku benci dia, Mas,” lirih Dera.


“Kamu mencintainya,” balas Daren.

__ADS_1


“Cinta? Mas gila! Aku membencinya! Dia laki-laki brengsek yang melukai hatiku dan ibu!” tangkasnya. Tatapan Dera berubah tajam pada Daren.


Daren menghela napas kasar. “Aku melihat cinta dimatamu. Mulut bisa berbohong, tetapi mata tidak.”


“Mas! Kamu ....”


“Aku akan mundur, jika kamu masih menginginkannya. Aku nggak mau menyiksamu dengan pernikahan ini.”


Wanita hamil itu menggeleng kuat. Dia turun dari ranjang, berjalan mundur menjauhi Daren. “Kamu tega, Mas! Setelah menghamiliku, kamu ingin pergi. Kamu bilang, kamu akan berusaha agar aku juga mencintaimu. Mana, Mas! Kamu bohong!” jerit Dera dengan air mata yang sudah tidak bisa dibendung lagi.


“Sayang, bukan begitu maksudku.”


“Kamu udah buat aku kecewa, Mas! Setelah Pandu, kamu juga mau ninggalin aku. Iya, ‘kan?”


“Sayang, dengerin dulu penjelasanku. Kumohon.” Daren berusaha menggapai tubuh Dera, tetapi wanita itu menepisnya.


Masih dengan tangis yang semakin menyayat hati, Dera terjatuh di sudut ruangan. Dia menangis tersedu-sedu, menyembunyikan wajahnya di antara kedua lutut.


“K-kamu ... jahat, Mas. Hiks.”


“Sayang, maaf. Bukan begitu maksud, Mas.” Daren menyentuh kedua bahu Dera yang berguncang.


Awalnya Dera terus menepis, tetapi Daren memaksa agar wanita itu masuk ke dalam pelukannya. Diciumnya berulang kali ubun-ubun sang istri, Daren ikut menitikkan air mata.


 “Mas tidak akan pergi, Sayang. Kecuali kamu sendiri yang memintanya. Mas sudah berjanji, akan terus berjuang mendapatkan hati kamu.” Daren mengecup kedua mata Dera yang basah.


Sang empu semakin erat memeluk, menumpahkan segala sesak yang menimpuk dada.


“Sayang, cepetan balas cinta Mas, ya,” bisik Daren diakhiri kecupan singkat pada telinga Dera.


**

__ADS_1


Hadiah, vote, like sama komennya dong. Biar othor makin semangat, buat gas terus.


 


__ADS_2