Ketika Pamanmu Menjadi Pengantin Pengganti

Ketika Pamanmu Menjadi Pengantin Pengganti
Bab 57. Virus Cinta


__ADS_3

Siang menjelang sore itu, Dera meminta Reva untuk pulang duluan. Dia masih ingin ke rumah ibu, karena rindu begitu dalam dan ingin bertemu. Dengan diantar sopir, Dera mengunjungi rumah orang tuanya.


Ketika dia sampai, ibu sedang duduk di teras rumah. Wanita paruh baya itu menyambut dengan pelukan hangat, membawanya masuk untuk dijamu makanan yang dia buat tadi.


“Kamu udah jarang muntah-muntah, kan, Sayang?” tanya ibu sambil meletakkan kue dan teh.


“Hampir tidak pernah lagi, Bu.”


“Syukurlah. Jadi kamu bisa menikmati kehamilan ini,” ujar ibu.


“Sebenarnya yang paling aku nikmati, ya, pas muntah-muntah parah, Bu. Aku merasa menjadi calon Ibu yang sesungguhnya. Hehe.”


“Hahaha, gak apa, Sayang. Ibu dulu juga gitu. Meski lemes dan gak selera makan, tetapi nikmatnya itu loh.” Ibu begitu bahagia saat menceritakan tentang kehamilannya dulu.


Justru Dera yang merasa sedih. Dia dengar cerita dari nenek, ibu dulu ketika mengandung dia, ayah sering tidak pulang ke rumah. Kalau pulang pun, ayah jarang memperhatikan ibu yang saat itu memang butuh dukungan. Dera segera memeluk ibunya dari samping, menempelkan dagu pada bahu sang ibu.


“Aku kangen banget sama Ibu,” cicit Dera, semakin mengeratkan pelukannya.


Hamidah membalas dengan mengecup singkat kepala Dera. “Ibu pun kangen, Sayang. Rasanya sepi rumah tanpa kamu. Apalagi kamu tahu, Vera sibuk dengan skripsi.”


“Kalau udah lulus entar, Vera pasti bakalan balik kayak dulu lagi, Bu. Dia itu tipe orang yang gak bisa diem,” celetuk Dera.


“Kamu doain semoga Vera lulus dan mendapatkan pekerjaan yang bagus.”


“Amin.”


Lalu keduanya kembali mengobrol ringan sambil menikmati camilan yang Hamidah buat sendiri. Dera pamit ketika jarum pendek jam sudah menunjukkan pukul 16.00 sore. Dia harus segera sampai di rumah dan menyambut Daren kembali dari kantor.


Ibu sempat bertanya soal Pandu, Dera pun menjelaskan apa yang terjadi dengan pria itu. Ibu merasa kasihan, tetapi itu sudah jalan takdir, mereka tidak bisa melakukan apa pun.


**


“Selamat datang kembali, Sayangku,” ucap Dera sambil mendekap tubuh Daren.


“Terima kasih, Sayang.” Daren membalas pelukan istrinya.


Lima menit keduanya saling melepas rindu, Daren menggiring istrinya untuk ke kamar. Selagi dia mandi, Dera menyiapkan pakaian yang akan Daren pakai. Selesai mandi dan berganti baju, barulah Dera kembali memeluk erat tubuh Daren. Mengendus-endus aroma tubuh pria itu yang sangat memabukkan.

__ADS_1


“Aku mau cerita, Mas,” lirih Dera sambil mengangkat kepalanya.


“Cerita apa, hmm?” Daren membelai rambut lembut dan wangi istrinya.


“Tadi aku ketemu Mima, pas pergi bareng Reva.”


“Terus? Kalian terlibat obrolan?” tanya Daren yang mulai penasaran.


“Iya, tapi obrolan tak mengenakkan.” Dera menghela napas kasar, sangat malas mengingat masalah tadi. “Dia bikin aku emosi banget,” lanjut wanita hamil itu.


“Memangnya dia ngomong apa, Sayang? Sampai bikin kamu emosi?”


“Mas, ih! Diem dulu, dong. Aku, kan, belum siap ngomong!” sungut Dera.


Daren terkekeh sambil menganggukkan kepalanya. Dia mengerti, wanita memang selalu ingin didengar tanpa menyela. Jadi, sekarang dia akan fokus mendengarkan sang istri cerita.


“Dia itu loh, gak ada malunya sama sekali. Bisa-bisanya ngomongin soal jebakan itu sama aku, mantan Pandu. Mana bawa-bawa anak lagi, kan, belum tentu juga dia beneran hamil!”


“Sumpah. Dia itu bikin aku emosi banget, merendahkan lewat tatapan. Belum tau aja dia, kalau aku menikah sama sultan yang duitnya gak bakalan habis tujuh turunan!” geram Dera.


“Tapi, Mas ....”


“Nggak ada tapi-tapian, Sayang. Mas nggak mau kamu berantem, apalagi sampai baku hantam nantinya.”


“Dih, nggak lah. Mana mau aku baku hantam!”


“Hehehe. Siapa tahu. Mas, kan, cuma bilang.”


**


Sore itu Vera baru kembali dari rumah teman, dia menyempatkan mampir di rumah makan Padang untuk membeli dua bungkus nasi Padang untuknya dan ibu Hamidah. Namun, saat akan membayar tiba-tiba tubuhnya ditubruk dari belakang.


“Astaga! Pelan-pelan, dong, Mas. Ngantre!” sungut Vera kesal.


“Aku tidak sengaja.”


Dera segera bangkit dari mengambil nasi bungkus yang jatuh. Dia menatap dengan saksama wajah dingin nan datar milik Befan, tetapi sang empu tampak tak acuh.

__ADS_1


“Kita bertemu kembali, Pak,” ucap Vera sambil menyunggingkan senyumnya.


“Aku bukan bapakmu! Jadi, wajarlah ketika memanggil orang yang tidak Anda kenal!” tekan Befan.


“Dih, gitu aja marah. Awas loh, entar cepat tua,” kata Vera.


“Jangan sok kenal kamu!”


“Emang kenal. Wlee.”


“Gila.”


“Kamu gila,” sahut Vera tak mau kalah.


Befan menghela napas kasar, dia mengusap wajahnya menggunakan tangan. “Mending segera menyingkir. Aku juga ingin membayar.”


“Ciee... yang panggilannya berubah jadi Aku-Kamu,” ledek Vera sambil mencolek lengan Befan.


Pria tampan itu menepis kasar tangan Vera, mengusap lengannya yang tadi disentuh oleh gadis di hadapannya itu.


“Aku bukan kuman loh, nggak perlu dibersihkan, kaya’, gitu,” celetuk Vera.


“Virus mematikan.”


“Salah. Aku itu virus cinta yang akan menggetarkan hatimu. Hihihi. Awas entar jatuh cinta sama aku, ya.” Vera menjulurkan lidahnya, dia berlari kencang selesai membayar.


“Dasar gadis aneh,” lirih Befan.


Tanpa sadar dia menyunggingkan senyum kecil, tetapi buru-buru mengubah mimik wajah kembali.


 **


Maaf kalau othor up-nya sedikit dan lambat. Soalnya othor juga sibuk dengan tugas-tugas sekolah. Mohon pengertiannya🤗


 


 

__ADS_1


__ADS_2