Ketika Pamanmu Menjadi Pengantin Pengganti

Ketika Pamanmu Menjadi Pengantin Pengganti
Season 2: 9


__ADS_3

“Maaf kalau Bunda nggak peka sama perasaanmu.”


“Bunda?”


Keduanya berada di kamar Zakira, Dera langsung menghampiri gadis itu. Mendudukkan tubuhnya di tepi kasur sang putri. Sedangkan Zakira hanya diam, bingung dengan sikap maupun ucapan sang bunda.


“Maaf, Nak. Maaf ....” Bunda memegang tangan Zakira dengan wajah sendu.


“Nggak, Bunda. Jangan, kaya’, gini. Bunda nggak boleh minta maaf sama Kira,” ucap Zakira sembari mengecupi punggung tangan Dera berulang kali.


Dera tak kuasa menahan air matanya, dia mengusap rambut hitam lebat putrinya itu. Terbayang gadis kecil yang manja, wajah mungil Kira saat kecil terus menghampiri Dera.


Dengan lembut Zakira mengusap air mata Dera, berulang kali gadis itu menggelengkan kepala.


“Bunda agak pucat. Bunda sakit?” tanya Zakira sambil memegang pipi Dera dengan kedua tangannya.


“Tidak, Sayang,” jawab Dera.


Zakira mengangguk. Dia kembali memperhatikan kamarnya, bangkit dan memasukkan ponsel dalam tas. Koper berisi baju sudah berada di sudut ruangan. Zakira menyiapkan itu dengan matang.


“Bunda minta maaf karena tidak peka dengan perasaanmu, Nak. Bunda tahu kamu mencintai Arfan, harapan untuk dijodohkan dengan dia terlihat dimatamu ketika malam itu.” Dera menjeda ucapannya sambil menghirup udara dalam-dalam.


“Tapi Bunda tak kuasa, Sayang. Bunda lemah, Bunda nggak bisa menolak permintaan adik kamu,” lirih Dera. Zakira segera menggenggam tangan sang bunda.


“Kira mengerti, Bunda. Kira nggak apa-apa, kok. Malah Kira bahagia, karena Nira juga bahagia.”


“Bunda tahu kamu terluka, Sayang.”


“Kira bisa melupakan Arfan karena kebahagiaan Nira sangat penting.”


Zakira tersenyum, meyakinkan Dera. Wanita setengah baya itu ingin menyangkal, tetapi Zakira terus menggeleng sambil tersenyum.


“Tenang, Bunda, Kita baik-baik saja.”

__ADS_1


☀️☀️☀️


Daren dan Dera akan melepaskan kepergian Zakira bersama ibu Hamidah. Gurat kesedihan jelas terlihat di wajah mereka, merasa tidak becus sebagai orang tua. Namun, ibu Hamidah terus meyakinkan mereka, bahwa Zakira memilih ini karena dia yakin dengan setiap langkahnya.


Aaron pun turut sedih karena harus berpisah dengan kakak kesayangannya itu. Bahkan sejak tadi, pria yang terkenal sangat jahil enggan melepaskan pelukan.


“Sudah, Aaron. Lihat, tuh, sopir taksinya sudah menunggu,” tegur Zakira sambil berusaha melepaskan pelukan sang adik.


“Kakak, ish. Itung-itung stok buat beberapa hari ke depan. Bahkan Minggu, atau mungkin bulan,” sahut Aaron kesal.


“Kamu ini ada-ada saja, lagian Kakak, kan, masih bekerja di butik. Jadi, kapan pun kamu bisa datang ke sana kalau rindu,” ujar Zakira.


“Pokoknya Kakak harus sering balik ke sini. Titik!”


“Iya, iya. Bawel, deh.”


Zakira mencubit kecil hidung Aaron, membuat sang empu mendengkus sebal.


“Kalau gitu Kira sama Nenek, pamit, ya?”


“Siap, Yah.”


Zakira mengecup pipi kedua orang tuanya secara bergantian. Setelah itu dia melambaikan tangan dan masuk ke dalam taksi.


Selama dalam perjalanan, Zakira diam saja sambil memandang luar jendela. Nenek Hamidah mengerti, tidak ingin mengganggu sang cucu.


☀☀️☀️


Selesai menyusun semua baju dan peralatan pada tempatnya, Zakira memilih keluar untuk membuat makan malam. Gadis itu tidak ingin merepotkan nenek, sebab Zakira sangat kasihan kalau nenek sampai kelelahan.


“Nenek mau dimasakin apa?” tanya Zakira pada nenek yang sedang duduk di sofa.


“Apa saja, kalau itu masakan kamu pasti Nenek makan,” ucap nenek Hamidah.

__ADS_1


“Oke, Nek.”


Zakira bergegas pergi ke dapur, mengambil semua bahan-bahan yang diperlukan. Gadis itu menilai masak opor ayam dan lauk pauk lainnya. Namun, kegiatannya terhenti ketika mendengar bunyi ketukan pintu. Zakira mengabaikan, tetapi ketukan semakin terdengar. Dia berpikir, mungkin nenek ketiduran.


“Iya, sebentar,” teriak Zakira sambil melepas celemek pinggangnya.


Ceklek


“Maaf, cari siapa—“


“Saya Alden, sopir pribadi utusan Tuan Daren.” Pria yang berdiri di depan pintu, memotong ucapan Zakira.


“Oh, sopir? Silakan masuk.”


“Tidak perlu, Nona. Saya harus pergi ke depan sebentar. Permisi,” ucap pria itu seraya melangkahkan kakinya meninggalkan rumah nenek.


Zakira mengerutkan kening, setelah itu mengedikkan bahu dan kembali masuk ke dalam rumah.


***


Silahkan mampir.



 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2