
“Dasar pelakor!”
Tubuh Vera terhuyung ke belakang, hampir saja dia jatuh kalau saja tak bisa menjaga keseimbangan. Gadis itu kembali berdiri tegak, menatap orang yang sudah mendorongnya.
“Kak Mima?” Mata Vera membulat karena terkejut.
“Ya. Kenapa? Kamu kaget?” Mima semakin menghunus Vera dengan tatapan tajamnya.
Vera sendiri merasa tidak ada masalah apa pun dengan Mima, tetapi wanita itu seolah tengah mengibarkan bendera perang padanya. Vera berdehem, demi menetralkan dada yang sudah ditimpuk kesal. Dia mencoba tersenyum, demi suasana agar tidak tegang.
“Maaf. Kenapa Kakak dorong aku?” tanya Vera sopan.
Mima mendecih, mendorong kecil bahu Vera menggunakan telunjuk kanannya.
“Pura-pura nggak tahu diri?” Mima balik bertanya.
“Maksudnya apa, ya, Kak? Aku nggak ngerti.” Vera masih berusaha untuk tenang, meskipun hatinya sudah belingsatan pengen balas dorongan Mima.
Vera bukan tipe gadis yang akan diam saja jika ditindas. Sebisa mungkin dia akan membalas dengan serupa agar orang yang menindasnya tidak berani macam-macam.
“Heh, pelakor! Sadar diri, lo udah deketin cowok gue!” teriak Mima.
“Cowok Kakak? Siapa?” Vera masih belum mengerti, tetapi dia kembali terhuyung karena Mima mendorongnya lagi.
“Dasar cewek cupu, lo! Berani-beraninya rebut cowok gue! Sampai jalan bareng lagi!”
Lagi lagi Mima mendorong Vera, sayangnya gadis itu tidak siap hingga membuatnya terhuyung semakin ke belakang. Vera menutup mata, pasrah kalau dia akan jatuh. Namun, sudah lima menit dia tidak merasakan bokongnya mencium tanah. Segera Vera membuka mata, seketika dia melihat wajah Befan terpampang nyata di depannya.
__ADS_1
“Kamu gak papa?” Befan menyentuh pipi Vera, membuat sang empu tersadar.
Vera mengangguk, berusaha berdiri dengan jantung yang sudah tidak bisa dikondisikan lagi. “Aku baik-baik aja, Pak.”
“Setelah deketin cowok gue, terus porotin dia. Sekarang Lo deket sama cowok ini? Dasar, ya, Lo perempuan murahan!” amuk Mima. Hampir saja menarik rambut Vera kalau Befan tidak langsung menarik gadis itu dan memeluk erat dari belakang.
Rahang Befan mengeras, kedua tangannya terkepal dengan buku-buku tangan sudah terlihat. Untung saja dia kembali cepat dari dalam minimarket, kalau tidak dia tak tahu apa yang akan terjadi dengan Vera.
Gadis dalam pelukan Befan memberontak, Vera sudah tidak bisa bersabar lagi. Bukan hanya tubuhnya yang dicemooh, tetapi hatinya juga. Mima memang benar-benar mencari gara-gara dengannya.
“Lepas, Pak! Aku akan balas wanita gila ini!” teriak Vera sambil berusaha melepaskan pelukan Befan. Sayangnya pria itu semakin erat memeluk.
Vera semakin brutal, tetapi Befan terus mengerahkan tenaganya untuk menahan gadis itu. Dia melotot pada Mima, yang hanya dibalas dengan senyum tersungging meremehkan.
“Vera diam! Diam saya bilang!” bentak Befan. Vera terkejut dan langsung terdiam.
Napasnya tersengal-sengal, dia menatap bawah dengan kedua tangan saling terkepal. Befan menyentuh pelan bahu Vera, berniat menenangkan gadis itu.
“Anda diam!” bentak Befan.
“Ngapain, sih, kamu belain gadis ini. Dia itu pelakor! Harusnya kamu tinggalin aja!”
“Tahu dari mana Anda kalau calon istriku pelakor, hah! Memangnya benar yang Anda katakan, tentang calon saya yang menggoda pacar Anda?” tanya Befan dengan nada tegas. Sorot matanya semakin tajam seakan menguliti Mima.
“Ya ... ya dia pernah pergi dengan cowokku. Pokoknya dia itu pelakor!”
Rahang Befan semakin mengetat, dia melepaskan Vera dan berjalan maju. “Sekali lagi Anda mengatakan calon istri saya pelakor. Jangan salahkan saya, jika akan terjadi sesuatu dengan Anda!”
__ADS_1
“Pak!” Vera memegang lengan Befan. Dia berada di belakang pria itu, dan terkejut dengan kata ‘calon istri’.
“Aku tidak takut! Karena semua yang aku katakan itu benar!” tantang Mima.
“Anda—“
“Kak Mima kalau ada masalah sama aku, lebih baik ngomongnya baik-baik aja. Aku bukannya nggak berani balas Kakak, hanya saja kita sudah sama-sama dewasa. Pastinya punya otak yang bisa digunakan dengan baik,” potong Vera.
“Nggak usah ceramah! Munafik, Lo!”
“Siapa? Siapa nama cowok Kakak yang dekat sama aku?” Vera malah terus mendesak. Dia sudah muak dengan drama Mima yang hanya terus menghinanya.
“Pandu!”
Seketika Vera tertawa terpingkal-pingkal. Lucu sekali wanita di depannya itu, mengaku Pandu adalah pacarnya padahal pria itu tidak pernah menganggap dia ada. Ya, Pandu sudah ceritakan semuanya. Juga tentang penolakan dia pada Mima, karena wanita itu tidak terbukti hamil.
“Masih waras, kan, Kak? Coba, deh, ntar sampai rumah ngaca,” ejek Vera.
“Kamu—“
“Kakak itu bukan siapa-siapanya Mas Pandu. Lagian, Mas Pandu juga nggak mau sama Kakak. Jadi nggak salah dong, kalau aku dekat sama dia. Kalian, kan, tidak ada hubungan apa pun,” jelas Vera sambil menahan tawa.
Mima ingin mendorong Vera tetapi langsung dicegah oleh Befan. Pria itu langsung mendorong balik Mima hingga terduduk di tanah.
“Anda tenang aja. Saya bakalan larang calon istri saya untuk dekat dengan pacar Anda itu. Dan tolong, bilangin pacar Anda untuk tidak dekat-dekat lagi dengan Vera!” tekan Befan. Vera melotot mendengarnya.
“Udah stop, Ver. Jangan ngomong apa-apa lagi. Kamu nggak perlu ngeladeni orang gila macam dia.”
__ADS_1
“Awas saja kalian!”