
Di kediaman lain, sepasang suami-istri tengah bertengkar hebat. Si istrinya mencoba untuk menenangkan, tetapi sang suami terus menepisnya.
“Kamu kenapa, sih? Terus aja godain Daren? Sebenarnya kamu masih mencintai dia, kan?” bentak Hafran.
Ah, sudah gagal rencana, malah dapat amukan dari suami juga. Mantap sekali hidup Jilia, dia menghela napas kasar. Kembali mendekati Hafran, memeluk tubuh pria itu supaya bisa menenangkan amarahnya.
“Nggak, Sayang. Kamu, kan, tau kalau aku cuma cintanya sama kamu,” ucap Jilia dengan manja.
“Tapi kenapa kamu selalu berbuat gila seperti ini?”
“Kamu, kan tau, Mas. Aku melakukan semua ini demi harta,” papar Jilia.
Hafran terdiam. Meski dia juga menginginkan harta Daren, tetapi melihat istrinya terus menggoda pria itu, dia juga cemburu. Bagaimanapun dia manusia biasa, mana terima istrinya mendekati pria lain.
“Sudah, ya, kamu jangan marah dan cemburu lagi. Aku tuh cintanya cuma sama kamu, nggak yang lain?”
Akhirnya Hafran luluh dengan ucapan Jilia yang disertai dengan ******* kecil di bibirnya. Keduanya saling mencumbu, melupakan masalah yang telah terjadi di antara mereka. Jilia sangat bahagia, bisa membuat Hafran kembali baik padanya.
**
Sebelum tidur, Dera menyempatkan diri untuk mencuci kaki dan tangan serta menggosok gigi. Selama hamil dia sangat malas, untuk membersihkan diri saja kadang karena paksaan Daren. Selebihnya dia gunakan waktunya untuk tidur, makan, dan tidur lagi.
Ibu tidak masalah karena mungkin memang bawaan bayj, hanya saja Daren merasa segan. Sebab, mereka menumpang tetapi tidak tahu diri.
“Sayang,” panggil Daren ketika mendapati Dera sudah bergelung selimut di ranjang.
“Hmm.”
__ADS_1
“Jangan lupa besok bangun pagi,” ingati Daren.
“Iya, iya,” cetus Dera.
Daren kembali melanjutkan pekerjaannya yang tersisa. Dia membiarkan Dera tidur lebih dulu, karena sekarang dirinya belum bisa menemani wanita itu.
Sudah berusaha untuk terpejam, matanya kembali terbuka. Dera menggerutu karena tidak bisa tidur padahal tadi sangat mengantuk. Berbalik arah, dia kembali memejamkan mata tetapi hasilnya tetap sama.
Melihat Daren yang duduk di sofa sambil memangku laptop, senyum Dera tersungging. Dia mengabsen wajah pria itu, dari mulai mata, hidung, sampai pada bibir. Seksi dan berwarna agak kemerahan, Dera menelan ludah susah payah.
Astaga, apa yang aku pikirkan? Kenapa aku ingin itu.
Dera memukul kepalanya sendiri. Dia bangkit dan berjalan ke sudut kamar untuk mengambil minum di dispenser. Aktivitasnya menarik perhatian Daren yang awalnya sangat fokus pada file-file di laptop.
“Ngapain, Sayang?”
“Mandi! Udah tau lagi ngambil minum,” cetus Dera.
“Belum ngantuk.”
“Kalau gitu, sini, temani Mas kerja,” pinta Daren sambil menepuk sisi sofa yang kosong.
Bodoh! Hatinya menolak, tetapi seluruh anggota tubuhnya mendukung. Dera menghampiri dengan perasaan tak menentu. Tubuhnya meremang ketika menghirup aroma mint yang menguar dari tubuh Daren. Hingga tanpa sadar, gadis itu mengendus sampai ke leher.
“Ngapain, Sayang?”
“Hah? Anu ... itu, aku mau tidur,” kata Dera gugup. Ke tangkap basah!
__ADS_1
“Yakin?” Daren menaikturunkan sebelah alisnya menggoda. “Bukan ingin sesuatu? Sampai-sampai endus leher aku.”
“Apa? Nggak, kok! Tadi cuma mau mastiin, wangi mint itu milik siapa,” elak Dera.
“Masa? Bukannya kamu tau, kalau mint itu punya aku?”
“Hmm ....”
“Mau apa, Sayang? Bilang aja, Mas nggak marah, kok.” Tatapan Daren begitu lembut, menghanyutkan Dera dalam pesonanya.
Wanita itu menggigit bibir bawahnya sambil meremas tangan. Jantungnya berdebar-debar, membuatnya gugup. Namun, keinginan yang lebih besar, akhirnya membuat Dera membuka suara.
“Mau itu.”
“Itu apa, Sayang?”
“Ituloh,” ujar Dera.
“Iya, itu apa?” Daren pura-pura tidak tahu, padahal dalam hati sudah senang.
“Mau hubungan badan, sekarang,” cicit Dera.
“Apa?”
“Hubungan badan, Mas!!”
__ADS_1
**
jangan lupa biasanya