Ketika Pamanmu Menjadi Pengantin Pengganti

Ketika Pamanmu Menjadi Pengantin Pengganti
Bab 50. Aku Mencintaimu, Mas.


__ADS_3

Ketika bangun pagi, hal pertama yang Dera lihat adalah tatapan penuh cinta dari Daren. Jemari besar pria itu tak hentinya menyusuri lebatnya rambut Dera.


Senyum Daren semakin mengembang mendapati sang istri sudah bangun, dikecupnya kening seputih pualam dengan penuh kasih sayang.


“Good morning, Sayang,” sapa Daren sambil membelai pipi Dera.


“Morning, Mas,” sapa Dera balik. Dia pun tidak mau kalah, ikut membelai rahang kokoh yang sudah ditumbuhi jambang tipis.


“Gimana? Uda lebih baik?” tanya Daren.


“Udah.”


Lagi-lagi Daren mengembangkan senyum manisnya, pria itu mengusap lembut puncak kepala Dera sebelum membubuhkan kecupan singkat di sana.


Bolehlah waktu berhenti sekejap? Dera ingin menikmati paginya yang indah ini. Seumur hidup, hanya ibu dan sekarang Daren yang selalu memanjakan dia. Hatinya sedikit mencelos, mengingat perbuatannya selama ini pada Daren.


“Mas, maaf,” cicit Dera.


“No, Sayang. Kamu nggak salah. Uda, ya, jangan murung lagi, mending kita bangun yuk!” Daren merentangkan tangan, meminta Dera untuk masuk ke dalam pelukannya yang hangat dan nyaman itu.


Tentu saja Dera tidak pernah menyia-nyiakan pelukan Daren, dia langsung menubruk pria itu dan membenamkan wajahnya di sana. Seketika harum mint memenuhi indera penciumannya.


“Hari ini mau langsung ke butik atau balik ke rumah Ibu dulu?” tanya Daren.


“Ke butik saja, Mas. Entar aku hubungi Ibu, biar beliau nggak khawatir.”

__ADS_1


“Baiklah, Cintaku. Sekarang waktunya mandi!” seru Daren seraya menggendong Dera.


Wanita hamil itu langsung mengalungkan tangan di leher Daren, menatap sang empu dengan senyuman semanis mentari pagi. Dera telusuri wajah Daren, selalu tampan dan memesona.


**


Daren masih terus menemani Dera di butik, pria itu sengaja libur sehari agar bisa bersama istrinya terus. Ke mana pun Dera pergi, selalu dibuntuti oleh Daren. Alasannya, karena tak ingin jauh dari wanita cantik itu.


“Mas duduk di ruangan aku aja, ish,” protes Dera karena merasa risi.


“Kenapa, sih, Sayang? Padahal Mas ingin dekat-dekat sama kamu terus, loh,” cetus Daren dengan wajah ditekuk.


Manis sekali. Dera mengutuk jantungnya yang terus berdebar kencang.


“Bukan begitu, Mas. Aku cuma risi. Terus itu, dilihatin semua pegawaiku lagi,” ucap Dera.


“Aku, ‘kan, udah bilang, pergi ya pergi!”


Mendengar teriakan Dera, Daren langsung berlari keluar dari ruangan. Wajah tampannya terlihat begitu khawatir, apalagi mendapati kerumunan yang tak jauh dari pandangan.


Ketika Daren semakin dekat, dia bisa melihat seseorang yang tidak ingin dia lihat. Pandu berdiri di sana, bersikukuh menjelaskan sesuatu tetapi terus diminta pergi oleh Dera.


“Dia menjebakku, Der. Agar aku tidak jadi menikah denganmu. Dia yang licik!” tukas Pandu.


“Tapi kau juga menikmatinya, kan?!” seru Dera.

__ADS_1


“Nggak, Der. Aku cuma cinta sama kamu. Aku udah bilang, aku dijebak sama dia!”


“Mau dijebak atau karena kemauanmu sendiri. Aku udah nggak peduli lagi, karena sekarang aku punya kehidupanku sendiri. Lebih baik kamu pergi dari sini, sebab kehadiranmu sangat menggangu!” usir Dera dengan tegas.


Daren masih bertahan di tempatnya, dia hanya ingin melihat bagaimana Dera menyelesaikan masalah.


“Dera, aku mohon padamu maafkan aku. Benaran, bukan aku yang menginginkan hal ini terjadi. Kumohon, aku mencintaimu!” Pandu berlutut pada Dera. Sungguh wanita itu tak habis pikir.


“Kamu tahu, Pandu. Cintaku padamu sudah mati, hancur lebur menjadi debu. Sekarang, hatiku hanya untuk suamiku, Mas Daren. Aku mencintainya, sangat!”


Ya, Dera baru menyadari bahwa dia sangat mencintai Daren. Kasih sayang dan tatapan cinta yang selalu Daren berikan, membuat hati Dera luluh. Dia merasa beruntung, dijadikan ratu oleh lelaki yang tepat, yaitu rajanya.


“Kamu mencintai Mas, Sayang?” Daren mendekat. Tatapan penuh cinta itu, menyelami manik mata indah milik istrinya.


“Iya, Mas. Maaf, karena aku baru menyadarinya. Aku sangat mencintai Mas, sangat,” ungkap Dera. Dia langsung memeluk erat tubuh Daren, menumpahkan air mata yang sejak tadi dia tahan.


Daren tidak bisa menahan bahagianya, dia langsung menciumi seluruh wajah Dera dengan air mata yang entah kapan sudah turun.


Pandu menunduk, kedua tangannya mengepal sempurna. Ada marah dan kecewa, tetapi dia tidak bisa meluapkannya. Karena semua juga salah dirinya.


 


**


Othor lagi susah ide, jadi maaf cuma up satu bab. Jangan lupa like dan komen ya. Dan lagi, maaf kalau othor belum bisa balas komen kalian.

__ADS_1


 


__ADS_2