
“Mas kenapa nggak kasih tahu aku soal ini?” Dera berpindah tempat dari pangkuan Daren ke tepi kasur.
“Maaf, Sayang.”
Daren mendekat, mengecup singkat kening Dera. Dia juga memeluk wanita hamil itu dari samping, menjatuhkan dagunya di bahu sang istri.
“Iya, Mas. Aku hanya kaget saja. Aku pikir Bunda dan Ayah masih ....”
“Mas paham. Yang penting kamu sudah tahu, dan pasti Bunda dan Ayah sangat senang bertemu denganmu.”
“Mas ....”
“Tetap langitkan doa untuk mereka ya, Sayang. Mereka akan sangat bahagia memiliki menantu cantik dan baik sepertimu,” lirih Daren.
“Pasti, Mas. Selalu.”
Dera balik memeluk erat Daren, menenggelamkan wajahnya di dada bidang pria itu. Sungguh, dia tidak ingin ditinggal oleh Daren meski hanya sebentar. Dera tak ingin berjauhan dengan pria itu.
“Dulu Bunda sangat menginginkan keturunan dariku, tapi sayang aku belum bisa mengabulkannya. Namun sekarang, Bunda pasti bahagia karena sebentar lagi cucunya akan melihat dunia.” Daren mengusap lembut perut buncit Dera.
“Anak kita pasti juga sangat bahagia, mempunyai nenek dan kakek yang sangat hebat seperti mereka.”
“Pasti, Sayang. Mereka sosok hebat buat Mas dan Kak Fina. Kasih sayang keduanya sempurna, tanpa membedakan satu sama lain,” lirih Daren dengan kepala tertunduk. “Aku rindu mereka ....”
“Aku juga rindu, Mas. Kita hanya bisa mengirimkan doa untuk mereka, agar rindu ini bisa terbebas perlahan,” ucap Dera.
Calon ayah itu menganggukkan kepala. Dia mendekap kembali tubuh Dera, sesekali menciumi puncak kepala istrinya dengan penuh sayang.
“Aku mencintaimu, sangat mencintaimu. Maaf, jika cintaku ini tidak sesempurna itu.”
Tatapan saling terkunci, dengan sorot penuh cinta dan kasih sayang. Keduanya saling menyelami manik mata mereka, hingga Dera dapat menangkap kabut keinginan dimata suaminya. Dera mengalungkan tangan ke leher Daren, menganggukkan kepala seolah mengerti dengan apa yang mata Daren katakan.
**
Bunda Fina memaksa agar Vera mau pulang dengan diantar Pandu, sedangkan dirinya meminta jemput sopir. Awalnya Vera menolak, merasa sangat merepotkan, tetapi bunda Fina terus memaksa hingga membuat Vera tidak bisa berkutik kembali.
__ADS_1
Sebagai seorang anak, Pandu merasa tidak enak dengan sikap bundanya. Meski dia tahu kekhawatiran wanita separuh baya itu.
“Maafin Bunda, ya.” Pandu membuka suara dengan mata terus tertuju pada jalan.
“Nggak apa, Mas. Aku ngerti, kok,” jawab Vera seraya mengembangkan senyumannya.
Keadaan kembali canggung. Pandu menggaruk tengkuk yang tidak gatal, karena gugup dan bingung. Sedangkan Vera memilih melihat luar jendela sambil menikmati udara sepoi sore ini.
Tidak sampai setengah jam, mobil yang Pandu kemudi memasuki kompleks perumahan orang tua Dera. Pria itu memarkirkan mobilnya di depan rumah ibu Hamidah. Setelahnya dia keluar mobil dan membukakan pintu untuk Vera.
“Makasih ya, Mas. Udah mau anterin aku sampai rumah,” ucap Vera segan.
“Sama-sama.”
“Mari mampir Mas, Vera bikinin minuman,” tawar Vera ramah.
“Nggak usah, deh. Aku langs—“
Ucapan Pandu terpotong dengan suara deru mobil yang mendekati rumah ibu Hamidah. Sang pemilik mobil memarkirkan di belakang mobil Pandu.
Kening Vera berkerut. Matanya menyipit demi mengenali mobil siapa yang juga parkir di depan rumah tantenya. Keningnya semakin berkerut dengan mata melotot, ketika melihat Befan keluar dari mobil berwarna putih itu.
Befan berlalu dengan tak acuh tanpa menoleh pada Vera. Dia mengetuk pintu rumah ibu Hamidah dan menunggu sang pemilik membukannya.
“Hei! Bisakah kamu menghargai seseorang yang sudah menyapamu?” desis Pandu.
Befan berbalik, menatap Pandu dengan alis saling bertautan. Wajahnya masih bertampang sama, datar nan dingin.
“Saya tidak biasa membalas sapaan orang yang tidak dikenal,” sahut Befan santai. Membuat emosi Pandu semakin naik ke ubun-ubun.
“Seharusnya kamu tahu, bahwa dia keponakan pemilik rumah ini. Setidaknya lihat dia jika tidak ingin membalas dengan menyapa,” geram Pandu.
Wajah Befan semakin membuat kesal. Pandu terus maju mendekati pria itu.”
“Oh, Anda pacarnya? Belum dibalas saja Anda sudah cemburu.”
__ADS_1
“Kamu—“
“Stop!” teriak Vera kesal.
Dia langsung menarik lengan Pandu agar menjauh dari Befan. Gadis itu memasang wajah galak, agar keduanya tidak lagi berdebat.
“Mas Pandu mending pulang. Orang ini, biar aku yang urus,” pinta Vera.
“Tapi dia—“
“Pulang, Mas!” tekan Vera.
Dengan berat hati Pandu menuruti keinginan gadis itu. Dia pulang dengan hati khawatir, takut terjadi sesuatu dengan Vera. Lain halnya dengan Befan, yang masih menatap Vera dengan tatapan meremehkan.
“Pak Befan ada perlu apa?” tanya Vera.
“Kamu kepo?” sahut pria itu ketus.
“Bertanya, Pak! Tanya!” teriak Vera, frustrasi.
Tanpa sadar Befan menjitak kening Vera, membuat sang empu mengaduh kesakitan.
“Saya ingin bertemu Ibu Hamidah.”
“Untuk? Atau terjadi sesuatu dengan Dera?”
Lagi-lagi Befan menjitak kepala Vera.
“Saya ingin meminta resep nasi goreng yang beliau buat tempo hari,” papar Befan.
What? Datang jauh-jauh hanya demi resep nasi goreng? Waw! Jangan-jangan resep mendatangkan cinta ini.
“Sama aku aja, Pak. Aku juga tau resepnya.”
Befan mendecih, berlalu karena ibu Hamidah sudah membuka pintu dan berdiri dengan senyuman di sana. Sebelumnya, Befan membisikkan sesuatu tepat di samping telinga Vera. “Kalau sama kamu, bukan resep yang akan saya dapatkan.”
__ADS_1
**
Maaf. Kalau alurnya semakin emboh.