
Senja mulai padam, tetapi Zakira masih belum sampai di rumah. Perempuan cantik itu banyak menghabiskan waktunya di alun-alun. Ketika tidak ada lagi cahaya jingga yang membentang di cakrawala, barulah Zakira bangkit. Dia melirik arloji yang menempel di pergelangan tangannya, sudah pukul 18.00 WIB.
“Ya ampun, aku sampai lupa waktu.” Zakira menepuk jidatnya sendiri.
Dia mengemudi mobil dengan kecepatan sedang, berusaha menyalip pengendara lain agar segera sampai di rumah. Zakira selalu saja begitu, ketika sudah melihat senja maka dia akan lupa waktu. Apalagi ponselnya dia simpan di dalam mobil, alhasil ketika suaminya menelepon, Zakira tidak tahu.
Setelah menempuh perjalanan lima belas menit, Zakira tiba di rumah besar mertuanya. Wanita itu berlari demi segera masuk ke dalam rumah. Namun, saat akan mengetuk pintu, sudah terbuka lebih dulu dan muncul sosok suaminya dengan wajah datar nan dingin.
“Dari mana?” tanya Alden dingin.
“Itu ... lihat senja. Tetapi aku lupa jam, makanya telat,” cicit Zakira. Dia memilih jujur dari pada nantinya akan menjadi buumerang untuk dirinya sendiri, jika dia berbohong.
Alden menghembuskan napas pelan, lalu pria itu mengusap rambut Zakira dan membawa sang istri ke dalam dekapan.
“Aku khawatir,” lirih Alden.
“Kalau khawatir kenapa nggak cariin aku?” sahut Zakira.
Alden menyentil pelan kening Zakira, membuat sang empu meringis dan langsung mengusap keningnya sendiri. Bibir Zakira mengerucut, wajahnya sudah berpaling karena kesal.
“Aku bolak balik ke rumah ayah dan butik, tapi kamu tidak ada di sana. Lalu, aku bertemu Mina dan gadis itu bilang kamu butuh waktu sendiri. Makanya aku kembali ke rumah, menunggumu dengan cemas,” ungkap Alden seraya mengusap lembut kedua pipi Zakira.
__ADS_1
“Ada apa? Cerita sama aku,” sambung Alden. Zakira menggeleng sebagai jawaban.
Wanita itu melepaskan pelukan Alden, lalu masuk lebih dulu ke dalam rumah. Alden pasrah, memilih mengikuti istrinya lebih dulu, barulah nanti mencoba bertanya kembali.
“Mamah nggak di rumah?” tanya Zakira sambil melihat ke sana kemari.
“Tidak. Untuk dua hari kedepan, Mamah akan menginap di rumah temannya,” terang Alden.
Zakira mengangguk saja, memilih pergi ke lantai atas. Tubuhnya sudah sangat lengket, Zakira butuh membersihkan diri lebih dulu. Tidak sampai sepuluh menit, Zakira sudah keluar dengan pakaian lengkapnya.
“Sini, Sayang,” pinta Alden sambil menepuk sisi kosong di sebelahnya.
Sang istri menurut, duduk sambil bersandar pada dada bidang Alden. Entah mengapa Zakira ingin terus memeluk pria itu, menghirup dalam-dalam aroma tubuhnya yang sangat memabukkan.
“Ya.”
“Apa itu?”
“Tentang kamu, dan segala hal yang aku tidak tahu,” balas Zakira.
Alden bungkam, tangannya berhenti mengusap punggung sang istri. Wanita itu kembali duduk tegak, menatap tepat mata Alden dan mencari kebohongan di sana.
__ADS_1
“Tidak ingin cerita?” Zakira masih terus menatap Alden, meskipun pria itu sudah memalingkan wajahnya.
“Aku nggak maksa. Ya sudah, aku mau tidur,” sambung Zakira sambil merebahkan tubuhnya di kasur.
Alden berbalik, menatap punggung istrinya yang tidur membelakangi. Ada keinginan Alden untuk menceritakan semuanya, tetapi dia takut Zakira jadi ikut terlibat dalam masalah ini. Apalagi papahnya sangat berbahaya, tega melakukan hal yang dia inginkan.
“Maaf, Sayang. Aku belum bisa menceritakan semuanya sama kamu,” ungkap Alden.
“Kamu takut aku nggak setuju, soal perjodohan itu?” Zakira membalikkan tubuhnya, menatap tajam Alden.
“Perjodohan apa?”
“Ya sudahlah, tidak usah dibahas lagi.”
Zakira kembali menidurkan tubuhnya. Kali ini dia benar-benar memejamkan mata, berusaha untuk terlelap dan berharap semuanya akan selesai besok.
__ADS_1