
“Ada banyak kata yang ingin aku ucapkan, tetapi semesta menolak. Tentang hati, mengapa rasanya sesakit ini?”
~Zakira Elfia Algra~
🌸🌸
“Hay, guys! Lihat, aku bawa apa?!”
Teriakan seorang pria mengagetkan si kembar dan Mina yang sedang duduk di ruangan mereka. Ketiganya memutar bola mata jengah.
Pria itu adalah Arfan, teman si kembar dan Mina. Mereka memang selalu berempat dan hanya Arfan saja yang pria. Arfan bekerja di kantor papahnya, sebagai direktur utama. Ketika jam makan siang, Arfan lebih memilih untuk menghampiri butik Zakira dan Zanira dari pada makan bersama klien atau sekretarisnya.
“Gue suka temen, kaya’, gini,” celetuk Mina sambil meraih box berisi pizza.
“Lu, mah, apa aja suka.” Arfan berdecih, Mina hanya menanggapi dengan cengiran.
Zanira ikut menghampiri Arfan, menerima nasi kotak dari pria itu. Sedangkan Zakira memilih melanjutkan membuat pola, dia akan menyusul makan nanti setelah pekerjaannya selesai.
“Kakak nggak makan?” tanya Zanira.
“Nanti, Dek. Tunggu selesai ini, biar langsung ditunjukkan sama klien nanti,” ujar Zakira.
Akhirnya yang makan hanya Arfan, Zanira, dan Mina saja. Zakira memperhatikan sejenak, senyum tipis terukir di bibirnya. Sebenarnya bukan itu alasan Zakira, dia sengaja tidak makan karena menghindari Arfan.
Berteman bertahun-tahun bohong kalau dia tidak memiliki rasa pada pria itu, apalagi Arfan sosok yang baik dan perhatian. Zakira merasa memiliki pacar jika bersama Arfan, dan dia tidak mau adiknya dan Mina tahu kalau dia suka temannya.
“Makan dulu, Kir. Kerjanya nanti lagi,” ucap Arfan. Pria itu sudah menghampiri Zakira, membuat sang empu salah tingkah.
“Iya, nanti, sebentar lagi.”
“Sekarang! Entar Bunda marahin aku, loh, karena nggak jaga kamu dengan benar.”
“Kalau tidak ada yang bilang, pasti Bunda nggak bakalan marah.”
“Huff... baiklah.” Arfan menyerah, dia memilih duduk bersama dua temannya lagi.
Gadis di bangku kebesarannya, ingin munafik dengan berkata jantungnya baik-baik saja. Namun, nyatanya tidak baik-baik saja. Jantungnya itu belingsatan, membuat Zakira tak nyaman.
“Guys, gimana kalau nanti malam kita keluar. Apalagi malam Minggu, pasti seru,” ujar Arfan.
“Bener. Pasti seru!” Zanira paling antusias.
__ADS_1
Mina mengangguk saja. Palingan nanti dia akan dengar ceramah mamah yang sangat posesif itu. Sekarang saatnya Mina memikirkan cara untuk bicara pada mamah, agar diizinkan keluar bersama teman-temannya.
“Kak Kira ikut, kan?” tanya Zanira sambil mendekati kakaknya.
“Kaya’nya, nggak, deh. Kakak lagi nggak enak badan,” kata Zakira.
“Yaaa!” Ketiga orang di sana tampak lesu.
Lalu, mereka membatalkan acara keluar malam Minggu. Bagi mereka, jika salah satu tidak pergi, maka rasanya seperti ada yang kurang.
🍁🍁
Malam di rumah keluarga Daren. Semuanya sedang berkumpul di ruang tamu, menonton TV bersama sambil makan camilan. Suasana sangat riuh, Zanira dan Aaron tidak berhenti berdebat. Mempermasalah hal sepele yang membuat bunda dan ayah pusing.
“Aaron! Jangan ganggu Kakakmu lagi!” sentak bunda Dera karena muak melihat keduanya.
“Iya, Bunda. Maaf.” Aaron lekas menghampiri bunda, memeluk wanita itu dengan sayang.
Ayah Daren menghela napas kasar, berulang kali pula membenarkan posisi yang pas. Sebenarnya ada yang ingin dia bicarakan, tetapi belum pas saat menyusun kata-kata.
“Ayah kenapa? Ada masalah?” tegur Zakira.
Bunda Dera yang mengerti dengan gerak gerik suaminya, meminta ketiga anaknya itu untuk duduk dengan benar. Mengambil posisi sempurna, agar fokus mendengar ucapan sang ayah nantinya.
“Ayah ingin mengatakan sesuatu pada kalian. Mas, buruan ngomong. Jangan klasak-klusuk, kaya’, gitu,” ucap Dera.
Daren mengangguk. “Zakira, Zanira. Boleh Ayah bertanya?”
Keduanya mengangguk dan menjawab barengan, “Boleh, Yah.”
“Usia kalian sudah dua puluh empat tahun. Bukan maksud Ayah untuk memaksa, tapi apakah kalian tidak ke pikiran untuk menikah?”
Jelas si kembar mau, tetapi masalahnya mereka tidak memiliki kekasih apalagi calon suami. Zanira memang banyak kenal pria, tapi masih belum berani ke jenjang lebih serius seperti itu. Apalagi Zakira, yang sama sekali tidak dekat dengan pria kecuali ayah, Aaron, dan Arfan.
“T-tapi kami tidak memiliki pacar, Yah,” jawab Zanira.
“Kami sedang fokus pada karier.” Zakira menambahi.
Ayah dan bunda sama-sama menghela napas.
“Bunda yakin, kalau menunggu sampai kalian sendiri yang mencari, pasti akan lima tahun lagi. Bagaimana kalau Bunda dan Ayah yang mencarikan calon untuk kalian,” usul bunda Dera. Daren segera memegang tangan sang istri, menggelengkan kepala.
__ADS_1
“Nah, setuju sama Bunda!” Aaron ikut antusias, membuat senyum bunda mengembang.
“Bagaimana, Nak? Apa kalian setuju, jika Bunda dan Ayah yang mencarikan calon untuk kalian?” Lagi, bunda bertanya.
Zakira dan Zanira saling pandang, tampak gamang dengan usul bundanya itu.
“Jangan dipaksa jika kalian tidak suka. Ayah tidak akan memaksakan kehendak,” ujar ayah Daren.
“Kira menurut saja.”
“Kalau, gitu, Nira juga.”
Bunda tersenyum bahagia. Dia langsung menunjukkan foto yang ada di ponselnya.
“Ini Arfan, kan? Teman kalian itu?” tanya bunda.
Keduanya mengangguk. “Iya, Bun.”
“Nah, kemarin Bunda dan Mamah Arfan sudah sepakat. Ingin menjodohkan salah satu di antara kalian berdua dengan Arfan,” seru bunda.
Lagi-lagi Zakira dan Zanira saling pandang. Zakira menundukkan kepala, meremas kedua tangan dengan jantung berdebar. Sedangkan Zanira tampak senang.
“Bagaimana kalau Zak—“
“Zanira mau, Bun, Yah!” Zanira memotong ucapan ayah.
“Sebenarnya Zanira juga suka sama Arfan. Dia orangnya baik dan perhatian,” lanjut Zanira.
“Wah, bagus itu. Besok Bunda akan bilang sama Mamahnya Arfan.”
Zakira tampak semakin menundukkan kepalanya, ada sesuatu yang menyayat hati, membuat luka begitu menganga. Ayah Daren menoleh pada putri sulung, mencoba mengerti dengan kondisi gadis itu.
“Kakak nggak papa, kan, kalau Adek Nira duluan yang menikah?” tanya bunda.
Zakira mengangkat kepalanya, mengulas senyum terpaksa. “Nggak apa, Bun. Yang penting Adek bahagia.”
“Fix, ya, Zanira yang kita jodohin sama Arfan.”
**
Jangan lupa like dan komen ya, guys. Maaf kalau gak seru, masih permulaan. Konflik sedang disusun dan siap di keluarkan.
__ADS_1