
Dijemput oleh Vera, Dera akan pergi menemani gadis itu. Niatnya Vera ingin mengajak Dera ke toko buku untuk membeli buku, sekalian makan siang bersama. Menghabiskan waktu untuk skripsi, Vera butuh udara segar agar beban di otaknya sedikit berkurang.
“Jangan lupa kamu izin sama suamimu,” kata Vera ketika mereka baru masuk ke dalam mobil.
“Udah, kok.” Dera memasang seatbeltnya, diikuti oleh Vera.
Karena Vera yang mengajak, jadi gadis itu bertanggung jawab mengemudi mobil. Sepanjang jalan mereka bertukar cerita, saling bercanda ria agar suasana tak sunyi. Ketika sampai di toko buku, Vera segera mengajak Dera untuk bergegas turun. Keduanya berjalan beriringan memasuki gedung besar nan tinggi.
“Cepetan beli bukunya, aku sudah lapar,” bisik Dera sambil mengedipkan sebelah mata.
“Haish. Dasar!”
Vera mempercepat pencarian. Setelah buku yang dia inginkan dapat, segera Vera membawa ke kasir dan membayar. Dera sudah menunggu sambil berkacak pinggang, membuat Vera terkekeh.
“Padahal masih jam setengah dua belas, tetapi kamu sudah ngajakin makan siang,” celetuk Vera yang langsung mendapat tatapan tajam dari Dera.
“Namanya juga orang lapar, masa iya ditahan,” sahut Dera ketus.
“Iya, iya, Nona Muda.”
Vera memang sangat suka menggoda Dera, pasalnya dia senang melihat wajah bersemu milik sepupunya. Apalagi ketika dia memanggil Dera dengan sebutan ‘Nona Muda’ pasti wanita itu langsung melotot.
Vera memilih restoran ala Korea sebagai tempat untuk mereka mengganjal perut dengan makanan. Dengan sangat antusias Dera turun lebih dulu, meninggalkan Vera yang masih memarkirkan mobil.
Setelah memilih tempat duduk, waiters datang dengan membawa buku menu. Dera meneliti setiap gambar dan tulisan di sana, mencari makanan dan minuman yang akan dia pesan.
“Makanannya saya pesan bibimbap dan tteokbokki. Sedangkan minuman, Korean strawberry milk saja,” ucap Dera pada waiters itu.
“Kamu pesan apa, Ver?” tanya Dera.
“Samain aja.”
“Oke. Berarti masing-masing dua, ya?”
__ADS_1
Waiter pergi setelah mengantongi pesanan Dera. Keduanya masih sibuk dengan pikiran sendiri. Dera menatap ke sekeliling, dekorasi restoran ini lumayan menarik dan membuat nyaman. Sampai tepukan di tangan, mengalihkan pandangan Dera.
“Ada apa?” tanyanya pada Vera.
“Tuh, suamimu,” ucap Vera sambil menunjuk ke arah dua orang yang tengah berjalan mendekati meja mereka.
Dera mengembangkan senyum, dia beranjak sambil merentangkan tangannya. Yang langsung mendapat pelukan dari Daren.
“Ternyata kamu makan siang di sini?”
“Emm, iya. Vera yang ajak,” jawab Dera. Dia sudah melepaskan pelukannya. “Mas, kok, bisa ada di sini juga?”
Daren mengecup kening Dera, lalu menjawab, “Abis ketemu klien.”
“Oh.”
“Iya.”
Dera meminta Daren dan satu pria di sebelah suaminya itu untuk duduk. Yang banyak mengobrol untuk mencairkan suasana adalah Dera.
“Sekretaris baruku,” jawab Daren.
“Elena?”
“Dia memilih bekerja di luar negeri. Aku tidak bisa memaksa untuk dia tetap bertahan.”
“Lagian itu bagus. Aku klop banget kalau sekretaris Mas itu cowok.” Dera mengedipkan matanya menggoda sekretaris baru Daren.
Melihat tingkah istrinya itu, Daren langsung menutup wajah sang sekretaris dengan buku menu. Dera langsung mencebik kesal, karena kegiatan memandangi ciptaan Tuhan yang tampan ini, harus terhenti.
“Suruh siapa dia tampan, aku tidak bisa berhenti untuk tak menatap,” ketus Dera.
“Ck. Apa sebaiknya aku memecat kamu, Bef?”
__ADS_1
“Ah, Bos, jangan!” Pria bernama Befan, memasang wajah melas.
Ternyata namanya Befan. Lumayan tampan juga.
Vera tersenyum-senyum memandangi wajah Befan. Tampan dan terkesan dingin, dia suka dengan modelan pria seperti ini.
“Sayang. Stop lihatin Befan begitu, nanti dia risi,” tegur Daren karena Dera terus melihat Befan bahkan mengedipkan mata, menggoda.
“Kan, sudah aku bilang. Dia terlalu tampan untuk tak dipandang!”
“Iya. Tapi aku cemburu.”
“Dih, gitu aja cemburuan,” cibir Dera.
“Bagaimana aku tidak cemburu kalau istriku terus melihat pria yang lebih tampan dari aku,” kata Daren.
Ah, manis sekali. Dera langsung berpindah tempat dan mengecup singkat pipi Daren. Tentu saja aksi itu membuat dua orang di sana, langsung melotot tak percaya. Vera mencebik kesal, Dera selalu saja mempertontonkan kemesraan di depan dia yang jomblo.
“Ehem. Dimohon tahu tempat, Mbak,” sindir Vera.
“Apa? Makanya jangan jomblo, biar bisa, kaya', aku.”
“Awas kamu, ya, Dera!” geram Vera. Dera terkekeh sambil menjulurkan lidahnya.
Selanjutnya, mereka makan dengan khidmat ketika pesanan telah datang. Sesekali Daren mencuri pandang pada Dera, yang makan dengan lahap. Dia tersenyum, wajah Dera benar-benar sangat imut. Ingin sekali Daren membawa pergi, agar semua orang tak melihat wajah gemas istrinya.
“Istri Bos gemes, ya. Saya jadi pengin karungin,” canda Befan sambil nyengir kuda.
Daren langsung melotot tajam, menunjukkan kepalan tangannya pada Befan.
**
Maaf karena kemarin othor gak up, soalnya bener-bener lagi block writer. Terima kasih.
__ADS_1
Like, komen, vote sama hadiah jangan lupa.