Ketika Pamanmu Menjadi Pengantin Pengganti

Ketika Pamanmu Menjadi Pengantin Pengganti
Bab 56. Bertemu Mima


__ADS_3

Jalan-jalan, shopping? Sudah jadi kebiasaan Dera setelah hamil. Melihat pernak-pernik bayi, dia selalu ingin membeli meskipun belum tahu jenis kelamin anaknya.


Seperti siang itu, Dera mengajak Reva pergi ke mal untuk belanja. Awalnya pelayan muda itu, menolak karena tak enak. Namun, Dera terus memaksa sampai membawa embel-embel pecat.


“Jalannya pelan-pelan, Nya,” tegur Reva saat Dera berjalan cepat.


“Santai aja, Rev. Ini udah pelan, kok,” sahut Dera. Tak mengindahkan ucapan Reva.


Baru masuk mal, keramaian menjadi objek pertama keduanya. Dera begitu antusias, dia langsung menarik lengan Reva agar cepat melangkah. Mereka menuju tempat perlengkapan bayi, Dera memilih-milih baju yang bagus untuk buah hatinya.


“Menurut kamu bagusan pink atau biru, Rev?” tanya Dera sambil memperlihatkan dua baju ditangannya.


“Biru, deh, Nya. Netral, cowok bisa cewek bisa.”


“Tapi aku suka yang pink!” ucap Dera.


Reva gemas dengan tingkah Dera. Kalau memang ingin yang itu, kenapa harus bertanya padanya lagi. Ah, wanita hamil memang selalu aneh.


“Loh, Nya, nggak jadi beli?” tanya Reva. Keningnya berkerut melihat Dera mengembalikan baju pada tempatnya.

__ADS_1


“Nggak deh, Rev. Kandungan aku juga masih empat bulan, masih lama. Mending kita cari makan, yuk!” ajak Dera antusias.


Reva menghela napas kasar, wajahnya cemberut menahan kesal. Dirinya juga capek, tetapi Dera seperti mempermainkan dia. Sudah jauh-jauh, malah tidak jadi beli. Apes, deh.


Dera mengajak Reva makan di restoran dekat mal. Wanita hamil itu membeli banyak makanan, meminta Reva untuk menghabiskannya. Siapa yang ingin menolak rezeki? Tentu saja tidak. Menghilangkan rasa malu, Reva makan dengan tenang dan habis banyak.


Perut kenyang, mereka pun pulang. Dera mengeluh lelah, makanya meminta Reva untuk segera menyelesaikan makan agar mereka bisa segera pulang. Ketika keluar dari restoran, mata Dera memicing demi melihat jelas seseorang di depannya. Ya, Mima di sana berjalan dengan angkuh.


“Dera?” sapa Mima sambil mengibaskan rambutnya yang bergelombang.


“Ya?”


“Wah, ternyata kita bertemu di sini,” ujar Mima dengan sok ramah. Dera jijik melihat wanita itu.


“Santai, dong. Jangan terlalu emosi, entar kandungan kamu bahaya,” ucap Mima, tetapi seperti meremehkan.


Dera sungguh geram. Padahal dulu Mima tidak seperti ini, wanita itu sangat baik dan ramah. Namun, setelah mendengar penjelasan Pandu dan bertemu Mima, sikapnya tiba-tiba berubah.


“Oh, ya. Kamu pasti sudah tahu tentang apa yang terjadi dengan Pandu. Turut berduka, ya,” ledek Mima.

__ADS_1


“Hahaha. Ternyata urat malumu pun sudah musnah! Wanita ****** yang menjebak calon suami orang, mungkin pantas untuk julukanmu!” ledek Dera balik.


“Kamu ...!” geram Mima.


“Apa? Benarkan?”


“Dengar, Dera. Sekarang ini aku tengah hamil anak Pandu, kalau kamu ingin mengambil dia, maka jawabannya tidak bisa. Sebab Pandu sudah menjadi milikku!” tekan Mima dengan sombong.


“Dih, anak hasil gelap aja bangga. Dan ingat juga, ya. Gue, Dera, nggak bakalan rebut target Lo itu karena gue udah punya suami yang cinta dan sayang sama gue!” sinis Dera.


“Oh, ya, satu lagi. Pandu itu nggak cinta sama Lo, jadi jangan berharap lebih sama dia. Dan gue juga berpikir, mungkin itu bukan anaknya.”


Dera berlalu meninggalkan Mima yang menahan amarah. Wanita modis itu menendang udara dengan wajah kesal. Reva yang tak mengerti apa-apa, hanya bisa mengikuti saja sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


“Apakah masalah orang kaya seribet ini?” batin Reva.


**


Jangan lupa like, komen, vote dan hadiahnya, ya. Biar Othor sama Mas Daren semakin semangat. Eh😂

__ADS_1


 


 


__ADS_2