Ketika Pamanmu Menjadi Pengantin Pengganti

Ketika Pamanmu Menjadi Pengantin Pengganti
Bab 23. Madu Pernikahan


__ADS_3

“Sakit, Om! Jangan kuat-kuat!” teriak Dera.


Mendengar jeritan sang istri, Daren berhenti menc*mbu leher Dera. Pria itu menggaruk tengkuk yang tak gatal, menatap sang istri yang terengah-engah.


“Maaf. Aku tidak sengaja,” cicit Daren.


“Hmm. Jangan digigit kuat lagi, sakit,” lirih Dera. Daren langsung mengangguk.


Kemeja yang masih melekat, Daren buka dengan terburu-buru. Deru napasnya mulai tak beraturan lagi, kabut hasrat pun sudah menutupi mata pria itu. Melihat tubuh Dera yang nyaris sempurna, dengan bukit yang begitu menantang membuat Daren tak bisa menahannya lagi.


Dera menelan ludah susah payah melihat tubuh bagian atas Daren yang polos, terpampang nyata roti sobek di sana. Seperti yang dia lihat di drakor-drakor. Tanpa sadar, jemari Dera menyentuh roti sobek itu, membuat Daren memejamkan matanya.


“Dera ...,” panggil Daren lirih. Menggenggam tangan Dera dengan erat.


“I-iya, Om?”


“Kamu membuatku tak tahan,” ucap Daren.


“Om ....”


Keduanya kembali terhanyut dalam buaian cinta. Daren menerjang Dera berkali-kali, membuat gadis itu kehabisan napas. Melihat istrinya kekurangan pasokan udara, Daren melepas tautan bibir mereka. Membiarkan sang istri menghirup napas lebih dulu.


“Boleh, ‘kan?” tanya Daren, memandang lekat wajah Dera yang berada di bawahnya.


Gadis itu tak menjawab, tetapi mengangguk pasrah. Mendapat lampu hijau, Daren tak ingin menyia-nyiakannnya. Dia langsung menyingkap baju Dera, hingga terpampanglah aset berharga milik gadis itu.

__ADS_1


“Malu.” Dera menutup wajahnya dengan tangan.


Daren terkekeh, menarik tangan sang istri. “Aku suamimu, tidak perlu malu.”


“Ish, pokonya malu. Nggak usah lanjut aja, deh,” kata Dera. Tentu saja Daren menggeleng. Sudah sampai separuh jalan begini, mana bisa dihentikan.


“Buka matanya, Sayang. Lihat aku,” perintah Daren.


Pandangan keduanya bertemu, dengan lembut Daren mengusap keringat yang membasahi pelipis Dera. Lalu, mata, hidung, dan bibir gadis itu. Daren tak meninggalkan satu pun untuk tak dia usap.


“Lanjut, ya?” tanya Daren lagi.


“I-iya.”


Puas dengan tubuh bagian atas, Daren lanjut ke bawah. Dia terdiam sesaat, memandangi wajah Dera yang masih terus menutup matanya.


“Mungkin ini agak sedikit sakit, tapi nanti kamu bisa jambak rambut atau cakar punggung aku. Oke?” Dera mengangguk paham.


Daren mulai menjalankan aksinya. Membuka seluruh pakaian yang tersisa hingga dia bugil, begitu pun Dera. Satu kali, tidak bisa. Dera menjerit, merasakan sakit di inti tubuhnya.


“Sakit banget, Om! Udah, nggak usah diterusin,” teriak Dera dengan deraian air mata.


Daren tak mendengarkan itu, dia tetap terus mencoba sampai akhirnya aset berharga miliknya masuk sempurna ke tubuh istrinya.


“Akkhhh! Sakit!” Dera semakin menangis kencang, memukuli tubuh Daren bertubi-tubi. Pria itu tak menahan, membiarkan istrinya meluapkan amarah dan rasa sakit.

__ADS_1


Perlahan Daren mulai berlayar, menyeberangi lautan bersama sang istri. Sakit, perih, berubah menjadi nikmat. Keduanya meneguk madu malam pertama bersama, saling menggenggam satu sama lain, memberikan semangat untuk terus mendayung perahu.


Berulang kali Dera mencapai puncak kenikmatan, tetapi tidak dengan Daren. Pria itu masih terus bergerak, menyelami nikmat dari tubuh halal istrinya. Hingga pelepasan keduanya bersamaan, membuat lenguhan panjang terdengar.


“Terima kasih, Sayang,” bisik Daren sambil mengecup bibir Dera singkat.


Dera masih berusaha mengatur napas, keringat sudah membasahi tubuh keduanya meskipun AC terus menyala. Daren menaikkan selimut hingga menutupi tubuh polos mereka, dia memeluk Dera erat sambil terus mengecup pipi istrinya.


“I love you, Sayang,” bisik Daren, tetapi tak didengar Dera karena gadis itu sudah tertidur.


**


Maaf kalau gak panas. Soalnya othor masih lima belas tahun😂


Udah. Jangan nagih MP lagi, dah cukup segini aja.


 


Jangan lupa hadiah dan vote. Like, komen juga jangan lupa ya, guys.


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2