
Ternyata acara makan malam di rumah orang tua Pandu, bukan hanya Daren beserta istrinya. Ada Hafran beserta Jilia, juga saudara jauh Fina dan Damar.
Meski selalu mendapat tatapan dari para saudara kakak iparnya, Dera berusaha untuk biasa saja. Dirinya hanya sendiri, Daren pergi bersama pria lain karena akan mengobrol soal perusahaan. Karena itu, selepas makan malam tadi, Dera memilih duduk di bangku sudut ruangan.
Ya, ruang tamu memang didekorasi seperti pesta. Ada banyak sekali kue yang ditaruh di meja, pun dengan meja prasmanan. Sebenarnya Dera bingung, orang tua Pandu selalu mengadakan acara seperti ini. Sedangkan anaknya entah berada di belahan bumi bagian mana.
“Huff... melelahkan,” keluh Dera saat merasa sangat lelah padahal hanya duduk saja.
Di antara banyaknya orang di sini, ada satu wanita yang terus menatap Dera dengan senyum smirknya. Berbagai rencana telah dia susun dengan serapi mungkin, agar berhasil ketika dia menjalankannya nanti.
Dendam? Tentu. Jilia terlalu tidak sadar diri, bahwa yang terjadi dengan dirinya, murni kesalahan dia sendiri. Dia selingkuh, mengkhianati pernikahan yang sudah Daren jaga. Namun, dia tidak rela ketika Daren menemukan belahan jiwanya. Inilah yang dinamakan egois, ingin menang sendiri.
Tanpa mengurangi senyumnya, Jilia berjalan menghampiri Dera. Kedatangan Jilia langsung membuat mimik wajah Dera berubah, sungguh dia sangat ogah bertemu dengan mantan istri suaminya itu.
“Halo saudari ipar,” sapa Jilia sok ramah.
“Oh, halo. Apa kabar? Kupikir sudah mati,” balas Dera dengan ketus.
Jilia terkekeh. “Sepertinya ingin sekali melihat aku mati?”
“Orang sepertimu tidak pantas hidup!”
“Wow. Berasa jadi Tuhan, ya?” Jilia semakin membuat Dera kesal.
Malas berdebat, Dera ingin bangkit untuk pergi, tetapi gerakannya tertahan oleh ucapan Jilia.
“Daren masih mencintaiku,” ucap wanita itu.
“Kamu tahu, dia hanya menjadikanmu pelampiasan saja. Karena dari dulu sampai sekarang, dia hanya cinta padaku. Hanya namaku yang tertulis di lubuk hatinya,” tambah Jilia dengan senyuman bangga.
__ADS_1
“Hahaha, lucu sekali Anda. Menyimpulkan masalah perasaan seseorang. Memangnya Anda tahu isi hatinya? Anda bukan Tuhan!”
“Daren adalah tipe orang yang susah move on. Aku sangat yakin dia masih mencintaiku,” bantah Jilia.
“Oh, ya? Terus gue harus bilang ‘wow’, gitu?”
Seperti yang Vera ajarkan, dia tidak bisa diam saja saat menghadapi Jilia si ular berbisa. Setidaknya balas perkataan wanita itu, sampai dia merasa malu sendiri.
“Kamu nggak percaya? Aku akan buktikan kalau Daren masih mencintaiku!” Jilia melebarkan senyum smirknya.
Wanita yang berstatus sebagai mantan Daren itu, menjatuhkan dirinya di lantai sambil membanting gelas berisi minuman. Detik berikutnya, Jilia meringis kesakitan membuat Dera menggeram marah.
“Tolong... sakit!” teriak Jilia. Aktingnya sangat mulus hingga membuat orang-orang datang menghampiri.
Daren yang baru keluar dari ruangan, langsung berlari menghampiri kerumunan itu. Seketika senyum Jilia terbit kecil ketika melihat Daren lari dengan wajah khawatir. Namun, bukannya menolong dia, Daren malah memeluk Dera dengan erat.
Dengan perasaan kesal, Jilia berbicara dengan pura-pura lirih, “Mas ... tolong aku.”
“Dia punya suami. Jika suaminya mencintai dia, pria itu akan datang menolong ketika dia berteriak,” ucap Daren malas.
“Maaf. Istri saya juga sedang hamil, dan dia lebih membutuhkan saya. Ayo, Sayang, kita pergi.”
Daren membopong tubuh Dera, membawanya pergi dari sana. Dengan bangga Dera menjulurkan lidahnya pada Jilia, saat wanita itu menatapnya tajam.
Puas banget. Mampu lu ular keket!
***
“Kamu nggak apa-apa, kan? Apa ada yang luka?” tanya Daren dengan khawatir. Dia terus memeriksa tubuh Dera ketika mereka sudah masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
“Aku nggak apa-apa, kok, Mas. Aman,” jawab Dera sambil tersenyum.
“Beneran, Jilia nggak ngapa-ngapain kamu, kan?”
Dera tertawa kecil melihat kekhawatiran Daren. Suaminya itu sangat menggemaskan, membuat Dera semakin tertawa kencang.
“Kamu kenapa, Yang? Kok, malah ketawa? Jangan bilang kamu ketularan gilanya si Jilia.”
“Hahaha. Ya, nggak lah, Mas. Aku masih waras, kok,” balas Dera.
Daren bernapas lega. Jujur dia sangat takut ketika mendengar jeritan Jilia tadi, bukan takut terjadi sesuatu pada mantan istrinya itu, melainkan keadaan Dera. Jilia sangat licik, apa saja bisa dia lakukan pada seseorang yang tak dia sukai. Daren benar-benar geram.
“Syukurlah. Kalau begitu, kita pulang sekarang. Aku sudah malas kembali ke dalam, isinya orang munafik semua!” geram Daren.
“Hust... nggak boleh begitu. Bagaimanapun, mereka keluarga kamu juga, Mas.” Dera membelai lembut rahang Daren yang sudah ditumbuhi bulu-bulu halus.
Cup
Daren langsung mengecup bibir Dera karena tak tahan melihat wajah istrinya yang begitu menggemaskan.
“Dasar tukang cari kesempatan!”
“Biarin, sama istri sendiri, kok,” sahut Daren tak mau kalah.
Dengan gemas Dera mengecup balik bibir Daren, tak hanya itu, Dera juga menciumi seluruh wajah Daren.
“Dasar bumil nakalku.”
“Dasar ayah dari anakku yang sangat nakal juga!”
__ADS_1
**
Halo, halo. Selamat membaca semuanya. Jangan lupa hadiah, vote, like dan komen, ya, guys.