
Dera sudah berada di kamar. Dia bingung dengan dirinya sendiri. Dera yakin belum mencintai Daren, tetapi kecewa ketika pria itu malah membela wanita lain.
Menatap langit-langit kamar, Dera meninju udara. Kekesalan yang menumpuk di dalam hati, semakin bertambah. Apalagi ketika Daren tak mengejarnya, bahkan tidak mengirim pesan juga. Apa dia mengharapkan itu? Antahlah, Dera bingung dengan pikirannya sendiri.
Merasa lelah dan mengantuk, Dera berniat untuk memejamkan mata sebentar. Kepalanya pun terasa pusing, mungkin karena menahan amarah tadi.
“Berharap setelah bangun, aku gak gini lagi.”
**
Jam lima sore Dera baru bangun. Yang awalnya hanya ingin tidur sebentar, malah kebablasan. Segera dia masuk kamar mandi, mencuci muka agar terlihat segar. Mengingat dia belum memasak makanan, Dera berniat untuk turun. Wanita itu disambut hangat oleh pelayan, banyak yang menawarkan diri untuk membantunya, tetapi Dera segera menolak.
“Maaf, Nyonya, kalau mengganggu.” Tiba-tiba Reva sudah berdiri di sampingnya. Gadis muda itu mengambil sayur dan mencucinya.
“Ya, Reva? Ada apa?” tanya Dera dengan dahi berkerut. Melihat raut wajah serius Reva, membuatnya bingung.
“Apa Nyonya sedang ada masalah? Tidak keluar dari kamar setelah kembali dari kantor Tuan, bahkan tidak makan siang juga,” cerocos Reva. Sungguh, Dera bahagia diperhatikan oleh gadis itu.
“Nggak, kok, Rev. Aku cuma lelah, makanya inisiatif buat tidur. Eh, malah kebablasan,” kekeh Dera.
“Oh, begitu. Baiklah, Nyonya.”
Lalu tak ada lagi percakapan di antara keduanya. Dera sibuk memasukkan bumbu-bumbu halus, sedangkan Reva memotong sayur.
__ADS_1
**
Daren baru kembali ketika jarum pendek menunjuk ke angka delapan. Wajahnya kusut, terlihat sangat kelelahan. Dengan lemas Daren menjatuhkan tubuhnya di sofa, pria itu meletakkan tas kerja di meja bundar sofa ruang utama.
Sosok yang dia rindukan ada di sofa satunya, tengah menonton TV sambil ngemil kerupuk. Namun, entah sengaja atau tidak, Dera tak melihat Daren yang sudah pulang. Jarak yang cukup dekat antara mereka, tidak mungkin membuat Dera tak melihat kehadirannya.
“Dera,” panggil Daren. Dia sudah mendudukkan tubuhnya.
“Hmm.” Hanya deheman yang keluar dari mulut Dera. Mata wanita itu tetap fokus pada layar yang menampilkan sinetron seru.
Melihat reaksi Dera yang seperti itu. Daren bisa menebak kalau istrinya tengah marah. Menghembuskan napas lelah, Daren berpindah tempat jadi di samping Dera. Sengaja ingin mencari kesempatan dalam kesempitan. Saat akan meraih tangan Dera, sang empu lebih dulu beranjak dari sana. Wajahnya masih datar.
“Dera.” Daren ikut beranjak, menaiki tangga menuju kamar mereka.
“Der.”
“Hmm.”
“Kamu udah makan?” tanya Daren.
“Udah,” jawab Dera singkat.
“Oh.”
__ADS_1
“Hmm.
Hening kembali. Daren yang sudah sangat frustrasi, akhirnya menyerah.
“Kamu ingin aku memecat Elena? Baiklah, kalau begitu aku akan memecatnya.” Daren membuka suara, membuat Dera langsung menoleh padanya.
“Benaran? Serius?” tanya Dera.
Daren mengangguk pasrah.
“Yes! Rasain kamu cewek sok hebat!”
Dera begitu bahagia. Meskipun ada sedikit rasa kasihan, tetapi harga dirinya sudah diinjak-injak oleh Elena.
“Karena masalah siang tadi, kamu sampai merajuk begini. Apa kamu cemburu?”
Dera bungkam. Kepalanya menunduk, dia juga bingung dengan perasaannya. Intinya, Dera tidak suka Daren membela wanita lain, apalagi seperti Elena. Apakah itu bisa disebut cemburu?
Akhirnya dia menjawab, “Aku tidak tahu.”
**
Ketemu besok guys😁
__ADS_1