
Wajah penuh kecemasan masih terpampang saat Dera baru memutuskan sambungan telepon. Gerakannya yang cepat, membuat para pelayan tanda tanya. Namun, tidak ada yang berani bertanya. Dera memasuki kamar, gadis itu meraih tas yang tergantung. Mengambil apa saja yang dia perlukan, setelah itu memasukkannya ke dalam tas.
Lagi-lagi Dera menuruni tangga dengan langkah yang begitu cepat. Wanita itu menuju dapur lebih dulu, menuang air putih dan meneguknya hingga tandas. Sebisa mungkin, Dera berusaha untuk tak khawatir. Bagaimana tidak, mendapat kabar ibunya sakit, dia langsung kelimpungan.
Selama ini ibu tidak pernah sakit, Dera bisa memastikan itu. Namun, ketika mendapat panggilan dari Vera, seketika jantungnya berdegup kencang. Kaget, khawatir, bercampur menjadi satu.
Dera memanggil sopir pribadi Daren, meminta lelaki paruh baya itu untuk mengantarnya ke rumah ibu. Dia sudah tidak bisa sabar, bukannya menipis, khawatirnya semakin berlebihan.
“Tolong agak lebih cepat, Pak!” perintah Dera. Sang sopir mengangguk patuh.
Lelaki di balik kemudi ingin bertanya, tetapi mengingat mereka tidak dekat membuat pak Agam segan. Akhirnya dia hanya bisa memendam rasa ingin tahunya.
“Terima kasih, Pak.” Dera langsung turun dari mobil ketika kuda besi itu sudah berhenti.
Tanpa menunggu jawaban pak Agam, Dera sudah melesat memasuki rumah orang tuanya. Terlihat Vera baru kembali dari dapur, menatap bingung padanya.
“Ibu mana, Ver?” tanya Dera dengan wajah khawatir.
“Ada di kamar?” jawab Vera.
“Oke.”
Vera hanya geleng kepala melihat sang sepupu yang begitu cemas. Dia ikut memasuki kamar ibu Hamidah, duduk di tepi kasur memerhatikan Dera yang tengah mencium punggung tangan ibunya berulang kali.
“Dari kapan Ibu sakit, Ver?”
“Tadi pagi. Tante bilang, beliau tidak apa-apa,” jawab Vera.
“Tapi muka ibu pucat banget!” seru Dera.
“Kamu tenang, tante udah minum obat dari dokter, kok. Soalnya, tadi aku panggil dokter buat periksa Tante. Dan hasilnya ... Tante hanya kecapean.
“Syukurlah.”
Dera bisa bernapas lega sekarang. Dia lepaskan tangan ibunya, lalu beralih memandangi wajah teduh wanita yang tengah tertidur itu. Rasa rindu berguru kentara, dia yang tak pernah jauh dari ibu, merasa bersalah karena sudah meninggalkannya. Mau bagaimana lagi, setelah menikah, dia harus ikut suami seperti apa yang ibu ucapkan.
“Kamu udah kasih tahu Om Daren, kalau kamu lagi ada di sini? Takutnya nanti suami kamu nyariin.”
“Oh, iya, lupa aku, Ver.” Dera segera mengambil ponselnya.
__ADS_1
Dia mencari kontak Daren, setelah itu langsung mengetik pesan untuk dikirim pada pria yang tengah bekerja di kantornya.
[Aku lagi di rumah ibu, Om. Soalnya ibu sedang sakit.] Send. Dera.
Memastikan pesannya sudah terkirim, Dera menyimpan ponselnya kembali. Dia berniat membuatkan bubur untuk ibu.
“Kamu sayang banget, ya, sama Tante Hamidah?” Vera mengikuti langkah Dera menuju dapur.
“Aku sayang dari Ibu lebih dari apa pun,” jawab Dera.
Vera mengangguk. Ibu Hamidah pasti bangga memiliki anak seperti Dera. Jangankan ibu, Vera saja bangga.
**
Dera berniat menginap di rumah ibu, dia tidak akan tenang kalau ibunya belum sembuh. Sedangkan Daren, pria itu sudah membalas pesannya. Daren bilang, dia akan datang dan ikut menginap juga.
Melihat ibunya sudah memejamkan mata, Dera membawa mangkuk bekas bubur ke dapur. Mencuci hingga bersih dan meletakkan kembali ke lemari.
Dera beralih ke ruang tamu, menunggu kedatangan Daren yang sampai sekarang belum terlihat batang hidungnya. Vera tidak bisa menemani dia karena harus mengerjakan skripsi, Dera maklum.
Mendengar suara deru mobil dari luar, Dera langsung beranjak membuka pintu rumah. Wajahnya semringah melihat Daren membawa plastik yang dia yakini di salah satunya ada pesanan martabak.
“Om, martabak aku mana?” tanya Dera sambil mengekor langkah Daren.
“Cepetan buka, aku udah nggak sabar mau makan,” ucap Dera.
“Iya, Sayang.” Daren langsung mencari pesanan Dera. Ketika ketemu, langsung memberikannya pada wanita itu.
Bahagia menyelimuti hari Daren, melihat Dera yang begitu lahap memakan martabaknya. Dia pikir wanita itu akan murung terus, mengingat pesan yang Vera kirim. Bahwa Dera sangat sedih karena ibu sakit.
“Om,” panggil Dera dengan mulut penuh.
“Ya. Kenapa?”
“Tentang Elena, Om nggak pecat dia, ‘kan?” tanya Dera.
“Hemm, nggak. Maaf, ya.” Daren merasa tak enak hati.
“Nggak apa, Om. Justru aku mau minta maaf, karena kemarin sudah seperti bocah. Aku bersyukur Om nggak jadi pecat, karena aku khawatir Elena bakalan sedih,” ujar Dera. Daren menatap takjub, wanita yang dia kenal judes, kini berubah seperti ibu peri.
__ADS_1
“Ternyata kamu baik,” celetuk Daren. Yang langsung disambut tatapan horor dari sang istri.
“Mentang-mentang aku cerewet, jadi gak bisa baik, gitu?!” geram Dera.
“Bukan, Sayang. Maaf kalau aku salah bicara.” Daren memohon sambil mengatupkan kedua tangannya di depan dada.
Wanita yang tengah duduk di lantai, memilih melanjutkan menikmati martabak. Dera tidak berminat untuk menjawab ucapan Daren lagi. Berada di keheningan seperti ini, membuat Daren sengsara. Dia rindu omelan Dera, meskipun sangat memekakkan telinga, tetapi indah baginya.
“Der,” panggil Daren.
“Hmm.”
“Gimana keadaan Ibu?”
“Demamnya sudah turun. Ibu juga sudah minum obat tadi, beliau sangat ingin cepat sembuh karena menantu kesayangannya ikut cemas dengan keadaannya,” ucap Dera setengah mencibir. Membuat Daren terkekeh.
“Aku benaran cemas, takut terjadi sesuatu dengan beliau.”
“Ya, aku tahu.”
“Hmm. Der,” panggil Daren lagi.
“Apa lagi, sih, Om?” Dia tak jadi memasukkan potongan martabak, karena Daren terus mengganggunya.
“Apa tidak sebaiknya kamu yang melanjutkan bisnis butik Ibu? Bukan, bukan maksud aku untuk menghasut kamu agar mengambil alih butik itu. Hanya saja, mengingat kesehatan Ibu yang kini menurun, aku kasihan kalau Ibu harus capek mengurus butik juga,” ucap Daren panjang lebar. Dera diam, menyimak semua perkataan Daren.
“Aku hanya khawatir dengan keadaan Ibu, Der. Kamu jangan berpikiran yang tidak-tidak, ya?” Daren sangat cemas.
“Makasih. Benar-benar menantu kesayangan Ibu,” celetuk Dera. Lagi-lagi Daren menanggapi dengan kekehan.
“Nanti aku coba bicarakan sama Ibu. Soalnya Ibu itu orangnya keras kepala, pasti nggak ngizinin karena aku sudah menjadi seorang istri.
“Biar aku bantu bicara. Lagian, aku nggak apa kalau kamu juga harus mengurus butik. Aku bukan anak kecil, Der. Kamu harus tahu itu. Aku bisa mengurus diriku sendiri, sekarang yang terpenting adalah kesehatan ibu,” jelas Daren.
Untuk pertama kalinya, Dera merasa senang karena ada yang memperhatikan kesehatan ibu. Daren terlihat tulus ketika mengucapkan itu, membuat Dera mengambangkan senyumnya.
“Sekali lagi makasih.”
“Sudah semestinya, karena Ibu kamu juga Ibu aku.”
__ADS_1
**
Terima kasih buat yang mau ngikutin dan kasih aku dukungan. Love you, all❤️