
Dera belum beranjak dari duduknya di rerumputan. Wanita hamil itu masih terus membuat karangan bunga dari bunga-bunga liar yang Daren kumpulkan. Senyum manis terus terkembang di bibirnya, meski ringisan kecil tetap terlihat.
Mata penuh binar menatap pada empat karangan bunga yang sudah dia buat. Entah mengapa, Dera merasa yakin bahwa anaknya adalah berjenis kelamin perempuan. Maka sebab itu, dia membuat karangan bunga. Satu untuk anaknya, dua untuk dia dan Daren, dan satu lagi untuk Vera. Pasti gadis itu akan senang.
“Masuk, yuk, Sayang. Kamu pasti capek duduk terus,” ajak Daren.
“Bentar lagi Mas, aku masih mau lihat-lihat bunga,” tolak Dera halus.
Meski Dera selalu tersenyum, tetapi Daren menangkap gurat aneh di wajah manis itu. Seperti ada yang Dera sembunyikan, tapi dia tidak tahu apa itu. Daren memilih duduk juga, menatap wajah istrinya dari dekat.
“Mas kenapa?” tanya Dera bingung. Dia mendorong pelan pipi suaminya agar tak menatap dia lagi.
“Kamu cantik,” puji Daren. Mengabaikan cebikan kecil yang meluncur dari bibir Dera.
“Hahaha... Mas serius, Sayang. Kamu itu cantik banget, Mas betah pandangin wajah kamu terus,” gombal Daren.
“Mas bisa aja.” Dera menutup wajahnya, malu. Rona merah begitu tampak di kedua pipinya.
Daren semakin tertawa gemas melihat tingkah Dera. Pasalnya wanita itu begitu menggemaskan ketika malu-malu, membuat Daren ingin menggigit pipinya yang menggelembung. Namun, tawa Daren langsung terhenti ketika mendapati Dera meringis sambil memegang perut buncitnya.
“Sayang, kamu kenapa?” tanya Daren panik. Langsung berdiri dan memegang bahu Dera.
“Aku pipis di celana, Mas,” cicit Dera.
“Astaga! Kamu mau melahirkan, Sayang! Itu air ketuban, bukan pipis!” teriak Daren panik. “Ayo Mas bantu berdiri. Kita langsung ke rumah sakit!”
“Jangan terlalu panik begitu, Mas. Aku baik-baik aja, kok,” lirih Dera seraya mengembangkan senyumnya.
“Kamu mau melahirkan, Sayang! Gimana Mas nggak panik.” Dengan cepat Daren menuntun Dera untuk masuk ke dalam rumah.
Pria yang akan segera menjadi ayah itu, segera menghampiri telepon rumah. Menghubungi satpam di luar untuk mempersiapkan mobil, karena mereka akan segera berangkat ke rumah sakit.
__ADS_1
Dera hanya geleng-geleng kepala saja. Sesekali dia meringis saat merasakan mulas. Meski begitu, dia berusaha tetap tenang dan menikmati setiap mulas yang datang.
“Sabar, ya, Sayang. Kita akan segera sampai ke rumah sakit,” ucap Daren menenangkan ketika mereka berada di dalam mobil.
Dera mengangguk, menyenderkan kepalanya di bahu sang suami. Menghirup lalu menghembuskan kembali, Dera mengusap perutnya sembari terus mengembangkan senyum.
Jemari Dera beralih menyentuh wajah Daren, menelusuri rahang tegas yang ditumbuhi rambut-rambut halus. Pria itu menatapnya, masih dengan wajah khawatir dan tatapan sendu.
“Kamu harus kuat, Sayang. Demi anak kita,” lirih Daren. Dia mengecup kening Dera lama.
Dera hanya menanggapi dengan senyuman.
“Mulasnya masih ada Sayang?”
Dera mengangguk. “Masih, Mas. Dan ini ... sangat nikmat.”
🌺
“Jangan ge-er. Aku melakukan itu hanya untuk membantu kamu.” Befan memasang tampang dinginnya, membuat Vera mendecih.
“Syukur, deh, kamu tau.”
Andai saja Vera tidak memiliki sisi kemanusiaan, sudah pasti dia akan menendang Befan agar pria itu tidak bisa lagi songong di depannya. Sudahlah dia kesal karena ulah Mima, sekarang ditambah lagi dengan ucapan sombong Befan.
“Dasar sombong! Sok kegantengan!” geram Vera.
“Saya memang tampan. Kamu harus mengakui itu.”
“Tidak!”
“Iya!”
__ADS_1
“Udalah, mending Bapak diam aja. Aku masih kesal!” Dera mencebikkan bibirnya.
“Ya sudah, kamu diam juga.”
Alhasil keduanya saling diam, Vera melirik-lirik Befan yang tengah bermain ponsel. Kecanggungan membuyar karena bunyi yang berasal dari tas Vera. Cepat-cepat gadis itu meraihnya, lalu mengambil ponsel yang masih berbunyi dan menampilkan nama ‘Daren’ dilayarnya.
“Halo, Mas? Kenapa telepon?”
“....”
“Apa? Iya, aku langsung ke sana sama Tante Hamidah!” teriak Vera.
Gadis itu langsung memutuskan sambungan secara sepihak. Dia mengambil tas dan hendak pergi, tetapi kembali lagi karena kelupaan sesuatu.
“Bapak bisa tolong aku?”
“Ada apa? Kenapa kamu seperti khawatir begitu?” tanya Befan.
“Dera mau melahirkan. Aku harus menjemput Tante Hamidah dan membawanya untuk melihat Dera. Please ... anterin aku,” mohon Vera seraya mengatupkan tangannya di dada.
“Iya, ya udah. Kamu nggak perlu sedih begitu, kita langsung pergi menjemput Tante Hamidah saja.” Vera mengangguk setuju.
Lalu keduanya sama-sama berlari menghampiri mobil, masuk dengan tergesa dan Befan langsung melajukan kendaraan roda empat itu.
Dalam perjalanan Vera terus berdoa dalam hati, meminta keselamatan untuk sepupunya dan calon keponakannya itu.
“Kamu harus tenang. Buk Bos pasti baik-baik saja.”
“Makasih.”
**
__ADS_1
Terima kasih untuk semua yang sudah mendukung saya. Maaf karena alurnya mungkin tidak cocok dengan apa yang kalian mau. Tapi, semua sudah saya rancang sejak awal novel ini terbit. Ide pun sudah saya bekukan dalam otak.