
“Terima kasih, Nak. Sudah menolong ibu membawa belanjaan sampai ke mobil.”
“Baik, Bu. Sama-sama.”
Wanita separuh baya meninggalkan Pandu seorang. Tadi, niatnya Pandu ingin belanja keperluan dapur bersama bunda. Namun, dia meminta cinta pertamanya itu untuk masuk duluan, sebab dia tidak tega melihat ibu-ibu kesusahan membawa banyak sekali belanjaan.
Akhirnya dengan inisiatif sendiri, Pandu menawarkan diri untuk membantu yang disambut tak enak hati oleh ibu itu.
Pandu berbalik, hendak masuk ke dalam supermarket, tetapi langkahnya terhenti karena dihadang seseorang.
“Aku cari kamu kemana-mana, tetapi kamu malah di sini.” Mima mengatur napas yang tak beraturan. Dia baru saja berlari demi menghadang Pandu agar tak kehilangan jejak lagi.
“Tapi aku nggak pernah suruh kamu buat cari aku!” cetus Pandu. Menatap tak suka lawan bicaranya.
“Aku rindu, Ndu,” kata Mima. Dengan percaya diri Mima merentangkan tangannya, meminta Pandu untuk memeluk dia.
Sayangnya, pria itu menanggapi dengan mendecih. Sorot sinis terus Pandu lemparkan pada Mima, sebelum akhirnya dia memutar bola mata malas.
“Aku sibuk. Tidak ingin menanggapi ucapan konyolmu itu!” sinis Pandu.
Pandu hendak berbalik, tapi lagi-lagi dia ditahan oleh Mima. Wanita itu semakin mengeratkan genggaman pada lengan Pandu, meminta agar Pandu bertahan lewat sorot mata memohon.
“Lepas, Ma! Nggak enak dilihat orang,” ucap Pandu.
“Nggak mau! Pokoknya aku mau sama kamu terus, Ndu. Memangnya kamu nggak kasihan sama bayi kita?” Mima memasang wajah sendu, tetapi itu tidak membuat Pandu luluh.
“Kamu hamil?” Pandu berlagak sok polos.
“Iya. Kan, aku sudah bilang sejak beberapa hari lalu, kalau aku lagi hamil anak kamu.”
__ADS_1
“Tapi, kok, perut kamu nggak kelihatan buncit? Malah semakin rata menurutku,” celetuk Pandu. Dia tersenyum sinis.
Mima bungkam. Dan itu sukses membuat senyum Pandu semakin merekah.
“Aku bukan Pandu yang bisa kamu tipu lagi, Ma. Pandu polos sudah hilang. Kamu sendiri yang membuat Pandu berubah, jadi jangan salahkan jika aku tidak mempercayaimu lagi.” Gegas Pandu melangkah meninggalkan Mima.
“Pandu! Kamu harus bertanggung jawab!” teriak Mima frustrasi.
Pandu berhenti, dia berbalik dengan sorot mata tajam.
“Ayo periksa ke dokter kandungan. Kamu berani?” tantang Pandu.
Lagi dan lagi, Mima bungkam. Otaknya sedang bekerja mencari jawaban untuk Pandu, tetapi tidak bekerja dengan baik.
“Jangan pernah katakan apa pun lagi padaku, Ma. Kamu pikir aku tidak tahu, sebelum kamu tidur denganku kamu sudah tidur dengan pria lain. Karena saat aku menidurimu, kamu sudah tidak perawan lagi!” ucap Pandu penuh penekanan. Dia langsung pergi begitu saja tanpa memedulikan wanita itu lagi.
**
Kasih sayang yang Fina curahkan, membuat Dera nyaman. Dan lagi, segala motivasi yang Fina berikan, mampu menggerakkan hati Dera dan membuat nyaman.
Dera langsung turun setelah sampai. Dia berjalan dengan perlahan menuju pintu utama. Setelah memencet bel, Dera menunggu sampai ada yang membukakan pintu rumah.
“Eh, ada Nyonya Dera,” sapa pembantu rumah Pandu.
“Hahaha, iya, Mbok. Ibu Fina ada?” tanya Dera sopan.
“Nyonya Fina-nya sedang pergi, Nya. Tadi katanya mau belanja bahan dapur,” ujar Mbok.
“Oh, gitu ya, Mbok.”
__ADS_1
“Iya, Nya. Ayo masuk dulu, tunggu di dalam sambil ngobrol sama Mbok. Hehehe,” ajak Mbok. Dera mengangguk ramah.
Wanita hamil itu mengikuti Mbok masuk. Dera diminta untuk duduk, dia menurut saja dan terus mengembangkan senyum ramah. Mbok balik ke dapur untuk membuat teh dan mengambil kudapan. Dera menolak, tetapi Mbok memaksa karena menjamu tamu itu sangat penting.
Saat Dera tengah melihat-lihat, suara seseorang membuat raut wajahnya berubah seketika.
“Mbok! Buatkan aku minu—“ Ucapan Jilia terhenti ketika mendapati Dera di ruang utama. Mata keduanya bersibobrok, tetapi Dera langsung memalingkan wajah dengan cepat.
Kenapa harus ada si ular itu, sih?
Jilia tampak tak acuh, berjalan melewati Dera tanpa menoleh sedikit pun. Dih, Dera geram melihat tingkah wanita itu. Sombong dan sok sekali!
Sepuluh menit kemudian Mbok datang dengan membawa satu gelas teh hangat dan kudapan. Dera mencoba tersenyum ramah, lalu meminta Mbok untuk menemaninya. Dia kesepian di sana, butuh teman bicara.
“Jilia memang di sini sejak tadi ya, Mbok?” tanya Dera penasaran.
“Sejak dua hari yang lalu, Nya. Nyonya Jilia menginap di sini karena suaminya pergi keluar kota,” imbuh Mbok.
“Oh.” Dera mengangguk-anggukan kepalanya, mengerti. “Kalau anaknya, kemana? Dia punya anak satu, kan? Mau dua sama yang di kandungan.”
“Iya, Nya, ada. Anaknya, tinggal dengan orang tua Tuan Hafran,” jawab Mbok. Lagi-lagi Dera mengangguk saja.
Dia menyeruput teh dan mengambil kudapan tanpa mau bertanya kembali.
**
Maaf guys karena kemarin tidak up. Othor sibuk di dunia nyata dan waktunya memang bener-bener tidak bisa dibagi untuk ngetik bab.
Tapi sekarang othor udah up. Jangan lupa likenya dong, komennya juga, meski othor belum sempat balas. Kalau mau kasih vote, juga boleh banget. Hehehe. Kopi dan kembangnya.
__ADS_1