
Mengetahui kedekatan Zakira dan Hander, Rasan jadi uring-uringan. Wanita itu terus meyakinkan Hander, tetapi sang empu tidak pernah mau mendengar.
“Om, kan, tahu bagaimana sosok Zakira. Dia itu bukan perempuan baik-baik, Om.” Rasan terus mengikuti ke mana pun Hander pergi.
“Jangan asal bicara!” sentak Hander.
“Sepertinya perempuan itu sudah meracuni pikiran Om.” Rasan mulai mengadu domba Hander. Ya, dia selalu saja begitu.
“Cukup, Rasan!” bentak Hander. “Harusnya kamu sadar bagaimana dirimu sendiri, jangan hanya bisa menilai orang lain.”
Rasan melotot, tidak percaya dengan tanggapan Hander.
“Om berubah! Om bukan lagi Om Hander yang dulu!” teriak Rasan dengan air mata yang sudah mengalir di kedua pipinya.
“Ya, aku memang sudah berubah. Asal kamu tahu, siapa yang membuat aku berubah? Zakira. Perempuan baik itu yang membuatku sadar,” ucap Hander mantap.
“Dia itu membawa dampak buruk buat, Om! Kenapa Om nggak percaya, sih!”
Rasan terus mencak-mencak, meyakinkan Hander bahwa Zakira sudah meracuni pikiran pria itu. Sayangnya Hander tidak peduli, dia percaya dengan semua ucapan Zakira, dan bukan Rasan.
“Aku tidak mau tahu, pokoknya Om harus tetap menjodohkan aku dengan Alden. Titik!”
“Tidak bisa. Kamu itu sudah kalah, jadi harus menerima konsekuensinya,” sahut Hander.
“Om!” jerit Rasan tak terima.
“Pulanglah, tugasmu sudah selesai. Dan jangan kembali di sini lagi, jika bukan karena hal penting. Aku akan katakan pada Papahmu, bahwa anaknya ternyata tidak masuk kriteria calon menantuku,” jelas Hander, semakin membuat Rasan meradang.
Wanita dengan setelan modis itu berlari menaiki tangga menuju kamarnya. Rasan mengunci diri di kamar, dia tidak mau pergi dari rumah itu, pokoknya dia harus bisa meyakinkan Hander kembali.
__ADS_1
Ketika mendengar teriakan Rasan lagi, Zakira buru-buru pergi ke ruang tamu. Tetapi saat sampai di sana, dia hanya melihat Hander saja.
“Ada apa, Yah?” tanya Zakira sambil celingukan.
“Biasa, Rasan susah diatur,” balas Hander.
“Sabar, Yah, lama-lama pasti dia akan mengerti,” tutur Zakira.
Hander menghembuskan napas kasar, lalu memijit keningnya pelan. “Mengapa tidak sejak dulu aku sadar, bahwa Rasan bukan gadis yang cocok untuk Alden. Ah, rasanya aku sangat bersalah pada Alden. Kalau saja pernikahan itu terjadi, entah bagaimana jadinya pernikahan mereka,” beber Hander.
“Jadikan itu sebagai pelajaran, Yah. Memang tidak gampang mencari sosok yang cocok untuk diri sendiri, kita perlu tahu bibit, bobot, dan bebetnya.”
“Ya, kamu benar. Aku sangat beruntung memiliki menantu pintar sepertimu,” puji Hander.
Zakira hanya tersenyum simpul. “Kira hanya mengucapkan apa yang Kira tahu.”
“Amin.”
**
Hari ini tepat dua Minggu, sudah waktunya Zakira kembali ke rumah Alden. Sejak pagi wanita itu disibukkan dengan baju-baju yang harus dia masukkan ke dalam koper. Zakira juga sudah menghubungi Alden, untuk menjemputnya segera. Namun, sepertinya akan terlambat sebab pria itu harus meeting terlebih dahulu.
“Siap juga akhirnya.” Zakira merenggangkan kedua tangannya, lalu menjatuhkan tubuh ke kasur.
“Zakira.” Terdengar suara Hander dari luar.
“Iya, Yah.”
Zakira lekas membuka pintu kamar, disambut senyuman hangat dari Hander. Sebenarnya pria itu sedih karena akan berpisah dengan Zakira. Dia pasti akan merindukan masakan menantunya, juga pijatan yang sangat enak dari jari-jari kecil Zakira.
__ADS_1
“Sudah selesai?” tanya Hander.
“Sudah, Yah. Semua barang-barang sudah Zakira masukkan ke dalam koper,” jawab Zakira.
“Syukurlah. Kalau begitu ayo bawa turun, sebentar lagi pasti Alden sampai,” ujar Hander. Zakira mengangguk.
Setelah mengambil koper, keduanya berjalan bersamaan menuruni tangga. Tidak ada percakapan antara Zakira dan sang mertua, mereka sama-sama bungkam dengan pikiran masing-masing.
Zakira berdehem, lalu menatap Hander. “Jadi kapan Ayah meminta maaf langsung pada Alden?”
“Belum tahu. Atau kamu punya usulan hari yang tepat?” Hander balik bertanya.
“Lebih cepat lebih baik. Bagaimana kalau hari ini saja? Kira akan mengatur jadwal pertemuannya, tinggal Ayah tentukan saja tempatnya,” usul Zakira.
“Kamu serius?”
“Iya, Yah. Bagaimana, sepakat?”
Hander menghembuskan napas pelan. “Baiklah, Papah percaya padamu. Bila perlu kamu saja yang menentukan tempatnya, Papah pasti setuju.”
“Oke, siap. Nanti Kira serlok tempatnya, ya.”
Zakira merasa senang, sebentar lagi apa yang dia rencanakan akan terjadi. Sabarnya, lelahnya, akhirnya membuahkan hasil. Zakira harus meminta kado pada Alden, karena telah berhasil melakukan misinya.
__ADS_1