
Seperti biasa di rumahnya dulu, Zakira selalu bangun pagi untuk memasak. Hari ini, wanita itu pun juga begitu. Bahkan belum ada orang di dapur, dia sudah mengolah sayuran untuk dimasak pagi ini.
Dengan cekatan Zakira memasukkan bumbu-bumbu yang sudah dia buat, lalu disusul sayurnya. Saat sedang asyik memasak, Zakira merasakan sebuah tangan memeluk pinggangnya dari belakang.
“Pagi,” sapa Alden sambil memeluk Zakira.
“Pagi juga. Emm, tolong lepaskan dulu tangannya, aku lagi masak,” pinta Zakira.
“Kenapa harus dilepas? Kamu bisa lanjutkan masaknya,” ujar Alden.
“Sedikit kurang nyaman,” cicit Zakira.
“Kalau masih sedikit, gpp. Yang penting bukan banyak.”
Ah, memang Zakira tidak akan pernah menang jika berdebat dengan Alden. Pria itu lebih pintar, Zakira langsung bungkam.
“Pasti enak,” puji Alden sambil meletakkan dagunya di bahu Zakira.
Zakira tersenyum, merasa bahagia dipuji begitu oleh Alden. Padahal dia sering dipuji banyak orang, karena memang masakannya sangat enak. Namun, pujian pagi ini terasa asing tetapi mampu membuat jantungnya kelonjatan.
“Makasih,” balas Zakira.
“Sama-sama.” Alden melepaskan pelukannya pada Zakira karena merasa gerakan Zakira kurang nyaman.
Alden memilih duduk di kursi makan sambil melihat Zakira memasak. Dia memasang wajah dingin plus datar seperti biasa, lalu Alden beralih menatap ponsel.
Sedangkan Zakira, merasa ada yang kurang saat Alden melepaskan pelukannya. Lagi pun, dia juga merasa kecewa saat suaminya tidak lagi melihat ke arahnya. Zakira menghembuskan napas kasar, lalu kembali fokus pada aktivitasnya.
🌺🌺
Selesai sarapan pagi bersama, Alden pamit pada Zakira. Pria itu berkata akan pergi ke kantor karena ada sedikit masalah di sana.
__ADS_1
Sekarang hanya tinggal Zakira sendiri saja di rumah, sebab ibu mertuanya juga pergi. Dia sangat bosan, Zakira berniat menghubungi Mina agar gadis itu mau datang ke rumah mertuanya.
“Hey ... kamu lupa aku sedang bekerja di butikmu?” Mina bertanya dengan gaya bicara lebay, membuat Zakira tertawa.
“Maaf, aku tidak ingat.”
“Dari pada bingung, mending kamu saja yang ke sini. Sudah lama juga kita tidak bertemu, aku sangat rindu,” ucap Mina.
“Sok, iya, kamu. Tapi entar, deh, aku izin dulu,” kata Zakira.
“Gak enak, ya, punya suami. Ke mana-mana harus izin dulu, gak bebas,” celetuk Mina.
“Kamu akan merasakannya, Min.”
“Tidak. Aku, kan, tidak menikah.”
“Serah kamu, deh. Aku tutup, ya, soalnya mau hubungi suamiku dulu.”
Zakira memutuskan sambungan telepon. Lalu dia mencari kontak Alden, berniat menghubungi pria itu untuk meminta izin.
Cukup lama, barulah Alden mengangkatnya.
“Ada apa?” tanya Alden di seberang sana. Mendengar suara sang suami yang terkesan dingin, membuat Zakira takut.
“Emm, itu ... aku mau izin,” cicit Zakira.
“Izin apa, Sayang?”
Alden memang selalu tahu caranya agar Zakira tidak takut lagi. Pria itu mengubah nada bicaranya menjadi lembut, agar sang istri merasa nyaman.
“Ketemu Mina, boleh?”
__ADS_1
“Ketemuannya di mana?”
“Di butik, kok. Boleh, ya?” bujuk Zakira.
Lama, Alden hanya diam. Pria itu berdehem, Zakira masih menunggu dengan sabar, meski agak ragu.
“Ya sudah. Tapi harus sopir yang mengantar,” kata Alden.
“Oke. Terima kasih.”
Zakira langsung memutuskan sambungan setelah mengucap selamat siang. Dia langsung berlalu ke ruang ganti, mencari pakaian yang akan dia pakai.
Saat akan mengambil jam tangan di laci nakas, tidak sengaja Zakira melihat sesuatu di sana. Sebuah bingkai berisi foto seorang perempuan.
“Siapa perempuan ini?”
__ADS_1