
“Mantan istriku selingkuh dengan sepupuku.”
Mendengar ucapan Daren, Dera melongo tak percaya. Dia segera mendekat pada Daren, mengikis jarak antara mereka. Dengan sigapnya, Dera menopang dagu, guna lebih dekat bila nanti Daren ingin bercerita. Namun, sudah hampir lima menit, Daren hanya diam saja tanpa mau menjelaskan lebih lanjut. Malahan, pria itu fokus pada makanan di meja.
Melihat itu, Dera mendesah kesal. Beberapa kali dia menggerutu, jengkel dengan sikap Daren yang tampak biasa saja.
“Kenapa?” tanya Daren karena aneh ditatap sedemikian rupa oleh Dera.
“Ish. Om itu nggak peka, ya? Udah tahu aku penasaran, bukannya dilanjut malah sibuk makan sendiri,” omel Dera dengan wajah cemberut. Daren terkekeh, gemas.
“Lah, memangnya apa yang harus aku jelaskan?” Daren bertanya lagi. Entah apa niatnya, tetapi itu sukses membuat Dera semakin dibakar amarah.
Interaksi sepasang suami-istri, tidak lepas dari pengawasan mata mbok. Beliau terus tersenyum ketika melihat Dera mengomel, begitu pun melihat sikap Daren. Awalnya mbok pikir keduanya tidak akur, tetapi dugaan mbok salah, malah mereka sangat akur sampai-sampai sering berdebat hal kecil.
“Om! Buruan!” geram Dera. Dia mengentakkan kaki dilantai, seperti anak kecil yang tidak dibelikan es krim.
“Buruan ngapain, Dera? Dera nyonya Algra?” Daren masih mode santai. Bahkan, pria itu malah meminum susu dengan slowmo.
“Ceritain tentang mantan istri, Om. Aku pengin tahu, tentang ... perselingkuhan itu,” ucap Dera. Meski lirih, tetapi penuh dengan penekanan.
“Aku sedang tidak ingin mengenang masa lalu. Gimana, dong?” Daren menaikturunkan sebelah alisnya, menggoda Dera.
Gadis dengan baju piama, semakin mencebik kesal. Respons Daren yang terus bercanda, membuat Dera naik pitam. Dia lekas meninggalkan meja makan masih dengan wajah kusut. Mengetahui istrinya marah, Daren langsung meninggalkan makanan yang masih separuh. Dia mendadak cemas, merasa candaannya mungkin berlebihan untuk Dera. Apalagi ketika mendengar pintu yang ditutup dengan dibanting, membuat Daren meringis.
“Sampai segitunya mau tahu tentang Jilia,” lirih Daren. Tetap berdiri di depan pintu, meski tertutup rapat tanpa cela untuk dia masuk.
Tidak. Daren tidak bisa diam saja, dia pasti tidak akan fokus bekerja bila belum berbaikan dengan Dera. Pesona istrinya begitu lengat menempel di pikiran, bahkan mendominasi ketimbang pekerjaan yang menumpuk di meja kerja. Jadi, apa pun alasannya, Daren harus bisa membujuk Dera untuk membuka pintu dan dia akan meminta maaf.
“Dera,” panggil Daren sambil mengetuk pintu kamar.
Tak ada jawaban dari dalam. Hening.
“Dera. Buka pintunya, dong, Sayang,” panggil Daren lagi. Selembut mungkin dia mengeluarkan suara, berharap Dera akan luluh.
Terbuka, sih, terbuka pintunya. Namun, bukannya luluh, Dera malah berdiri dengan berkacak pinggang, siap memarahi Daren seperti anak kecil yang melakukan kesalahan. Ingin tertawa, tetapi takut istrinya akan semakin marah. Jadi, yang bisa Daren lakukan hanya menunduk, menunggu reaksi Dera.
“Cepetan. Aku sibuk!” tekan Dera.
__ADS_1
“Hmm, kamu jangan marah, ya?” Daren mendongak, menatap sendu wajah judes istrinya. Namun, Dera tetap Dera. Susah luluh hanya dengan tatapan seperti itu.
“Kalau marah kenapa?” tanya Dera balik. Masih dengan posisi sama, malah wajahnya kelihatan makin judes.
“Nanti jelek,” gumam Daren, tetapi masih bisa didengar oleh Dera.
“Udah jelek dari lahir! Cepetan, ngomong yang jelas!” Dera semakin menekan Daren.
Agaknya Daren tidak bisa menye-menye pada sosok Dera. Sangat, sangat galak. Pria itu memilih beranjak, mendekati Dera bahkan berdiri di samping gadis itu. Perlahan, Daren memeluk Dera dari samping. Entahlah, Daren dapat keberanian dari mana.
“Malah peluk-peluk, ngapain, sih?”
“Biar kamu nggak marah lagi. Kata ibu dulu, kalau seseorang marah, harus dipeluk, biar marahnya hilang.” Daren menjelaskan masih terus memeluk Dera.
“Oh, jadi kalau ada perempuan cantik di luar sana, sedang marah harus dipeluk juga, ya?” Dera semakin melotot. Daren segera menggeleng sambil meringis.
“Nggak, gitu, Dera sayang. Aku hanya menenangkan orang yang dekat denganku, seperti kamu contohnya. Aku nggak mau kamu terus diselimuti amarah, mending selimuti aku aja,” ucap Dera memelas.
“Om, udalah, mending kerja sana,” usir Dera sambil mendorong Daren.
“Tapi kamu udah nggak marah, kan? Soalnya aku bakalan nggak fokus kerja, kalau kamu masih marah gini.”
“Kok, ngusir yang punya rumah, sih?”
“Ish, terserah, Om, lah. Kalau nggak mau pergi, ya, biar aku aja yang pergi.” Dera hendak berbalik, tetapi Daren menahannya.
“Baiklah, Nyonya Muda. Tuan tampan ini akan pergi bekerja,” kata Daren sambil mengecup singkat punggung tangan Dera.
“Ya, udah, sana pergi.”
“Hmm. Tungguin aku pulang, ya. Nanti aku bakalan jelasin semuanya,” ucap Daren.
“Oke. Ingat, penjelasan!” tekan Dera, membuat Daren terkekeh.
**
Seharian di rumah, Dera hanya menghabiskan waktu dengan tanaman di taman. Dia jadi mempunyai hobi baru, yaitu menanam bunga. Dengan dibantu Reva, Dera menyelesaikan menanam bunga mawar.
__ADS_1
“Nyonya suka bunga mawar, ya? Soalnya kebanyakan bunga mawar yang ditanam?” tanya Reva.
Reva memang satu-satunya pelayan yang hobi bertanya, dia pun suka berbicara. Jadi, Dera merasa nyaman bila berbicara atau pun meminta pendapat pada Reva.
“Iya. Soalnya indah dan harum,” jawab Dera jujur. Dia menatap bunga-bunga dengan senyum mengembang.
“Sama. Reva juga suka, Nyonya,” ujar Reva.
“Waw, berarti kita klop,” sahut Dera. Lalu keduanya sama-sama tertawa.
Awalnya Reva memang menolak ajakan Dera untuk mengurus taman. Namun, dia terus memaksa. Bahkan, Dera berkata bahwa Daren tak akan marah bila mereka berteman. Pria itu pasti akan sangat bahagia, sebab istrinya tidak lagi kesepian.
“Nyonya sudah lama, ya, pacaran dengan Tuan? Tapi, kok, Reva nggak tahu, ya?”
Pertanyaan Reva, membuat suasana jadi canggung. Gadis muda itu menutup mulut, merasa salah berbicara.
“Maaf, Nyonya. Kalau pertanyaan Reva membuat Nyonya tidak nyaman. Sebaiknya tidak perlu dijawab, maksudnya memang tidak usah dijawab,” ujar Reva. Menunduk karena merasa telah lancang.
“Tidak perlu menunduk begitu, Reva. Nggak apa, kok.”
“Nyonya tidak marah?”
“Untuk apa saya marah? Karena itu memang wajar. Sebab, tanpa ada angin dan hujan, tiba-tiba Om Daren menikah denganku,” jelas Dera.
Reva mengangguk-angguk saja, meski wajahnya masih kelihatan tidak enakan. Saat Dera akan menjelaskan, tiba-tiba getaran pada ponsel menghentikan mulut Dera yang ingin mengeluarkan suara. Dia segera mengambil benda pipih yang tersimpan disaku celana. Melihat pesan masuk dari nomor tak dikenal, membuat kening gadis itu berkerut karena bingung. Apalagi ketika membaca isi pesan di layar ponsel.
[Hay, Dera. Salam kenal, ya, Jilia. Oh, ya, gimana hubungan kamu dengan Daren? Pasti nggak berjalan baik, ya? Hahaha. Makanya jangan belagu jadi cewek. Masih bau kencur aja, sok banyak gaya.]
Pesan yang malah menjurus ke cibiran, membakar amarah dalam dada Dera. Gadis itu membanting ponselnya di rumput, dengan terus bersumpah serapah.
“Dasar nggak tahu diri! Enak banget bilangin aku sok banyak gaya, padahal dia yang banyak gaya. Mana kecentilan lagi!” geram Dera.
Sontak, membuat Reva terkejut. Perlahan, gadis itu beranjak meninggalkan nyonya-nya sendirian.
**
Om Daren. Please, jangan bikin othor jadi nahan buat gak keluarin bab ini, deh🤧
__ADS_1
Yang baik hati, vote dan hadiahnya jangan lupa, ya? Biar othor semakin semangat 😩