Ketika Pamanmu Menjadi Pengantin Pengganti

Ketika Pamanmu Menjadi Pengantin Pengganti
Bab 71. Tumben


__ADS_3

“Hei! Jilia makhluk astral!”


Teriakan melengking dari belakang, menghentikan langkah empat orang di sana. Pandu berlari menghampiri keempatnya, menatap sinis pada Jilia.


“Pandu!” tegur bunda, merasa tidak suka dengan panggilan Pandu.


“Pantes, kok, Bund. Dia aja suka,” sahut Pandu sambil cengengesan.


“Stop, ya. Kamu nggak boleh gitu lagi. Gak sopan.”


“Denger tuh, Pandu,” kata Jilia. Wanita itu tersenyum miring, mengejek Pandu.


Dengan geram Pandu melotot ke arah Jilia yang dibalas oleh wanita itu. Sedangkan tiga orang lainnya, hanya geleng-geleng kepala saja. Sejak awal keduanya memang tidak akur.


“Mending kamu pulang sana, dari pada di sini entar malah bikin ribut,” usir Pandu sambil mengibaskan tangan.


“Gak mau, sih. Kok, maksa,” cetus Jilia.


“Dibilangin ngeyel. Awas aja kalau kamu gangguin Dera,” ancam Pandu.


Bunda melerai, segera menarik Pandu untuk ikut mereka ke ruangan Dera. Pria tampan itu hanya paksa, meskipun hatinya gondok karena terus diejek oleh Jilia. Wanita itu puas melihat keponakannya dimarahi oleh sang bunda.


Saat akan masuk ke dalam, Pandu segera memegang lengan bunda dengan erat, membuat wanita separuh baya itu bingung.


“Ada apa, Nak?” tanya bunda.


“Saran aku sih Bun, mending nih si Jilia nggak usah ikut masuk, deh. Bunda, kan, tahu gimana On Daren. Aku cuma takut malah bikin ribut nanti,” saran Pandu yang langsung mendapat pelototan dari Jilia.


“Kamu, kok, gitu sih, Pan? Tante, kan, beneran mau jengukin Dera, nggak yang lain,” sahut Jilia.

__ADS_1


“Ayah dan Bunda oke aja kalau kamu bohongin, tapi sayangnya aku nggak bakalan mempan. Ular ya tetap ular.”


“Pandu! Jaga omongan kamu! Dasar tidak sopan!” bentak Hafran. Pandu hanya memutar bola matanya.


“Sudah, sudah. Kalau hanya ingin ribut di sini, mending kalian pulang saja.” Ayah geram, menatap tajam ketiganya.


Kalau sudah ayah yang turun tangan, maka mereka tidak akan berani berdebat lagi. Pandu memilih mengekor bunda masuk, diikuti Jilia dan suaminya.


Ketika melihat siapa yang datang, Dera bahagia. Namun, senyumnya kembali surut ketika melihat Jilia. Dia sangat malas meski niat wanita itu baik, ingin menjenguknya.


“Bagaimana keadaan kamu, Sayang?” Bunda menghampiri, mengusap rambut Dera dengan penuh kasih sayang.


“Baik, Kak. Hanya saja nyeri karena tadi harus dijahit karena sedikit robek,” jawab Dera.


“Syukurlah. Selamat ya Nak, akhirnya kamu menjadi seorang Ibu,” ucap bunda, Dera mengangguk dengan penuh bahagia.


Tidak ada alasan yang perlu Pandu takutkan lagi. Mungkin melepas Dera pada pamannya, adalah hal yang tepat. Wanita itu kelihatan begitu bahagia, berbeda dengan bahagia saat mereka masih pacaran dulu. Pandu ikut tersenyum ketika Dera menceritakan tentang nikmatnya melahirkan. Dapat dia lihat kilat bahagia di mata Dera, dan Pandu pun ikut bahagia.


“Iya, terima kasih,” balas Dera, ikut tersenyum meski terpaksa.


Jilia mengedipkan sebelah matanya pada Dera yang dibalas pelototan oleh wanita itu.


“Loh, Kakak udah datang?” Daren datang langsung menyalami kakak dan Abang iparnya.


Fina mengangguk, lalu memeluk Daren. “Selamat, ya, yang udah jadi ayah.”


“Makasih, Kak.”


Daren mempersilahkan tamunya untuk duduk di sofa yang ada di ruangan, sedangkan bunda Fina memilih menghampiri kembar yang berada di box. Diam-diam Dera curi pandang pada Jilia. Wanita itu tampak diam, padahal awalnya dia sudah curiga dengan apa yang akan Jilia lakukan.

__ADS_1


“Anaknya Mbak Jilia tidak diajak?” tanya Dera basa basi.


Jilia memang sudah melahirkan dua bulan yang lalu. Anaknya berjenis kelamin perempuan, yang dia tinggal di rumah ibu mertuanya.


“Tidak. Sedang tidur tadi,” jawab Jilia.


Dera menanggapi dengan ber’oh’ ria saja. Lalu dia fokus menatap bunda Fina yang tengah menggendong Zakira. Sedangkan ayah Pandu menggendong Zanira.


Pria yang duduk di ujung sofa, menatap aneh pada Jilia dan suaminya. Pandu menyenggol pelan lengan Jilia, membuat wanita itu kesal.


“Tumben nggak cari gara-gara?”


“Oh, kamu mau aku cari gara-gara?” tanya balik Jilia.


“Ogah!”


“Makanya diam, bocah!”


“Sudah, sudah. Kalian ini kalau ketemu kaya’ Tom dan Jerry.” Hafran melerai perdebatan keduanya.


Ibu Dera yang baru kembali dari kantin rumah sakit, menatap bahagia. Lalu wanita separuh baya itu menghampiri sang putri, duduk di samping brankar.


“Dedek kembar pasti bahagia dijenguk banyak orang begini,” celetuk ibu Hamidah.


Mereka tertawa mendengar perkataan ibu. Lalu lanjut obrolan ringan yang tentunya membuat Dera sedikit terhibur.


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2