Ketika Pamanmu Menjadi Pengantin Pengganti

Ketika Pamanmu Menjadi Pengantin Pengganti
Bab 48. Bertemu


__ADS_3

“Pandu ...,” lirihnya dengan suara tercekat.


“Ya. Aku di sini.”


“Pergi!”


Dera semakin mundur, tubuhnya pun bergetar hebat. Lelaki yang kini terdiam di tempatnya, menunduk. Dia ingin menggapai tubuh Dera, tetapi takut membuat mantan calon istrinya semakin ketakutan.


“Dera. Maaf ....”


“Aku bilang pergi! Pergi Pandu!” teriak Dera sambil menunjuk pria itu.


Pandu menggeleng, air matanya ikut menetes saat Dera menangis. Dengan gerakan cepat Pandu menarik lengan Dera, untuk dibawa ke pelukannya.


“Lepaskan, bajingan! Lepaskan!”


“Dera tolong maafkan aku.”


“Aku bilang lepaskan, bodoh!” bentak Dera. Kedua tangannya terus memberontak agar pelukan itu terlepas.


Bukannya melepaskan, Pandu semakin mengeratkan pelukannya. Aksi keduanya menjadi objek para pengunjung di sana.


“Maaf, Dera. Aku mohon maafkan aku,” mohon Pandu, semakin erat memeluk Dera.


Dera semakin tergugu, tangannya masih memukul-mukul dada bidang Pandu. Namun, tenaga wanita hamil itu, semakin lama semakin melemah.


Tanpa keduanya sadari, ada sepasang mata yang memperhatikan mereka dari kejauhan. Marah, kecewa, dan sakit sudah tentu menjadi satu dalam hati Daren. Sebisa mungkin dia menahan gejolak dalam dada, agar tidak membuat keadaan semakin riuh.


Plak


Tamparan keras yang berasal dari tangan Dera, mengenai tepat pipi sebelah kiri Pandu. Bekas lima jari tercetak sempurna di sana, sudut mulut Pandu pun sedikit mengeluarkan darah.


“Kamu pikir aku wanita murahan, hah?! Setelah menghancurkanku, lalu kamu kembali dan seenaknya meminta maaf. Kamu pikir segampang itu, hah?! Jawab, Pandu!” Teriakan Dera semakin menjadi pusat perhatian orang-orang di sana.


“Maaf ...,” cicit Pandu dengan kepala tertunduk.

__ADS_1


“Hahaha. Gampang sekali kamu meminta maaf. Apa kamu pikir semua kesalahan yang kamu lakukan, akan selesai dengan meminta maaf?” bentak Dera.


“Aku tahu aku salah.”


“Empat bulan, Pandu! Empat bulan kamu pergi tanpa kabar, tanpa penjelasan apa pun untuk keluargaku. Sebrengsek itu kamu!”


“Aku ....”


“Aku benci padamu! Benci!”


Grep


“Sayang, tenangkan dirimu. Ingat, ada anak kita di dalam sini. Dia pasti sedih melihatmu marah-marah.” Dengan erat Daren memeluk Dera, berulang kali dia mengusap perut istrinya dengan lembut. Pun, Daren menciumi bahu Dera agar sang istri segera tenang.


Dera langsung membalikkan tubuhnya, memeluk erat Daren dengan tangis yang semakin deras. Sakit. Hatinya benar-benar sakit.


“Paman. Aku ....”


“Stop, Pandu. Pergilah,” pinta Daren.


“Tapi—“


Akhirnya Pandu pergi meninggalkan mereka. Helaan napas berat Daren terdengar jelas ditelinga Dera. Wanita itu semakin menyelusupkan wajahnya di dada bidang sang suami, mencari kenyamanan di sana.


“Sayang ...,” panggil Daren sambil memegang kedua pipi Dera.


“Hiks ....”


“Ayo kita pulang. Kamu bisa menangis sepuasnya di rumah,” ucap Daren. Untungnya Dera mengangguk.


Dalam perjalanan, keduanya sama-sama bungkam. Dera yang masih terus menangis meski tidak terdengar. Sedangkan Daren, dia berusaha fokus menyetir. Sengaja Daren membawa Dera ke rumah mereka, bukan rumah ibu. Dia tidak ingin wanita yang telah melahirkan istrinya, bertanya tentang keadaan Dera saat ini.


Tiba di rumah, Daren langsung keluar dari mobil. Dia membukakan pintu untuk Dera, tetapi sang istri tak kunjung turun. Wanita itu malah semakin menangis tersedu-sedu, membuat Daren tidak tega. Tanpa mengucapkan apa pun, Daren langsung mengangkat tubuh Dera ala brydal style. Dera masih terus menangis, bahkan sekarang sesenggukannya terdengar jelas. Daren semakin mempercepat langkahnya, membawa Dera ke kamar mereka.


Sesampainya di kamar, Daren menurunkan Dera pada tepi ranjang. Lalu dia ikut duduk di sana, sesekali mengusap air mata yang terus-menerus keluar.

__ADS_1


“Mau minum?” tawar Daren.


Dera hanya menggeleng lemah.


“Bukannya tadi kamu haus? Nanti seret, loh, kalau tidak minum,” ucap Daren sambil membelai pipi Dera.


Diperlakukan seperti ini, bukannya membuat Dera berhenti malah semakin kencang menangis. Daren bingung, dia memeluk Dera agar gadis itu berhenti menangis.


“Ada yang sakit? Di mana? Apa perut kamu sakit?” cecar Daren khawatir.


Dengan sigap pria itu memeriksa tubuh Dera, membuat sang empu semakin bertambah menangis.


“H-hati aku yang sakit, Mas,” lirih Dera. “K-kenapa dia harus datang lagi?”


Betanya soal kenapa, Daren pun tidak tahu jawabannya. Jujur, kalau boleh meminta pada Tuhan, dia tidak ingin Pandu kembali. Sudah cukup hari-hari bahagianya bersama Dera, dia tidak ingin kebahagiaan itu kembali menghilang. Menjadikan mereka seperti dulu lagi—awal menikah.


“Takdir, Sayang. Kita tidak bisa menghentikannya,” jawab Daren. Dia terus mengusap punggung Dera.


“Tapi aku benci dia!”


“Iya, Mas tau. Tapi sekarang, kamu jangan nangis lagi, ya? Nanti dedek bayinya ikutan nangis, loh,” papar Daren.


Akhirnya Dera mengangguk. Dia menghentikan tangisnya, meski sesenggukan masih terdengar sesekali.


“Lebih baik kamu tidur, biar tenang. Mas mau ke dapur, buatin bubur untuk kamu,” ujar Daren.


“Mas nggak marah? Sama Dera?”


Daren tertawa renyah mendengar ucapan istrinya. “Kenapa harus marah, Sayang? Mas mengerti dengan perasaanmu. Sudah, jangan dipikiri lagi. Mending kamu tidur, sekarang.”


 


**


Mas Daren! jadikan othor bini keduamu😂

__ADS_1


 


 


__ADS_2