Ketika Pamanmu Menjadi Pengantin Pengganti

Ketika Pamanmu Menjadi Pengantin Pengganti
Bab 65. Semakin Cinta


__ADS_3

Hari demi hari telah terlewati. Kehamilan Dera memasuki usia delapan bulan lebih. Dan Daren pun semakin melarang istrinya berbuat ini itu yang terlalu berat. Keduanya sama-sama tidak sabar menunggu sang buah hati dilahirkan.


Dokter kandungan mengatakan tidak akan lama lagi, Dera semakin gugup untuk menyambut hari itu tiba. Siang ini dirinya tengah istirahat full karena malam tadi sangat lelah, merayakan lulusnya Vera sebagai sarjana.


Daren melarang pergi, tetapi Dera tetap keukeuh karena tak ingin membuat Vera kecewa. Alhasil lelahnya masih ada sampai sekarang.


“Mau dipijat kakinya, Sayang?” tawar Daren. Dia memilih duduk di tepi ranjang sambil memandangi Dera di sebelahnya.


“Boleh. Tapi kalau Mas nggak capek,” ujar Dera.


“Mas pijit, ya?” izin Daren. Dera mengangguk saja.


Daren mulai memijat kaki Dera sebelah kanan, pelan dan penuh kasih sayang. Meski begitu, Dera sangat menikmati pijatan suaminya itu yang sangat terasa nyaman. Bahkan wanita hamil itu sudah menutup mata, siap menyelami alam mimpi indahnya. Daren tersenyum kecil mendapati sang istri sudah tidur, dia beralih mengecup singkat kening Dera.


“Kamu makin gemesin, Sayang,” ucap Daren sambil memeluk istrinya dari samping.


Mereka berdua tertidur karena lelah. Saling berpelukan dan memberikan kehangatan. Dera semakin menyembunyikan wajahnya di dada bidang Daren, mencari kenyamanan di sana.


Jam empat sore keduanya baru bangun. Daren langsung ke kamar mandi untuk membersihkan diri, setelah itu barulah dia akan membangunkan Dera. Tidak tega ketika melihat wajah lelah istrinya, tetapi mengingat wanita itu belum makan, Daren harus membangunkan.


“Sayang, bangun, yuk. Udah sore.” Daren menepuk pelan pipi chubby Dera. Sang empu hanya menggeliat.

__ADS_1


“Sayang,” panggil Daren lagi. Dia terkekeh melihat wajah cemberut dengan mata terpejam Dera.


“Lima menit lagi,” ucap Dera setengah sadar. Daren menggeleng gemas.


“Nggak ada lima menit, lima menit. Ayo bangun, terus makan,” kata Daren sambil menarik pelan tangan Dera.


Mau tidak mau Dera bangun dan langsung mengucek kedua matanya. Dia sungguh kesal dengan Daren, padahal dirinya sedang bermimpi indah tadi. Tapi pria itu malah membangunkannya.


“Mau mandi dulu atau makan?” tanya Daren sembari mengusap wajah istrinya.


“Tidur,” sahut Dera. Dia menguap berulang kali.


“Ish, iya iya.”


Lagi-lagi Daren terkekeh melihat sikap istrinya. Namun, dia tetap menuntun wanita tersayangnya itu untuk masuk ke dalam kamar mandi. Sepuluh menit menunggu, Dera sudah keluar dengan pakaian santai. Daren langsung mengajak turun untuk makan.


“Nanti ke taman belakang ya, Mas.”


“Ngapain?”


“Duduk di gazebo sambil lihat bunga,” jawab Dera. Mulutnya tidak berhenti menerima suapan Daren.

__ADS_1


“Oke. Sehabis makan kita langsung ke sana,” beber Daren.


Dera mengangguk dan terus meminta suap. Tidak sampai sepuluh menit dia sudah menghabiskan nasi dan lauk sepiring. Dera langsung mengajak Daren untuk pergi, pria itu mengikuti saja.


Sampai di taman, Dera melihat bunga mawar terlebih dahulu. Lalu, dia memetik bunga liar untuk dibuat menjadi karangan bunga. Daren menemani dengan setia, sesekali dia juga membantu mencarikan bunga liar untuk Dera.


“Mas. Maaf, ya,” ucap Dera sambil menatap dalam Daren.


“Maaf untuk apa, Sayang?”


“Apa aja. Intinya aku minta maaf sama Mas.”


Daren mendadak gelisah, ketakutan yang selama ini dia pendam, kembali menguak. Apalagi ketika melihat wajah lugu istrinya.


“Sstt... Mas sangat mencintaimu.” Daren memeluk Dera dari samping. Menenggelamkan wajahnya di ceruk leher wanita itu.


“Aku juga sangat mencintai Mas,” balas Dera.


 


 

__ADS_1


__ADS_2