Ketika Pamanmu Menjadi Pengantin Pengganti

Ketika Pamanmu Menjadi Pengantin Pengganti
Season 2: 30


__ADS_3

Hari ini, Zakira terus memaksa agar Alden membawanya datang ke rumah sang ayah mertua. Meskipun Alden terus menolak karena takut terjadi sesuatu, tapi Zakira pun terus memaksa. Dia harus berbicara pada ayah mertua, agar hatinya tidak resah.


“Jangan, Sayang. Papah nggak bakalan dengerin kamu, percayalah.” Alden terus membujuk Zakira.


“Pokoknya anterin aku. Kamu juga ikut, bukan aku sendiri aja,” ujar Zakira.


“Aku lagi malas lihat wajahnya, Sayang.”


“Ayolah.”


“Ya sudah, sana siap-siap.”


Akhirnya Alden menyetujui permintaan Zakira. Setelah sang istri kembali dari kamar, mereka langsung pergi. Zakira seperti sudah tidak sabar bertemu dengan sang papah. Padahal Alden sudah bilang berulang kali, papahnya sangat berbahaya.


“Tidak ada orang tua yang berbahaya, menyakiti anak atau menantunya sendiri. Kamu tenang, aku bakal baik-baik aja, kok,” ucap Zakira meyakinkan Alden. Jemarinya menggenggam erat jemari milik suami.


Saat mereka sampai, Zakira langsung keluar. Dia melihat mobil mahal terparkir di sana, seketika otaknya bekerja.


“Apa ini mobil perempuan yang akan dijodohkan denganmu?” tanya Zakira sembari menunjuk mobil itu.


Alden mengangguk ragu. “Iya. Rasan namanya.”


“Baik.”


Zakira tidak banyak bicara lagi, mengikuti langkah Alden memasuki rumah besar nan megah ini. Dirinya sudah tak sabar ingin bertemu perempuan bernama Rasan itu.


“Wah ... Papah pikir kamu akan datang sendiri. Ternyata kamu datang bersamanya.”


Mereka langsung disambut oleh tawa meremehkan pria paruh baya di sofa. Zakira tersenyum, tidak terpengaruh dengan apa yang ayah mertuanya katakan.


“Hay, Ayah. Apa kabar?” Zakira mendekat, lalu menyalami tangan ayah mertua.


Alden melongo melihat itu, sungguh dia tidak percaya dengan sikap Zakira. Dia pikir perempuan itu akan mengamuk, karena sudah diremehkan.


“Tidak perlu basa basi!” sentak papah Alden. Tuan Hander.


“O, iya. Zakira bawa rendang, loh. Ayah suka, tidak?” Lagi-lagi Zakira mengabaikan tatapan tajam Tuan Hander.


“Bawa dia pergi, aku tidak sudi mempunyai menantu sepertinya. Karena calon menantuku hanya Rasan saja.” Menusuk. Zakira merasa seperti ada ribuan tombak yang menghantam dadanya.


Mendengar ucapan tak berperikemanusiaan itu, Alden menggeram. Dia menarik lengan Zakira untuk menjauhi papahnya. Giginya saling beradu, wajahnya merah padam, menandakan bahwa dia sangat marah.


“Sudah baik dia datang ke sini, menjenguk orang tua tidak tahu diri sepertimu. Bisa-bisanya kau bicara tidak tahu aturan!” geram Alden.

__ADS_1


“Alden!” Zakira menggelengkan kepalanya, remasan pada lengan Alden semakin kencang.


“Aku tidak meminta dia untuk datang. Jadi jangan salahkan aku!”


Sejak dulu Zakira tidak suka mendengar perdebatan antara anak dan ayah. Tetapi sekarang dia harus membuat dua orang di dekatnya, akur seperti sebagaimana mestinya. Zakira akan memantapkan hati, agar tetap tegar saat semua hinaan terus terlempar untuknya.


“Sudah, sudah. Ayah, maafkan aku karena datang meski tidak diundang. Aku hanya ingin bertemu denganmu dan memberikan makanan enak ini,” papar Zakira.


“Aku tidak suka makanan seperti itu. Aku tahu, kau pasti sudah mencampurnya dengan racun,” tuduh Tuan Hander.


“Jangan berbicara konyol, Ayah. Tidak mungkin seorang menantu meracuni mertuanya sendiri,” kata Zakira.


“Aku sering melihatnya di televisi.”


“Wah, ternyata Ayah suka menonton serial seperti itu? Bundaku juga suka, aku sering menemaninya menonton,” seru Zakira.


“Diam. Aku tidak mau dengar omong kosong itu!” bentak Tuan Hander.


Alden kembali tersulut, tetapi Zakira mengacungkan jempolnya tanda dia aman, baik-baik saja. Ini memang trik Zakira, agar mertuanya luluh padanya.


“Sama sekali bukan omong kosong, Ayah. Jika Ayah tidak percaya, nanti aku minta Bunda buat datang. Kita bisa menontonnya bersama-sama,” ujar Zakira.


Ayah mertuanya membuang wajah, Zakira tersenyum karena merasa menang melawan pria tua itu. Sedangkan wanita di samping Tuan Hander, memutar bola mata karena malas melihat sikap Zakira.


“Bilang saja kau ingin menjelekkanku. Mentang-mentang kau lebih cantik, jadi berbicara sesukamu.”  Wanita bernama Rasan itu, menggerutu kesal sambil melipat kedua tangannya di dada.


Zakira tertawa renyah, semakin membuatnya terlihat cantik. “Tidak, Mbak. Aku serius, Anda sangat cantik. Bahkan aku iri melihat kecantikan Anda.”


“Alden! Bawa pulang istrimu itu!” perintah Tuan Hander.


“Maaf, Ayah. Tapi rencananya Zakira ingin menginap di sini,” pungkas Zakira. Alden melotot tajam.


“Apa maksudmu, Sayang?” Alden mencengkeram kuat lengan istrinya.


“Kamu tenang, aku bakal baik-baik saja. Oke.”


Zakira malah mengedipkan sebelah matanya pada Alden, tidak peduli pria itu sedang marah dengan keputusan yang dia buat. Tetapi ini memang rencana Zakira, dia ingin membuka mata hati ayah mertuanya.


“Aku tidak menerimamu di sini!” cetus Tuan Hander.


“Hahaha, baiklah, Ayah. Bagaimana jika aku dan Mbak Rasan tinggal di sini selama dua Minggu. Nantinya Ayah bisa menilai, siapa yang paling baik dan rajin, serta cocok dijadikan menantu Ayah,” usul Zakira.


Sekali lagi Alden mencengkeram kuat-kuat lengan kecil istrinya itu. Dia tidak habis pikir dengan Zakira, bisa-bisanya mengusulkan untuk tinggal di rumah serasa kandang harimau ini.

__ADS_1


“Kau yakin? Kau belum tahu sifatku,” ucap Tuan Hander meremehkan.


“Justru itu aku juga ingin tahu sifat Ayah. Bagaimana, apa Ayah dan Mbak Rasan setuju dengan usulanku tadi?”


Kedua orang tersebut tampak berpikir. Rasan merasa tidak yakin bisa menandingi Zakira, bukan hanya soal cantik, tapi wanita berstatus istri Alden itu juga kelihatan sangat rajin.


“Aku setuju. Rasan, segera minta bodyguardmu mengantar pakaian ke sini,” pinta Tuan Hander.


Zakira tersenyum penuh kemenangan. Inilah awal dari rencana yang dia buat, dia sangat berharap bisa meluluhkan hati ayah mertua, agar hubungan Alden dan Tuan Hander segera membaik.


“Sayang, pulanglah. Aku akan baik-baik saja di sini, kamu tidak perlu khawatir,” pesan Zakira pada Alden. Pria itu menggeleng, tidak ingin meninggalkan istrinya di rumah yang belum dia pastikan aman atau tidaknya.


“Percaya padaku, semua akan baik-baik saja. Aku akan kembali dua Minggu lagi, aku pastikan ada pelukan hangat untukmu.”


“Kamu yakin?”


“Iya, Sayang. Maaf nantinya aku tidak bisa memasakkanmu lagi, tapi kamu bisa datang ke sini jika rindu masakanku,” ujar Zakira.


“Aku akan merindukanmu, hanya kamu.” Alden menatap dalam manik mata Zakira. Berusaha meluluhkan wanita itu agar membatalkan rencana konyolnya.


Zakira mendekat, memeluk erat tubuh Alden yang dibalas oleh si empu. Dia pasti akan merindukan tubuh jangkung itu, aroma parfum yang dapat memabukkannya, serta omelan sayang Alden ketika dia keras kepala. Namun, Zakira yakin ini langkah terbaik yang dia ambil. Hanya dua Minggu, dia pasti bisa melakukan itu.


“Aku akan kembali dengan selamat. Aku juga akan memberimu surprise karena telah mencintaiku dengan setulus hati.”


“I love you, Zakira,” bisik Alden penuh cinta. Menciumi seluruh wajah istrinya.


“I love you too.”


**


Antara senang dan sedih. Semoga mbak Zakira baik-baik aja, ya.


Btw ini selibu kata, loh, manteman. Hehehe. Jangan minta lebih panjang lagi ya, soalnya othor nggak sanggup. Biar dilan saja.


Oh, ya. yang ingin tahu jadwal update cerita ini, bisa masuk grup othor 'Bae Family Indonesia'.


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2