
Pagi ini perjuangan Zakira di mulai. Seperti biasa, dia selalu suka berkutat di dapur demi menghasilkan makanan yang enak. Hanya dia, tidak ada orang lain di sana. Keadaan rumah pun masih sepi, Zakira tebak semua orang masih berada di alam bawah sadar.
Ya, memang dia yang bangun terlalu cepat. Zakira tidur tidak pulas, dia merasa seperti ada yang kurang. Ternyata karena pelukan Alden tidak ada malam ini, mungkin malam-malam berikutnya juga.
Sayur asam, ayam goreng, tumis kangkung, dan pencuci mulut. Zakira sudah merencanakan akan memasak semua itu.
Setelah semua hidangan tersusun rapi di meja, Zakira beralih membersihkan dapur, lalu menyapu lantai hingga bersih. Saat masih sibuk-sibuknya, tiba-tiba sang ayah mertua nongol.
“Ngapain kamu?”
“Eh, Ayah. Sini duduk, Yah,” ucap Zakira sambil memundurkan kursi agar bisa diduduki Tuan Hander.
“Tidak perlu!” cetus Tuan Hander.
“Nggak papa, Yah. Lagian Zakira sudah masak sayur asam, ayam goreng, dan tumis kangkung. Ayah pasti suka,” ujar Zakira, mendorong pelan tubuh Tuan Hander agar duduk.
Terpaksa pria tua itu duduk di sana, Zakira langsung menuang nasi dan sayur ke piring. Tidak lupa juga dia membuatkan kopi untuk Tuan Hander.
“Kenapa, Yah? Apa Ayah takut aku meracuni makanannya?” tanya Zakira saat Tuan Hander belum juga menyentuh makanan buatan dia.
“Baiklah, biar Zakira yang makan dulu. Lihat, ya, Yah, pasti tidak ada racunnya.”
Perempuan itu mulai menyuapkan sesuap nasi dengan lauk, lalu Zakira menatap Tuan Hander sembari melebarkan senyumnya.
“Kira nggak mati, kan, Yah?”
“Hmm.”
Tuan Hander mulai menyuapkan nasi beserta sayur ke dalam mulutnya, seketika matanya melotot kecil saat merasakan betapa enaknya makanan itu. Tetapi Tuan Hander langsung merubah mimik wajah, agar tidak kelihatan bahwa dia juga menikmatinya.
Zakira tersenyum simpul, rencana lewat makanan berhasil. Kini dia harus lebih pintar mendekati Tuan Hander, agar pria itu tidak cuek lagi padanya. Apa perlu Zakira membeli catur, ya? Biasanya orang tua suka bermain itu, seperti ayah contohnya.
“Ayah,” panggil Zakira.
“Hmm.” Tuan Hander hanya berdehem, kembali melanjutkan mengusap bibir dengan tisu.
“Hari ini Zakira mau izin keluar sebentar, ya. Mau ambil baju.”
“Terserah,” jawab Tuan Hander ketus.
“Tenang aja, nanti Zakira bawain oleh-oleh, deh.”
__ADS_1
Tuan Hander tidak menanggapi ucapan Zakira, memilih berlalu meninggalkan perempuan itu. Zakira hanya bisa tersenyum, lalu kembali menyemangati dirinya sendiri.
**
Zakira sudah sampai di kediaman orang tuanya, dia disambut hangat oleh bunda yang baru tiba dari dapur. Pelukan rindu tak bisa ditahan, bunda terus menciumi seluruh wajah Zakira dengan air mata yang entah kapan sudah merembes keluar.
“Kamu apa kabar, Sayang?” tanya bunda sambil mengusap air mata dengan tisu.
“Kira baik, Bunda sendiri?”
“Bunda juga baik, Nak. Semua yang ada di sini baik,” balas bunda. Menuntun Zakira untuk duduk di sofa.
Zakira memperhatikan setiap sudut ruangan, tidak ada yang berubah, masih tetap sama seperti pertama kali dia tinggal dulu. Rasanya Zakira sangat rindu, apalagi memasak di dapur rumah ini, dia ingin melakukan itu lagi setiap paginya.
“Zanira mana, Bund?” tanya Zakira seraya meneliti lantai atas, tepat di mana kamar adiknya berada.
“Dia di kamar. Bentar, ya, biar Bunda panggilin,” ucap bunda.
Bunda Dera pergi ke lantai atas untuk memanggil Zanira, sambil menunggu Zakira membuka ponselnya. Ternyata sudah banyak pesan masuk dari Alden, mulai ucapan selamat pagi sampai kata-kata kesal karena perempuan itu tidak membalas pesannya satu pun.
Zakira segera mengetikkan ucapan permintaan maaf karena baru bisa membalas.
Tak lama, balasan dari Alden pun masuk.
[Kamu di mana?]
[Aku di rumah Bunda.]
[Ya, sudah. Jangan lupa nanti telepon aku kalau sudah selesai di rumah Bunda.]
[Siap.]
Perempuan cantik itu kembali menyimpan ponselnya di tas, dia tersenyum sambil merentangkan tangan menyambut pelukan adik tersayangnya.
“Kakak gak bilang kalau mau datang,” rajuk Zanira.
“Maaf, Dek. Kakak lupa,” balas Zakira.
Lalu ketiganya mulai cipika cipiki. Zakira terus memperhatikan Zanira, adiknya itu kelihatan lebih berisi sekarang.
“Kamu, kok, gendut, sih?” celetuk Zakira membuat Zanira memonyongkan bibirnya, kesal.
__ADS_1
“Namanya juga orang hamil, Kak. Lagi doyan-doyannya makan,” sahut Zanira.
“Kamu hamil?” tanya Zakira. Dia kaget sekaligus tidak percaya.
“Iya, dong. Kakak kapan nyusul?”
Zakira hanya membalas dengan senyuman. Melihat adiknya bahagia seperti itu, dia jadi ingin merasakan hamil juga. Pasti sangat menyenangkan, apalagi ketika kandungannya sudah membesar dan bayi di dalam sana menendang-nendang.
“Secepatnya.”
“Harus itu, biar Bunda jadi nenek dari dua cucu Bunda.”
“Hahaha, iya, Bund.”
**
“Kamu baru bangun? Bagaimana bisa menandingi Zakira kalau kamu bangunnya aja jam segini.” Sindiran Tuan Hander memekakkan telinga Rasan. Wanita itu mencebik, rasa hausnya hilang seketika.
“Baru hari pertama, tapi sikap Om sudah begitu,” cetus Rasan.
“Om hanya ingin kamu menang, agar kamu bisa menjadi calon menantu yang baik.”
“Menang juga caranya nggak karena bangun pagi, Om.”
Rasan sangat kesal, Tuan Hander seperti sengaja menyindir dia karena Zakira lebih unggul. Dirinya juga ingin bangun pagi, tapi tidak bisa karena sudah terbiasa bangun siang di rumah.
“Aku mau ke kamar lagi aja,” cetus Rasan seraya berlalu dari sana.
Ah, gara-gara bangun kesiangan, dia juga melupakan rencananya semalam. Semakin bertambah pula kekesalannya.
**
Terima kasih sudah hadir dan membaca cerita ini. Semoga kalian semua selalu sehat dan dalam lindungan-Nya😊
__ADS_1