
“Kamu serius tidak ingin bertemu Pandu lagi, Sayang?”
Suami-istri itu sedang berada di kamar mereka setelah semua orang pulang tadi. Mereka melepas penat dengan berbaring bersama, sayangnya pertanyaan Daren mengganggu Dera yang hampir saja terlelap.
“Nggak. Aku udah gak mau berurusan sama dia,” jawab Dera cepat.
“Tapi apa kamu tidak ingin tahu siapa yang menjebak Pandu? Gini, senggaknya kamu tahu cewek brengsek mana yang gila itu,” desak Daren.
Dera menghembuskan napas kasar. Dia bergerak pindah tempat ke pangkuan Daren, mengalungkan tangannya dengan manja.
“Nggak mau, Mas! Siapa pun yang menjebaknya, dia harus bertanggung jawab jika perempuan itu hamil. Dan ... aku nggak mau Mas cemburu kalau ketemu dia lagi,” kata Dera.
“Mas, kan, ikut kalau mau bertemu Pandu. Iya kali Mas biarin kamu sendirian,” balas Daren. Tangannya menangkup wajah Dera untuk memberikan kecupan.
“Gimana?” tanya Daren lagi.
“Tapi Mas—“
“Setidaknya kamu dengerin penjelasan dia. Mas melihat penyesalan di matanya, kasihan dia, Sayang.”
Dengan bujukan Daren, akhirnya Dera mau bertemu dengan Pandu. Besok, pagi-pagi sekali Daren akan menghubungi keponakannya.
“Mas,” panggil Dera manja.
“Iya, Sayang?”
“Mau bobok di pangkuan Mas aja, boleh?” Dera menggembungkan pipinya, ditambah puppy eyes yang semakin membuat Daren gemas.
Sang suami hanya bisa terkekeh, menangkup wajah istrinya lalu mengecup berulang kali bibir manis yang sudah menjadi candu. Daren menyandarkan kepala Dera di dadanya, mengusap lembut punggung wanita itu.
Dera semakin mengeratkan pelukan, sebelah tangannya mengusap dada bidang Daren. Membuat pola menggunakan jari, Dera mengecup dada itu berulang-ulang.
“Kamu suka banget cium dada Mas,” celetuk Daren.
__ADS_1
“Gak tau, Mas. Pokoknya aku pengen cium terus!”
“Iya, iya. Jangankan cium, kamu apa-apain juga boleh,” canda Daren yang langsung mendapat cubitan mesra istrinya.
“Bunda kamu kebiasaan, deh, dek. Cubit-cubit Ayah. Nggak dikasih jajan lagi, baru tahu rasa.”
“Kalau nggak dibeliin jajan lagi, ya udah gak papa. Tapi jangan harap tidur sama aku. Selamanya, titik!” ancam Dera.
“Ampun, Ratu. Saya bertekuk lutut kepadamu!”
“Hahaha, gemes. Pengin congkel hatinya.”
“Ngeri!”
**
Jam sebelas siang, pasutri itu sudah berada di restoran. Keduanya sedang menunggu kedatangan Pandu dan Vera. Ya, gadis bernama Vera itu memaksa ingin ikut mendengar penjelasan Pandu ketika Dera curhat padanya.
Si istri tampak tidak peduli sekitar, sejak tadi hanya makan dan makan. Semenjak hamil Dera memang suka makan, hingga membuat berat badannya semakin naik.
“Sabar, Sayang. Sebentar lagi,” ucap Daren menenangkan.
“Yaudah, yaudah. Awas aja kalau lama lagi!”
Akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga. Pandu dan Vera barengan menghampiri meja Daren. Lalu mereka diminta duduk berhadapan dengan suami-istri itu.
“Maaf karena menunggu lama. Jalanan agak macet siang ini,” terang Pandu.
“Nggak masalah. Paman tau.”
“Ehem. Sepertinya nggak usah basa basi lagi, takutnya entar Dera kesal karena kelamaan. Jadi, penjelasan apa yang ingin kamu berikan kepada Dera, Mas Pandu?” Vera mewakilkan suara hati Dera. Sebab wanita hamil itu malas membuka suara.
Wajah Pandu berubah murung, berulang kali dia menghela napas. Seperti ada beban sangat berat yang sedang dia pikul.
__ADS_1
“Kejadian beberapa bulan lagi, jujur aku juga sedih. Mima, perempuan yang aku pikir baik. Menjebakku karena merasa iri denganmu, Dera. Dia memberiku obat perangsang lalu menjebakku di sebuah hotel. Aku gelap mata, hasrat membumbung tinggi hingga menidurinya.” Pandu menjeda ucapannya. “Paginya, aku pergi setelah menyadari apa yang terjadi. Aku malu, Der. Aku tidak punya muka untuk menghadap kamu apalagi setelah Mima mengirimkan video panas itu pada Bunda dan Ayah.”
Dera terkejut. Wajahnya berubah merah, menahan amarah.
“Dia sengaja tak menampakkan wajahnya, dan hanya wajahku saja. Ayah meneleponku terus menerus, aku mengangkatnya lalu memohon agar Ayah menyembunyikan semua ini. Ya, aku egois.” Pandu terus menunduk.
“Lalu?” tanya Dera. Pandu terkesiap karena wanita itu meresponsnya.
“Ayah menolak. Dia tak mau kamu sakit hati nantinya, makanya Ayah tetap memaksa ingin memberitahu kamu. Akhirnya aku setuju, asal Mima tidak diikut-ikutkan. Bukan aku membela dia, hanya saja aku ingin mencari tahu motifnya dan membalas dendam pada dia.”
Sosok Pandu menangis, mengisyaratkan bahwa dia juga terluka. Merelakan wanita yang dia cintai, karena sebuah kejadian tak terduga.
“Sayangnya wanita yang sudah kuanggap sebagai saudari, begitu licik. Aku semakin terjerat. Sejauh apa pun aku pergi, Mima selalu bisa menemukanku. Dia mengaku telah mengandung anakku, Der.”
“Seharusnya kamu yang datang waktu itu, untuk menjelaskan semuanya padaku.”
“Ya, setelah Ayah mengabariku tentang semua yang dia ceritakan pada ibumu. Aku memang ingin datang juga. Tapi lagi-lagi Mima mengancam akan mencelakaimu,” ucap Pandu.
“Maksudnya? Tidak mungkin Mima begitu!”
“Dia membencimu, Der! Semua yang kamu mau, selalu bisa kamu gapai. Dan semua orang juga suka padamu.”
“Nggak mungkin Mima setega itu. Dia menghancurkan aku, Mas!”
Daren langsung membawa istrinya ke dalam pelukan. Mengusap punggung wanita hamil itu, demi menenangkannya.
Vera yang sejak tadi menjadi pendengar, mengambil tisu dari dalam tas. Dia mengangsurkan tisu itu pada Pandu, yang langsung diterima oleh sang empu.
“Kadang, orang terdekat yang justru menghancurkan kita. Dari sini kita ambil hikmahnya, bertemanlah dengan sewajarnya saja, jangan sampai kejadian seperti ini terulang kembali,” papar Daren.
“Maaf, Dera. Sekali lagi aku minta maaf.”
“Nasi sudah menjadi bubur. Kamu harus bertanggung jawab. Hiduplah dengan normal, aku sudah memaafkanmu.”
__ADS_1
**
Oke, guys. Sampai sini aja.