Ketika Pamanmu Menjadi Pengantin Pengganti

Ketika Pamanmu Menjadi Pengantin Pengganti
Bab 69. Welcome


__ADS_3

Wajah Dera bersimbah peluh, wajahnya terlihat pucat. Ia meringis, mendesis merasakan mulas yang luar biasa dibagian perut. Belum lagi rasa nyeri yang menjalar di punggung, seolah sebuah pisau menusuknya berkali-kali.


"Ehm ....”


Dera mencengkeram kuat lengan sang suami, menyalurkan rasa sakit yang ia rasakan saat ini. Daren sangat khawatir dengan keadaan Dera, jika bisa ingin rasanya ia memindahkan rasa sakit itu pada dirinya.


Seorang Dokter berada tepat di bawah kaki Dera yang terbuka lebar. Di temani dengan dua perawat mereka memulai tindakan untuk membantu Dera melakukan persalinan normal.


Dera membelalakkan matanya, saat merasa seperti sesuatu yang pecah dijalan lahir.


"Ayo Nyonya mulai mengejan. Ambil nafas dalam, lalu hembuskan dengan kuat," ujar sang dokter mengintruksikan.


Dera pun mulai melakukan apa yang Dokter itu katakan. Dera mengumpulkan seluruh sisa tenaga yang ia miliki, setelah tiga kali mengejan, akhirnya sebuah tangisan bayi menggema di ruangan itu. Dera terkulai lemas, air matanya luruh seketika saat malaikat kecil itu berada ditangan sang dokter.


Senyum yang terlukis indah, menyurut perlahan saat dokter berkata bahwa ada salah satu bayi mereka yang juga ingin melihat dunia.


“Nyonya ambil napas kembali, lalu hembuskan dengan kuat seperti tadi. Biasanya bayi terakhir akan keluar dengan lancar,” ujar dokter. Dera mengangguk paham.


Sosok pria di samping Dera, mencium berulang kali kening wanita itu. Daren menangis, tidak tega melihat wajah lelah dan kesakitan istrinya.


“Ayo, Bu. Satu, dua, tiga ... mengejan.”


Berbeda dengan anak pertama, anak kedua lahir sangat lancar, bahkan Dera tidak merasakannya. Semua orang di ruangan itu, mengucap syukur. Daren langsung memeluk tubuh Dera, menciumi wajah wanita itu dengan air mata yang masih terus mengalir.

__ADS_1


“Terima kasih, Sayang. Terima kasih ...,” lirih Daren.


“Sama-sama, Mas. Memang sudah sewajibnya aku melahirkan buah hati kita.”


Daren semakin mengeratkan pelukannya, menumpahkan segala tangis haru pada wanita yang kini juga ikut menangis.


“I love you, Sayang. I love you ...”


“I love you too, Ayah.”


🌺


Ibu Hamidah menatap penuh haru pada putrinya dan kedua cucunya yang kini berada di samping kiri dan kanan Dera. Dia menghampiri cucunya, melihat dan menyentuh pipi selembut sutra.


“Iya, Tan. Mana pada gemes-gemes lagi. Ini jenis kelaminnya apa?” Vera ikut mendekat, menatap gemas pada dua makhluk yang tengah menggeliat.


“Dua-duanya perempuan, Ver.” Daren yang menjawab.


“Wah. Bakalan temenan sama onty nanti, nih!”


“Nggak boleh!” sahut Dera cepat.


“Elah, pelit banget kamu.”

__ADS_1


“Makanya bikin.”


“Dikira gorengan, tinggal bikin terus jadi.” Vera mencebikkan bibirnya kesal.


Semua orang di ruangan itu tertawa mendengar ucapan Vera. Begitu pun Befan yang memilih untuk menunggu sampai istri bosnya lahiran. Lagi pula, dia juga membantu menenangkan ibu Hamidah yang sempat khawatir.


Di saat keadaan kembali hening, Vera teringat akan sesuatu.


“O, ya. Namanya siapa? Udah ada belum?” tanya Vera antusias.


Dera tampak berpikir, lalu menatap Daren dengan sorot mata seolah-olah bertanya.


“Zakira Elfia Algra dan Zanira Elfia Algra,” jawab Daren.


“Uwaw! Namanya lucu-lucu banget. Sesuai sama wajah mereka yang juga lucu!”


“Iya, Mas. Namanya bagus banget.” Dera menyentuh pipi Zakira, lalu melabuhkan kecupan di sana. Tidak lupa dengan Zanira, dia pun melakukan hal yang sama.


Utuh sudah kebahagiaan Daren dan Dera. Diberi dua makhluk kecil yang akan menemani hari-hari mereka dengan tingkah konyolnya. Daren memejamkan mata sejenak, melantunkan sebuah kata untuk orang tuanya.


 Cucu-cucu kalian sudah lahir, Bun, Yah. Mereka sehat-sehat dan tentunya sangat cantik-cantik. Kalian pasti bahagia di sana, sama seperti Daren.


**

__ADS_1


__ADS_2