Ketika Pamanmu Menjadi Pengantin Pengganti

Ketika Pamanmu Menjadi Pengantin Pengganti
Season 2: 5


__ADS_3

Kebahagiaan tidak akan sempurna jika salah satu hatinya sedang terluka. Dengan segera Daren mengajak sang putri untuk duduk kembali. Dia genggam tangan gemetar Zakira, mencoba untuk menenangkan gadis itu.


Daren belum ingin membuka suara sampai Zakira tenang lebih dulu. Biasanya wanita hanya ingin didengar tanpa disela, Daren tidak mau putrinya semakin merasa tertekan.


“A-ayah, kok, di sini?” Zakira mengusap wajahnya menggunakan punggung tangan.


“Bagaimana Ayah bisa menikmati pesta adikmu, jika ada seorang kakak yang sedang menangis di sini.”


“Kira baik-baik aja, kok, Yah,” kilah Zakira. Tersenyum dan pura-pura baik-baik saja.


“Terus kenapa nangis?”


Zakira bungkam. Pertanyaan sang ayah membuat dia ingin menangis lagi, tapi sebisa mungkin dia tahan karena tidak ingin membuat ayahnya khawatir.


“Zakira bahagia, ya. Akhirnya salah satu dari kami, ada yang akan melangkah ke jenjang lebih serius,” ungkap Zakira. Meskipun suaranya terdengar meyakinkan, tetapi tidak dengan sorot mata lemahnya.


Daren hanya mengangguk singkat. Dia harus memaklumi Zakira jika gadis itu tidak mau mengaku. Meskipun Daren merasa sakit saat melihat netra hitam legam itu, terasa banyak kesedihan dan kekecewaan.


“Oh, iya. Bunda nggak cariin aku, kan, ya?” tanya Zakira, mengalihkan pembicaraan agar tidak canggung lagi.


“Tadi nyariin. Sampai-sampai Bunda balik masuk ke dalam kamar yang dipergunakan untuk rias kamu tadi. Tapi ternyata sulungnya bandel, malah duduk di sini sendirian,” canda Daren sambil mencubit gemas hidung Zakira.


Gadis itu terkekeh, lalu mempererat genggaman tangannya pada sang ayah. Zakira menyandarkan kepalanya pada bahu Daren, menikmati suasana siang menjelang sore.


“Yah,” panggil Zakira.


“Iya, Sayang?”


“Waktu usia Kira masih sepuluh tahun, Ayah pernah bilang gini sama Kira, ‘kalau kita ikhlas, pasti Tuhan akan kasih yang lebih untuk kita’. Itu benar, kan, Yah?”


“Iya, benar. Tuhan mempersiapkan yang lebih baik, untuk seseorang yang sudah melapangkan hatinya untuk ikhlas. Jadi, kamu jangan takut. Kamu juga akan merasakan apa yang mereka rasakan. Paham, Sayang?”

__ADS_1


“Paham, Yah!” Zakira memeluk erat Daren.


Daren membalas pelukan Zakira. Keduanya menikmati waktu sore hari bersama. Setelah itu Daren mengajak Zakira ke kafe, memesan minuman kesukaan gadis itu.


🍁🍁


Menjelang magrib, Daren dan Zakira kembali ke atas dan menemui Dera. Wanita cantik kesayangan mereka sedang misuh-misuh, wajahnya kelihatan cemberut membuat keduanya terkekeh.


“Bunda khawatir, tau. Kalian ke mana saja, sih?” tanya Dera sambil melipat kedua tangannya di dada.


“Hihihi. Bunda lucu.”


“Malah meledek kamu, Kak. Jawab Bunda, abis dari mana?”


“Biasa, Bun, melipir ke kafe. Ayah, loh, yang ajak Kakak,” seru Zakira sambil tertawa.


Seketika Daren menggelengkan kepala, menatap gemas sang putri. Dia segera menangkap putri sulungnya itu, lalu mencubit kedua pipinya dengan gemas.


Ibu dan anak yang masih berpelukan, tertawa keras mendengar ucapan ayah.


Bahagiaku melihat tawa dan senyum kalian. Batin Zakira.


🍁🍁


Semua orang sudah kembali sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Siang itu dengan ditemani Mina, Zakira pergi ke supermarket. Gadis itu niatnya ingin membeli minuman dan makanan ringan.


“Dekat loh, tapi minta temenin,” keluh Mina.


“Kamu nggak ikhlas, ya?” tanya Zakira dengan wajah sendu.


“Astaga. Tidak, tidak. Sudah, ayo, jalan lagi.”

__ADS_1


Mina mendahului Zakira, tetapi langsung balik lagi karena gadis di belakangnya masih diam di tempat.


“Move on, Kira! Mikirin dia terus, ya!” teriak Mina.


“Hah? Mikirin dia? Siapa, sih, Mina?”


“Aku tahu kamu sedih, tapi jangan berkepanjangan gini. Sampai melamun terus. Di mana-mana melamun.”


Zakira menghela napas berat, berlalu mendahului Mina. Gadis itu mendadak kesal dan sedih, sampai dia tidak fokus dan menabrak orang.


“Aduh, maaf Mas, saya tidak sengaja,” ucap Zakira sambil menundukkan kepalanya.


“Lain kali hati-hati,” balas seseorang tersebut. Selanjutnya pria yang Zakira tabrak, berlalu pergi sebelum Zakira mengangkat kepala.


“Kira!”


“Kamu nggak apa?” tanya Mina khawatir.


“Aku baik-baik aja. Tapi, Mas tadi ke mana?”


“Udah pergi. Aku juga nggak lihat wajahnya, karena dia pakai masker.”


“Ya udah lah, nggak papa. Yang penting aku udah minta maaf,” ujar Zakira.


“Lain kali hati-hati. Untung manusia, bukan motor atau mobil.”


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2